Kamis, 29 September 2011

= NATURE GIVE US POWER EXHIBITION

ime
Wednesday, September 28 at 6:30pm - October 5 at 10:00pm
Location
green black cafe jl. kol HR Hadijanto Banaran Gunungpati Semarang
Created By
Karamba Art
For YES! WE ARE KARAMBA ART MOVEMENT
More Info
NATURE GIVE US POWER EXHIBITION

opening : 28 september 2011, 18.30 until end

at green black cafe

jl. kol HR Hadijanto Banaran Gunungpati Semarang


exhibition will be held until 5 october 2011

open everyday, 18.00 - close
info : 085641041191

= Pemesanan buku SEJARAH REMPAH karya Jack Turner

Time
Wednesday, September 28 at 2:00pm - October 31 at 5:00pm
Location
Komunitas Bambu, Depok (Delivery Service)
Created By
Komunitas Bambu Full
More Info
Judul: Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme
Penulis: Jack Turner
Harga: Rp. 110.000
Harga Diskon: Rp.82.500 (belum termasuk ongkos kirim)

Testimoni:

Kepiawaian bercerita Turner membuat sejarah rempah-rempah dari masa lalu seperti hadir dan mengalir dalam kekinian - The Christian Science Monitor

Mengagumkan, kedalaman studi Turner tentang rempah terasa dalam tiap halamannya - The Newyorker

Sinopsis

Rempah-rempah punya sejarah panjang dan fantastis. Jack Turner mencoba menuliskan rekam jejaknya dan melalui gaya narasi sastera yang jenaka, ia berhasil menyajikan suatu kisah yang luas dan sangat informatif. Turner mengangkat rentetan kesalahpahaman ihwal rempah-rempah yang terjadi di masa lalu dan menceritakan berbagai peristiwa secara detail serta kronologis yang terkait dengan pencarian dan penggunaannya.

Rempah-rempah memberi pengaruh terhadap tokoh-tokoh penting sehingga dalam sejarah mereka akhirnya dikenal sebagai pengubah sejarah dunia, mulai Yesus Kristus, Ibnu Sina sampai gadis-gadis Spice Girls. Dari Firaun Ramses hingga Marco Polo, Christopher Columbus, dan Vasco da Gama. Ketika kawasan dunia terancam penyakit – seperti epidemi pes di Eropa pada abad ke-16 – rempah-rempah oleh dunia pengobatan dianggap mujarab sebagai penangkalnya. Terlebih menarik lagi adalah ketika Turner juga memaparkan kaitan rempah-rempah dan sejarah erotisme. Terkuaklah bagaimana kisah penggunaan rempah-rempah dalam praktek sexual magic yang bertujuan untuk meningkatkan gairah, keperkasaan, menggaet perempuan, dll. Praktek yang dimulai di Jazirah Arabia di antara para syeikh kemudian dicontoh secara besar-besaran di Benua Eropa.

Mungkin terasa berlebihan jika membaca pada masa lalu rempah-rempah disebut sebagai “buah dari surga” atau “punya kekuatan sihir”, tetapi cobalah percaya betapa nyata bagaimana rempah-rempah yang itu mengubah peta sejarah dunia.


Pesan buku SEJARAH REMPAH dan dapatkan diskon30% untuk buku-buku bertema sejenis berikut ini:

1. Kepulauan Nusantara (Alfred Russel Wallace); Harga: Rp. 225.000

2. Sumatera Tempo Doeloe (Anthony Reid); Harga: Rp. 95.000

3. Singapura Tempo Doeloe (John Bastin); Harga: Rp. 85.000

4. Peradaban Jawa (Supratikno Rahardjo); Harga: Rp. 110.000

5. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut ( AB Lapian); Harga: Rp. 75.000

6. Pelayaran dan Perniagaan (AB Lapian); Harga: Rp. 40.000

7. Nusantara dalam Catatan Tionghoa (W.P. Groeneveldt); Harga: Rp. 45.000

8. Orang Arab di Nusantara (L.W.C. van den berg);Harga: Rp. Rp 60.000

9. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau (Christine Dobbin); Harga: Rp.80.000

10. Portugis dan Spanyol di Maluku (M.Adnan Amal); Harga: Rp.90.000


Cara pemesanan:

Pemesanan indent buku ini berlaku hingga tanggal 31 Oktober 2011
Pemesanan Buku dapat dilakukan melalui:
Telepon/Fax: 02177206987
Sms : 0813 8543 0505
Email: komunitasbambupemasaran@yahoo.com

Sebutkan nama, alamat pemesanan,nomor yang bisa dihubungi (jika memesan lewat email dan telepon), jumlah eksemplar

