Jumat, 02 April 2010

= "WELCOME TO THE FAMILY" solo exhibition by M.Lugas.Syllabus

"WELCOME TO THE FAMILY" solo exhibition by M.Lugas.Syllabus



Waktu Mulai:
24 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
24 April 2010 jam 12:00
Tempat:
ART SEASON
Nama Jalan:
JL. PERMATA BERLIAN V - PERMATA HIJAU.



"WELCOME TO THE FAMILY"
friendship make a family, family make a power!

SOLO EXHIBITION OF M.LUGAS.SYLLABUS
CURATED BY SUWARNO WISETROTOMO
WRITTEN BY CASSANDRA SCHULTZH, RICHELE SPENCE, KANA FUKUSHIMA.
"painting-scupture-instalation-video art-art photograpy-

performance art by Buyung mentari
music by : Eduardo michelangelo branchi
M. Chika pradana

= RETURN TO THE ABSTRACTION

RETURN TO THE ABSTRACTION



Waktu Mulai:
18 Maret 2010 jam 18:30
Waktu Selesai:
10 April 2010 jam 17:00
Tempat:
TONYRAKA ART GALLERY



RETURN TO THE ABSTRACTION

Tony Raka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali
18 Maret-10April, 2010

Kurator :
I Wayan Seriyoga Parta

Dibuka Oleh:
Jean Couteau

Diskusi kurator dan artists tallk, dengan tema:
Kesinambungan seni abstraksi Bali
Tanggal 21 Maret 2010, Jam 15.00 Wita

Pembicara: Kurator dan Para Seniman
Penanggap:
- Jean Coeteau
- Hardiman



Seniman:


1. I Nyoman Erawan
2. I Wayan Darmika
3. I Made Wiradana
4. I Ketut Tenang
5. Gusti Alit Cakra
6. I Ketut Susena
7. I Made Sumadiyasa
8. I Made Mahendra Mangku
9. I Wayan Sujana “Suklu”
10. I Nyoman Sujana “Kenyem”
11. I Made Supena
12. Putu Sudiana “Bonus”
13. I Made Wiguna Palasara
14. I Made Budi Adnyana
15. I Ketut Teja Astawa
16. I Made Galung Wiratmaja
17. I Made Dyanna
18. I Made Suarimbawa “Dalbo”
19. I Wayan Setem
20. I Made Uuk Paramahita
21. I Kadek Susila Dwiyana
22. I Putu Suardana“Vijie”
23. Willy Himawan
24. Rio Saren


ABSTRAK

Kesadaran para seniman Bali akan ruang dan komposisi sangat lekat dari karya-karya tradisi atau pra modern hingga saat ini. Jika umumnya dalam karya tradisi kesadaran itu bersifat sub conscious (bawah sadar) terjewantahkan secara langsung dalam gerak aktivitas kesenian yang mereka laksanakan. Umumnya ruang dan komposisi bersifat simbolik dalam artian memiliki nilai, hal ini bersifat otomatis dan kerap tidak disadari.
Kedasaran ini terasa kuat dalam karya-karya seniman Bali yang melukis secara abstraksi, mereka tumbuh dari ranah akademis dimana mereka diperkenalkan dengan kaidah-kaidah formal dan estetika seni rupa modern. Seperti halnya dalam perkembangan seni modern Indonesia prinsip-prinsip modernisme tersebut tidak dianut sebagai ideologi, apalagi ideologi seni rupa yang berujung pada formalisme seperti di Barat. Spirit inilah yang mendasari perkembangan seni lukis yang melakukan abstraksi bentuk yang berkembang di Bali sejak tahun 1980-1990an yang menyerap spirit penggalian esensi seni modern. Akan tetapi tidak secara penuh menyerap prinsip avant garde, sehingga menjadikan karya-karya abtraksi ini justru sarat dengan muatan-muatan kultural dan spiritual. Presentasi karya-karya mereka menghadirkan nilai-nilai simbolik, dan juga metafora.
Dan ketika seni rupa kontemporer merayakan kecenderungan representasi realitas serta meninggalkan upaya dalam mencari yang esensi, karya-karya abstraksi masih dengan setia digeluti oleh beberapa seniman Bali khususnya. Pertanyaanya adalah, kenapa hal ini terjadi? Asumsi saya; sesungguhnya bawah sadar seniman Bali kesadaran akan ruang terus diwarisi bahkan dalam generasi seniman kontemporer sekalipun, ini yang memunculkan kekhasan karya-karya abstraksi dari seniman Bali. Dan sangat sulit mereka ejawantahkan ke dalam karya-karya representatif (realisme). Jadi singkatnya ada geneologi didalam perkembangan dan struktur ruang dalam karya-karya seniman Bali kontemporer yang menekuni abstraksi serta masih dapat ditelusuri jejaknya dari karya-karya sebelumnya. Melalui pameran ini konsep dan pemikiran pada seni lukis abstraksi Bali akan coba ditelusuri.


