Jumat, 25 November 2011

http://www.yousaytoo.com/ajaran-sri-sultan-hamengku-buwono-1antara-lain/757077

Rabu, 23 November 2011

=Pameran Budaya Kamoro (Papua) - grup seniman Kamoro & Dr. Kal Muller

WhenThursday at 6:30pm until Saturday at 8:00pm
Description
Karya Seni Etnik - Demo mengukir - Tarian tradisional - Diskusi

Pameran Budaya Kamoro (Papua)
« BERJUMPA DENGAN SUKU KAMORO »

Bersama grup seniman Kamoro (Papua) & Dr. Kal Müller (etnolog)

24 - 26 November 2011
CCCL, Jl. Darmokali 10 Surabaya

:::::::::::::::::::::

Pembukaan & Diskusi :
Kamis, 24 November
Pk. 18.30

Masuk GRATIS !


::::::::::::::::::::::

Program setiap hari pk. 10.00 & pk. 14.00 :
Pameran karya Seni Etnik - Demo mengukir - Tarian tradisional - Diskusi


* WHAT IS THIS ?
The Kamoro tribe from Papua is visiting us for 3 days: handcrafts sales, traditional dances and conferences are scheduled.

.....................

Misi Pusat Kebudayaan Prancis adalah mempromosikan budaya Prancis dan negara-negara frankofon, serta mengenal dan memperkenalkan budaya lokal. CCCL mengundang Anda untuk bertemu suku Kamoro (Papua).

Saat kami meminta Dr. Kal Müller, etnolog dan fotografer terkenal, untuk berbicara mengenai suku Kamoro, dia berkata :
« Suku Kamoro adalah suku yang penuh welas asih, dan tidak suka berperang ». Jumlah mereka sekitar 18.000 jiwa yang tersebar di pesisir selatan Papua tengah, 300 km di pinggir laut Arafura.

Ahli memahat kayu, warisan dari leluhur mereka, seniman dari suku Kamoro datang untuk memperkenalkan kemahiran mereka kepada Anda. Tarian, nyanyian, kostum dan musik tradisional akan menyemarakkan pameran budaya ini selama 3 hari di CCCL.

Dr. Kal Müller, petualang Amerika-Hungaria berusia 72 tahun yang hidup bersama suku Kamoro selama sekitar 20 tahun, akan menyertai mereka dan mengajak Anda untuk berdiskusi, untuk lebih memahami salah satu suku di Papua yang kurang dikenal di Indoenesia tersebut.


Acara ini terselenggara berkat kerjasama CCCL dengan PT. Freeport Indonesia


Info CCCL : 031 -5678639 / 5620079

Selasa, 22 November 2011

= PAMERAN ILUSTRASI CERPEN KOMPAS 2010

Wednesday, November 16, 2011 at 7:30pm until Thursday at 9:00pm
Description
BENTARA BUDAYA YOGYAKARTA

PAMERAN ILUSTRASI CERPEN KOMPAS 2010
Pembukaan pameran akan dilaksanakan pada:
Rabu/ 16 November 2011, pukul 19.30 wib
Bertempat di BBY Jln. Suroto No.2 Kotabaru, Yogyakarta
Telp : 0274-560404 Email: bby@bentarabudaya.com
Pameran akan dibuka oleh Putu Fajar Arcana

Pameran berlangsung dari tanggal 16-24 November 2011 pukul 09.00-21.00 wib.