= ART SHOW TUBUH-TUBUH MARGIN

Time
Monday, September 26 at 8:00pm - October 10 at 6:00pm
Location
Philo Art Space
Jl Kemang Timur 90 C
Jakarta, Indonesia
Created By
Amalia Ahmad
More Info
Tubuh-Tubuh Marjin by Nurul Hayat (Acil), Multazam Kamil, Moch Basori, Priyaris Munandar (Aris), Iqrar Dinata

Lama sekali tubuh dipinggirkan dalam sejarah peradaban. Tubuh dianggap sumber masalah atau penghalang bagi cita-cita ideal manusia terutama bagi masyarakat yang bersandarkan moralitas agama dan filsafat idealisme. Agama-agama samawi jelasnya terutama dalam berbagai perbedaan pandangan satu dengan lainnya sepakat atas yang satu ini, tubuh adalah sumber dosa! Pandangan seperti ini sejajar dengan doktrin dualisme filsafat Plato yang jelas-jelas mendiskreditkan tubuh sebagai “penjara bagi jiwa”.

Tubuh menjadi target persepsi yang sudah dikonstruksi bahwa dia harus ditaklukkan! Bahkan tubuh menjadi bagian yang dianggap paling representatif untuk diangkat sebagai komoditi kekuasaan, khususnya dalam pemaksaan demi penundukan dan pendisiplinan. Tubuh harus dihajar jika perlu disiksa agar muncul ketakutan lalu tunduk dan bagaimana jika sang tubuh terus membangkang? Tak ada kata lain, “dihapuskan”!

Bagaimanapun sejarah peradaban menunjukkan bahwa tidak begitu mudahnya tubuh tertundukkan. Tubuh memiliki banyak aspek yang senantiasa berkelit dan bisa memampukannya luput dari target ideal yang seringkali demikian menakutkan. Jika jiwa yang menjadi lawan tubuh maka jiwa seringkali bertindak sebagai pendendam untuk melenyapkan tubuh secara serta-merta.

Dalam Pameran Lukisan di Philo Art Space, kelompok lukis yang menamakan dirinya Fighting Cocks (Acil, Aris, Basori, Zam Kamil , plus Iqrar Dinata) menampilkan tema lukisan mereka tentang tubuh (manusia), tubuh dengan berbagai tantangan dan persepsi namun mengarah pada problem yang sama tubuh-tubuh dalam “garis batas”, Tubuh-Tubuh Marjin (margin). Tubuh-tubuh yang biasanya bertebaran di dalam wilayah yang cenderung tertaklukkan. Tubuh-tubuh yang mencoba menggeliat untuk eksis, tubuh-tubuh yang mencoba terus survive!

Pada lukisan-lukisan Acil diperlihatkan bagaimana tubuh terperangkap dalam ruang-ruang yang terkesan demikian formalistik dan struktural. Nampaknya relasi ruang-ruang itu fleksibel bagi dirinya sendiri namun justru itulah yang menyebabkan manusia nyaris terabaikan di sana. Secara cukup transparan di sini bahwa pada kenyataan bukanlah jiwa yang terpenjara oleh tubuh melainkan sebaliknya. Idealitas ruang kehidupan sudah demikian kuat menutup kemungkinan tubuh-tubuh kongkrit mencari jalannya sendiri.
Senada dengan ini kita bisa simak pula napas lukisan-lukisan Aris.

Tubuh-tubuh di sana memperlihatkan ketakberdayaannya dalam struktur sosial yang nyaris tak memungkinkan tubuh individual sebagai subjek perubahan muncul dan merdeka. Tubuh sudah terkonstruksi demikian rupa ke dalam bagian-bagian komunitas yang malah terbuka atau kemungkinan hanya mampu bergerak sesuai dengan panggilan alam.

Pada lukisan-lukisan Iqrar Dinata sejarah tubuh diekspos terang-benerang. Sedari masa kecil seseorang sudah dibuat mau jadi apa, diobjektivikasi sesuai dengan idealitas system dan dimatangkan oleh pengawasan dan penghukuman. Biasanya apa yang dihasilkan dari konstruksi sosial ini tak lain ialah kekerasan atas tubuh. Tubuh sosial adalah sebuah pencapaian kekerasan yang dilakukan sejak kecil dan tubuh yang lebih tak berdaya adalah tubuh perempuan.