Abstract
The Balinese artists’ awareness of space and composition exist through the tradition or pre- modern works to the present. If generally that awareness in the tradition work is sub conscious directly perform in their daily artistic activity moving. Commonly the space and the composition are symbolic, in the sense of having a value; it is automatically and often unconscious.
This awareness felt strongly in the art work of Balinese artists who painted in abstraction, they grew from the academic realm where they were introduced to the formal rules and aesthetic of modern art. Just as in the development of Indonesian modern art, those modernism's principles are not embraced as an ideology, moreover art ideology that led to the formalism as in the West. The spirit that underlies the development of painting that did abstraction form developed in Bali since 1980-1990s, absorbing the spirit of modern art essence excavation. However, not fully absorb the principles of avant-garde, until making the abstracts works are precisely loaded with charges of cultural and spiritual. The presentation of their works represents symbolic values, as well as metaphor.
And when the contemporary art celebrate the tendency of representation and leave the efforts in seeking the essence, abstraction works still faithfully cultivated particularly by several Balinese artists. The question is, why did this happen? My assumption indeed subconscious awareness of Balinese artists of space will be inherited even though to the contemporary artists’ generation, which led to this distinctiveness of abstraction works of Balinese artists. In addition, that is difficult to be performed into representative works (realism). Briefly, there are genealogy in the development and structure of space in the works of contemporary Balinese artists who pursue an abstraction and still can be traced in its record of previous works. Through this exhibition, the concepts and ideas of Balinese abstract painting will be traced.

= Exposition "Poisson-chat d'avril" de Jérémy Taburchi

Exposition "Poisson-chat d'avril" de Jérémy Taburchi




Waktu Mulai:
01 April 2010 jam 10:30
Waktu Selesai:
15 April 2010 jam 18:30
Tempat:
Monaco



Jérémy Taburchi présente à la galerie L'Âge d'Airain l'exposition "Poisson-Chat d'Avril" ...

" Monaco est un micro-état, Monaco-Ville un micro-quartier, avec des micro-commerces, donc des micro-galeries. Il fallait que je présente des micro-toiles, au cours d'une micro-exposition. Les invités auront droit à une micro-coupe de champagne :) "

Retrouvez tous les détails de l'exposition sur http://www.poissonchatdavril.com

ATTENTION : Le vernissage sera sur invitation ! Mais vous pouvez passer les autres jours du 1er au 15 avril !

PRECISION N°1 : Le vernissage n'a pas lieu le 1er avril ! s'agissant d'une réception privée, les personnes invitées recevront un email ou un carton leur précisant la date.

PRECISION N°2 : Je compte organiser un vernissage "off" un midi pour ceux que ça intéresse, avec déjeuner à Monaco-Ville et une visite de l'expo de Damien Hirst au Musée Océanographique juste à côté de la galerie. Si des personnes sont intéressées, elles m'envoient un email.

PRECISION N°3 : Le parking conseillé est le suivant dit "des pêcheurs" :
http://documents.monaco-parkings.mc//park/_upl_Pecheurs%2012%200509.JPG
Celui indiqué sur le carton d'invitation semble réservé aux résidents locaux.

PRECISION N°4 : Je serai à la galerie l'Âge d'Airain ce samedi 3 avril après-midi pour accueillir les visiteurs dans le cadre de ce que l'on peut appeler un vernissage "off" ... Une agréable journée en perspective pour vous : mon expo, celle de Damien Hirst à 200 mètres de là et une visite du Rocher de Monaco.