Sejak tahun 2003, setiap hari Minggu pada rubrik cerpen KOMPAS dapat ditemui karya-karya sastra yang disertai karya seni rupa. Sekilas pandang, karya-karya seni rupa tersebut sekedar menjadi ilustrasi (usaha memberi bentuk rupa) dari karya sastra cerpen yang dimuat. Di luar perdebatan mengenai kualitas karya dan fungsi serta posisi ilustrasi di rubrik cerpen KOMPAS, sebenarnya karya-karya visual yang dicetak dalam lembaran kertas koran tersebut bisa menjadi tawaran cara untuk mempermudah akses dalam menikmati karya seni rupa. Kalau sebelumnya karya-karya dari perupa-perupa yang diundang untuk membuat ilustrasi hanya bisa dinikmati di ruang-ruang khusus, semisal galeri, dengan adanya proses reproduksi di kertas koran telah membuka peluang untuk bisa dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.
Setelah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Bentara Budaya Bali, dan Balai Soedjatmoko, pada kesempatan kali ini, Bentara Budaya Yogyakarta akan memamerkan karya-karya ilustrasi cerpen KOMPAS tahun 2010 dalam ukuran aslinya sekaligus dengan karya sastra cerpen KOMPAS. Ilustrasi cerpen KOMPAS 2010 yang akan dipamerkan kali ini adalah karya dari: Ade Darmawan, Agus ‘Baqul” Purnomo, Aiko Urfia Rakhmi, Albert Yonathan Setyawan, Angki Purbandono, Arief Tousiga, Arya Panjalu, AS Kurnia, Baihaqi Hasan, Bambang BP, Bob ‘Sick’ Yudhita Agung, Bunga Jeruk, Danarto, Dewa Ngakan Made Ardana, Eddi Prabandono, Eko Nugroho, Farhan Siki, G.H.O.S.T, Guntur Timur, Gusmen Heriadi, Hanafi, Herra Pahlasari Saefullah, Hojatul, I Made Arya Palguna, I Putu Edy Asmara Putra, I Wayan Suja, I Wayan Wirawan, Indra Ameng, Ipong Purnama Sidhi, Ivan Hariyanto, Jeihan Sukmantoro, Jerry Aurum, Koeboe Sarawan, Laksmi Shitaresmi, Nano Warsono, Nuri Fatimah, Nus Salomo, Nyoman Sudjana Kenyem, Ong Hari Wahyu, Oomleo, Polenk Rediasa, Setyo Priyo Nugroho, Soni Irawan, Syaiful Aulia Garibaldi, Tiarma Dame Sirait, Tromarama, Ugy Sugiarto, Wiyoga Muhardanto.

= HotWave #3 Exhibition and Presentation of Artists in Residence

Today at 7:30pm until Wednesday, November 30, 2011 at 10:30pm
Description
[ID] Scroll down for English

HotWave #3
Pameran dan Presentasi Seniman Residensi
23 - 30 November 2011

Pembukaan
Rabu, 23 November 2011 | 19.30
Diskusi
Selasa, 29 November 2011 | 19.30

---

Esther Kokmeijer
Selama masa tinggalnya, Esther Kokmeijer (lahir di Dokkum, Belanda, 1977) terpesona oleh garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi dan laut Selatan dengan Keraton Yogyakarta sebagai titik pusatnya. Esher meneliti aspek yang menyatukan mitologi dan geografi, bagaimana mitos membentuk lanskap di sekitarnya dan pada gilirannya dibentuk olehnya. Karya-karyanya berdasarkan pada mitos yang sudah lama dan baru terbentuk, dan akan disajikan dalam instalasi yang memetakan garis imajiner ini dengan cara yang puitis. Dalam karyanya “The more you take, the more I give”, dia menunjukkan bagaimana mitos melibatkan kehidupan sehari-hari dan merupakan bagian dari politik, roman, pendidikan dan kekuasaan. Hal ini divisualisasikan dengan intervensi di lanskap, karya patung dan foto.
Selain itu, Esther akan menyajikan desain untuk sebuah paviliun bukti evakuasi di lereng Gunung Merapi, yang berdasar pada gaya gaya arsitektur lipat. Desain ini menjadi kontribusi atas keterlibatannya dalam masyarakat di desa Kinahrejo yang hancur dalam letusan Merapi tahun 2010. Untuk menunjukkan struktur dasar dari paviliun ini, Esther hendak mengubah kebun pisang di samping Rumah Seni Cemeti menjadi ruang publik.
www.estherkokmeijer.nl