Zam Kamil mengambil sisi relasi antar individu yang beraromakan hasrat bagaimana tubuh menjadi penting. Ada sosok maestro Vincent van Gogh disentil sebagai ikon bagi “hasrat kegilaan” sang tubuh yang memang aneh di dalam sejarah peradaban. Senyatanya ikon itu bisa dibaca sebagai reaksi yang sangat waras bagi peradaban yang tak lagi mempedulikan bagian detil dari tubuh, peradaban tak lagi merasakan bagian yang sakit dari tubuh dan bagaimana kita menyaksikan sebuah kematian rasa tubuh kita sendiri hanya apabila kita terlalu pasif atas idealitas norma-norma sosial. Zam Kamil justru ingin merayakan hasrat yang nyaris punah itu.

Sementara Basori focus pada hubungan tubuh dengan waktu, berpacunya tubuh dengan gerak waktu yang memang merupakan tema kontemporer yang gamblang. Ada sesuatu yang menarik bahwa berpacunya tubuh dengan waktu ternyata menghasilkan hilangnya relasi kita dari tempat asal kita yakni “rumah alam”. Manusia kontemporer telah kehilangan aura romantisisme? Apa sesungguhnya yang ia kejar? Mungkin ia sendiri tak tahu jawabnya kecuali harus berpacu dengan dan bersama waktu!

Selamat berpameran
Tommy F Awuy
Kurator

= ASIA TRI JOGJA 2011, 28 - 29 September 2011

Time
Wednesday, September 28 at 3:00pm - September 29 at 10:00pm
Location
Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, Yogyakarta - Indonesia
Created By
Bambang Paningron
More Info
Festival Asia Tri adalah sebuah festival seni pertunjukan yang diprakarsai oleh seniman-seniman tiga negara, yaitu : Korea, Jepang dan Indonesia (Yogyakarta). Pemrakarsa festival tahunan ini adalah Yang Hye Jin dari Korea, Soga Masaru dari Jepang, dan Bimo Wiwohatmo dan Bambang Paningron dari Indonesia (Jogja). Festival ini pertamakali diselenggarakan di Seoul, Korea pada bulan Oktober 2005.

Asia Tri Jogja Festival 2011 berupaya menumbuhkan rasa solidaritas dikalangan seniman-seniman Asia dan merupakan media silaturahmi budaya antar bangsa yang pada akhirnya akan bermuara pada tumbuhnya saling pengertian antar budaya yang berbeda.

Sekalipun diprakarsai oleh tiga negara, namun pada dasarnya festival ini sangat terbuka bagi seniman-seniman dari negara manapun dengan tidak memandang suku, ras dan latar belakang agama. Tahun ini ATJ 2011 akan dihadiri oleh seniman-seniman : Jepang, Korea, USA, Belanda dan seniman2 Indonesia dari : Jakarta, Cirebon dan Komunitas Kaliurang.

PROGRAM :

28 September :

15.00 wib : Taman Bermain Kaliurang - Open Stage.
Snuff Puppets
Komunitas Kaliurang

19.00 wib : Museum Ullen Sentalu - Open Stage
Sanggar Tari Ullen Sentalu
Anouk Wilke
Mao Arata
Jun Amanto
Kun Yang Lin
Michael Sakamoto

29 September :

19.00 wib : Museum Ullen Sentalu
Nani Topeng cirebon
Natsue Yamaguchi
Naomi Mirian
Yang Hye Jin
Mila Rosinta-TDC
Min Jung Oh
SpooRs StaRs

FREE Ticket....

Minggu, 25 September 2011

=KONGGRES SASTRA JAWA III

Time
Friday, October 28 at 8:00am - October 30 at 4:00pm
Location
Taman Wisata Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur
Created By
Bonari Ne
More Info




Nomor : 17/PAN/KSJ/06/2011
Sifat : Penting
Hal : UNDANGAN


K e p a d a
Ingkang kinurmat
Kangmas Nurochman Sudibyo
Mbah Diyah Setiowati
Di Tegal


Salam taklim,
Lumantar serat menika keparenga kula atur pawarta mbokbilih KONGGRES SASTRA JAWA (KSJ) III badhe kagelar ing Bojonegoro (28 – 30 Oktober 2011), dipunembani dening Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) dalasan Dinas Budaya & Pariwisata Kabupaten Bojonegoro. Jadwal acaranipun saget panjenengan priksani ing walikipun serat menika.

Panitia KSJ III nyuwun rawuh panjenengan saprelu ngombyongi lan nggiring lumampahing Konggres wiwit purwa dumugi purna. Namung, mugi panjenengan dhanganing panggalih, awit cupetipun bunci prabeya kangge acara menika, para rawuh dipunsuwun urun prabeya Rp 100.000 (setunggalatus ewu rupiyah)/priyantun –sampun kalebet kangge mbabar buku Crita Cekak lan buku Guritan KSJ III. Urunan prabeya saget kakintun lumantar Rekening Bank JATIM Cabang Bojonegoro No Rek.0082651039 atas nama Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro.