----

Leonardiansyah Allenda
Konsep arsitektural keraton dan mitos garis imajiner, menjadi hal yang menginspirasi leo dalam mempertanyakan: Bagaimana budaya ini meruang dan berintereksi dengan budaya saat ini? Selama proses residensi, Leo mencoba menangkap perasaannya ketika masuk dalam komunitas yang masih kental dengan budaya Jawa. Nilai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh keraton pada masa lampau sangat mempengaruhi pola pikir dan identitas masyarakat Yogyakarta. Proses akulturasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar yang menjadi poin dalam karyanya. Leo mencoba memanipulasi fungsi ruang dengan berbagai teknik termasuk bayangan cermin, mural dan instalasi. Karya-karya Leo kemudian menjadi bagian dari penelitiannya mengenai struktur di balik budaya Jawa.
Leonardiansyah Allenda (lahir di Banyuwangi 1984) menyelesaikan studinya di jurusan Patung, Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam banyak karyanya, Leo menggali hubungan timbal balik antara ruang dan manusia. Leo tinggal dan bekerja di Bandung, Indonesia.
http://lallenda.blogspot.com/

---

Nathan Gray
Apakah Jawa ada? Jika ada, apakah ini Jawa yang nyata atau Jawa “bajakan”? Bagaimana kita bisa menolak apa yang tidak ada? Residensi Nathan telah menjadi suatu penyelidikan material dalam buku bajakan, fitness rumahan, sampah musik dan sifat optik dari bambu. Dari penyelidikan itu Nathan membangun Kamp Pelatihan Teoretikus, tempat untuk mengasah keterampilan kita sebagai orang kuat, musisi dan pemikir. Berolahraga, berlatih, belajar; Kamp Pelatihan Teoretikus adalah tempat untuk melatih persepsi, estetik dan politik, mempersiapkan kita untuk bertahan hidup di segala kemungkinan Jawa yang ada.
Nathan Gray (lahir in Perth, Australia, 1974), seorang seniman dan musisi yang dalam praktik berkaryanya berusaha untuk memperluas proses musik eksperimental ke komposisi visual dan spasial, serta bentuk-bentuk sosial ke dalam model untuk kolaborasi. Nathan tinggal dan berkarya di Melbourne, Australia.
www.thebiclops.blogspot.com

---

Melalui program residensi HotWave, Rumah Seni Cemeti bermaksud memfokuskan pada pentingnya praktik seni dengan perhatian pada proses-proses seni serta pengalaman-pengalaman sosial dan inovatif. Selama tiga bulan, seniman dari Indonesia, Belanda, dan Australia diberi kesempatan untuk berkonsentrasi dalam berkarya, melakukan eksperimen dan berinteraksi dengan seniman lain, kalangan profesional dan komunitas tertentu. Model yang berbeda dieksplorasi dengan tujuan untuk bekerja pada wacana kritikal dan bentuk seni visual yang beragam.

HotWave #3 merupakan program residensi yang diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti bekerja sama dengan Heden, Den Haag, Belanda, dan Asialink, Australia. Program ini didukung oleh Heden - Den Haag, Program Pengembangan & Kebudayaan, Kedutaan Besar Belanda - Jakarta, Asialink - Australia, Arts Victoria, dan Australia - Indonesia Institute.
Program residensi HotWave #3 berlangsung selama tiga bulan dari bulan September hingga November 2011 di Rumah Seni Cemeti.

--------------------------------------------------------------

[ENG]

HotWave #3
Exhibition and Presentation of Artists in Residence
23 - 30 November 2011

Pembukaan
Wednesday, 23 November 2011 | 19.30
Diskusi
Tuesday, 29 November 2011 | 19.30

---

Esther Kokmeijer
During her residency Esther Kokmeijer (born in Dokkum, The Netherlands, 1977) became fascinated by the imaginary line that connects the Merapi Volcano and the South Sea, with the Yogyakarta Palace as the central point. She researched the unifying factor between mythology and geography, how myths shape the surrounding landscape and in turn are shaped by it. The works she creates are based on both old and recently formed myths, and will be presented in an installation charting this imaginary line in a poetic way. In the work “The more you take, the more I give” she shows how myths involve daily life and are part of politics, romance, education and power. This is visualized by interventions in the landscape, sculptural works and photographs.
She will also present the design for an evacuation proof pavilion on the Merapi Volcano, based on foldable architecture. This design is her contribution to the village of Kinahrejo, destroyed in the 2010 eruption. The banana garden next to Cemeti Art house will be turned into a public space to show a basic structure of this pavilion.
www.estherkokmeijer.nl

---

Leonardiansyah Allenda
The architectural concept of the palace and the myth of an imaginary line have inspired Leo to question: How did this culture form and interact with the current culture? During his residency Leo tried to capture his feelings about the strength of Javanese culture. The value of Jogjakarta's inherited royal tradition has greatly influenced the identity of its people. This acculturation is the fundamental concern in Leo's recent set of works. Leo's spatial interventions seek to subtly alter the function of rooms. He uses a number of techniques for this purpose including mirroring, mural, and sculptural installation. His work is an examination of the structures beneath Javanese culture.
Leonardiansyah Allenda (born in Banyuwangi, Indonesia, 1984) completed his studies in Sculpture at the Bandung Institute of Technology (ITB). In many of his works, Leo explores the relationships between humans and spaces. Leo lives and works in Bandung, Indonesia.
http://lallenda.blogspot.com/

---

Nathan Gray
Does Java exist? If it does, is this the real Java or is it a pirate copy? How can we resist what does not exist? Nathan's residency has been one of material investigation into bootleg books, home gyms, musical junk and the optical properties of bamboo, out of which he has built a Theorist Training Camp, a piece to hone your skills as a strongman, musician and thinker. Working out, practicing, studying; Theorist Training Camp is a place for training perceptions, aesthetics and politics, to prepare us for survival in all possible Javas.
Nathan Gray (born in Perth, Australia, 1974) is an artist and musician whose practice seeks to extend the processes of experimental music into visual and spatial composition, and its social forms into models for collaboration. Nathan lives and works in Melbourne, Australia.
www.thebiclops.blogspot.com

---

Through the HotWave residency program, Cemeti Art House intends to focus on the importance of art practice with an emphasis on the art processes and social, innovative experiences. For three months, artists from Indonesia, the Netherlands, and Australia were given the opportunity to concentrate on work, experiment and interact with other artists, professionals and spesific communities. Different models are explored in order to work on critical discourse and diverse forms of visual art.

HotWave #3 is a residency program organized by Cemeti Art House and Heden, The Hague (The Netherlands), and Asialink, Australia. This project is supported by Heden, The Hague (The Netherlands) and the Cultural and Development Program, The Netherlands Embassy in Jakarta (Indonesia), Arts Victoria, and Australia - Indonesia Institute.
HotWave #3 residency program took place for three months from September to November 2011 at Cemeti Art House.

=PENTAS BESAR TEATER EMKA "BARABAH"

Where
GSG TBRS Semarang
Description
PENTAS I :
16 NOVEMBER 2011, FAKULTAS KEDOKTERAN UNSOED
19.00 WIB

PENTAS II :
23 NOVEMBER 2011, TAMAN BUDAYA RADEN SALEH (TBRS)
19.00

HTM : 5000


yang ngga bisa dateng ke purwokerto,, sok atuh dateng ke semarang,,, :)
kami tunggu partisipasinya!!!

salam budaya!!

Minggu, 20 November 2011

= In Exile: Inner Sanctum

oday at 5:00pm until Friday, December 2, 2011 at 8:00pm
Where
Lir Space, Jl.Anggrek 1/33, Baciro, Yogyakarta
Description
"In Exile: Inner Sanctum"
Visual Art Exhibition by Bagus Wiratomo

Opening:
Sunday, November 20, 2011
05.00 pm
at
Lir Shop
Jl.Anggrek 1/33 Baciro-Yogyakarta


Exhibition:
November 20-December 2, 2011

Be there!

= Pengobatan Kanker