Panitia nyuwun supados panjenengan enggal kintun katrangan lumantar layang setrum (email) sastrajawa@yahoo.com LAN sastrajawa2011@gmail.com UTAWI lumantar nomer tilpun +62818374138 (Bonari). Yen ngantos 20 September 2011 dereng wonten katrangan saget rawuh utawi boten, Panitia badhe ngaturaken jatah kursi panjenangan dhumateng priyantun sanesipun.

Sarat salajengipun, enggala panjenengan kintun guritan cacah 5 (saget ingkang sampun kapacak ing ariwarti/kalawarti utawi ingkang enggal/dereng kapacak) UTAWI setunggal CRITA CEKAK lumantar layang setrum ingkang sampun kasebat wau, satelat-telatipun ugi tanggal 20 September 2011.

Makaten, maturnuwun.


Taklim kula,
KETUA PANITIA KSJ III



Bonari Nabonenar

Sabtu, 24 September 2011

= Akademika Bentara Diskusi "Local Knowledge"

Time
Sunday, September 25 · 3:00pm - 6:00pm
Location
Bentara Budaya Bali
Jalan Prof Ida Bagus Mantra No 88 A, By Pass Ketewel
Created By
Bentarabudaya Bali
More Info
Akademika Bentara Diskusi "Local Knowledge" Reposisi Bahasa Rupa Tradisi dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer

Minggu, 25 September 2011
Pukul 15.00 WITA
Pembicara : I Wayan Seriyoga Parta dan Seniman Peserta Pameran

Sebagai upaya pemaknaan atas Pameran Seni Rupa "Local Knowledge" yang telah digelar pada Sabtu, 24 September 2011, BBB mengadakan Akademika Bentara, sebentuk diskusi yang akan mengulas lebih jauh tentang karya-karya, proses kreatif, perkembangan kesenian dan wacana lain yang masih berkaitan dengannya.

Walaupun kreativitas para seniman yang berpameran ini dekat dengan semangat inovasi dan ekspresi individualitas seni rupa modern, namun ciptaan mereka yang beranjak dari bahasa rupa tradisi dan berkarya secara otodidak, lebih banyak dibaca sebagai hasil dari material culture (artefak kebudayaan) pada pembacaan antropologi dan etnografi.

Artinya karya-karya mereka tidak dianggap sebagai karya seni dalam persepsi seni rupa modern. Di sisi lain, dalam semangat avantgarde, seni rupa modern menginginkan seni rupa memiliki otonomi sendiri dengan terobosan-terobosan instrinsik dengan pencapain estetik yang otentik. Seni rupa modern di Barat berkembang tidak saja dalam semangat otonomi penciptaan, namun juga menjelma menjadi institution of modern art yang terdiri dari; museum, art critigue, art theories, art auction dan gallery, di mana di situlah nilai-nilai seni rupa dikonstruksi.

Institusi tersebut menetapkan standar tinggi untuk mengggolongkan mana karya-karya yang dapat dipandang sebagai karya seni rupa modern. Meski karya seni rupa telah memakai bahasa rupa “modern” seperti karya abstrak di luar (Eropa dan Amerika), namun ternyata tidak lantas disebut sebagai karya seni rupa modern. Terlebih lagi bagi karya-karya yang memperlihatkan keterkaitan dengan bahasa rupa etnik tertentu, tentu tidak akan pernah dianggap sebagai karya seni. Jika persepsi ini terus diwarisi dalam perkembangan seni rupa, maka karya-karya seniman yang hadir dalam pameran ini tidak akan bisa diakui sebagai karya seni rupa. Diskusi ini bertujuan mengkaji posisi seni rupa yang dekat dengan tradisi (Bali) terkait konstelasi wacana seni rupa kontemporer. Sebab, bukankah konon perkembangan seni rupa pasca modern atau kontemporer ini juga membawa demokratisasi yang mengakomodir berbagai perkembangan yang terjadi dalam seni rupa?

Kamis, 22 September 2011

=MEET AND GREET WITH YUDHIE

October 8Novena Ulita
Dalam rangka Launching album solo gitar Yudhie yang ke-3 mengundang...rekan2 pers.... pada :
MEET AND GREET WITH YUDHIE
MINGGU / 9 OKTOBER 2011 / Kedai Kita Cafe / Jl. Perumnas Mundu 249b Seturan Yogyakarta / pk.19.30 WIB