= Moroccan Medley Joint Exhibition by Angie & Gregory Burns



Moroccan Medley Joint Exhibition by Angie & Gregory Burns





Waktu Mulai:
20 Maret 2010 jam 2:00
Waktu Selesai:
10 April 2010 jam 18:30
Tempat:
19 Tanglin Road, Tanglin Shopping Centre #02-41, Singapore 247909


During the blazing hot summer of 2008, International artist Gregory Burns and Photographer Angie Tan painted and photographed their way through Morocco. Based in Marrakech, the couple painted and photographed the life of the Medina and the desert Kasbahs.

Returning to Singapore after months abroad, the couple now proudly presents their joint exhibition, ‘Moroccan Medley’ at YANG GALLERY Singapore.

Kamis, 01 April 2010

= Evorah























EVORAH
Start Time:
Thursday, April 1, 2010 at 7:30pm
End Time:
Tuesday, April 13, 2010 at 8:00pm
Location:
Tujuh Bintang Art Space
Street:
Jl Sukonandi 7
City/Town:
Yogyakarta, IndonesiaEVORAH (Evil of Rabbit Head)Setan Berkepala Kelinci!.Membaca judul ini, setidaknya membuat kita mengeryitkan dahi atau bergumam dalam hati, “opo tho maksude?” apa maksudnya? Dari judul itu, seolah terbaca dua makhluk yang saling bertolak belakang di”kawin”kan pada satu situasi. Setan dan Kelinci, tentu mempunyai perbedaan yang sangat jauh bertentangan, dari sifat, fisik sampai alam hidupnya, jelas bertolak 180 derajat. Namun, sebenarnya bukan pada bagian itu fokus kita, tapi bagaimana penciptaan karya-karya mengagumkan dari seorang Kyre yang terbungkus dalam pameran tunggal bertitle “EVORAH (Evil of Rabbit Head)” dapat tersaji manis dihadapan kita, itulah yang menjadi sentral perhatian.Kyre?Siapa Kyre? Ialah Oky Rey Montha Bukit, seorang perupa muda yang menekuni ilmu Desain Komunikasi Visual di ISI Yogyakarta, juga penggiat komunitas seni Tempatkencink Visual Art Comunity Yogyakarta yang gemar membaca dan membuat komik. Selain namanya yang unik, kegiatan, minat studi dan hobi pemuda ini nampak biasa saja. Namun jangan dulu salah menerka, kesemua hal yang biasa dari dirinya itu menyimpan berbagai hal luar biasa. Hal-hal yang muncul dari dalam diri, melalui pengaruh luar, lingkungan, keluarga, atau pengalamannya. Semua hal itulah yang kemudian menjalari tiap nadi, syaraf ataupun pikiran dan hati orang muda ini sebagai “Racun”. Ya, racun yang baik, racun positive yang membawanya pada akumulasi ide brilliant.Kembali pada EVORAH, mengapa kemudian Kyre menamai pameran tunggalnya ini dengan sebutan demikian? Tak banyak yang tahu masa kelam Kyre belasan tahun dibelakang, masa dimana ia merasakan tekanan-tekanan, tekanan yang mengakumulasi terus-menerus dimasa lalunya itu berpuncak pada “perlakuan kasar” orang-orang terdekatnya. Mungkin disitulah tolak awalnya, perlakuan kasar itulah yang meracuni karya-karya Kyre. Dalam karya-karyanya, Kyre ingin melontarkan umpatan, ledekan, gumam, bahkan gurauannya pada masa silamnya yang kelam. Tapi kenapa bentuk demonstrasi hati bernada protes ditampilkan dengan warna-warna pastel yang cerah, lembut dan penuh hingar bingar? pengemasan ekspresi seperti itu sebagai rangkaian proses detaksikasi (proses membuat racun menjadi netral) dan tereduksi menjadi tawar, tak berbahaya. Sehingga seorang Kyre bebas membuat penegasan realisasi dirinya dalam karya, bahwa saat kemarahan “Setan” disajikannya diatas kanvas, dia ingin tetap menjadi kelinci yang menggemaskan, makhluk jenaka yang mampu menghibur siapa saja. Sungguh percikan ide yang luar biasa! Mari kita sama-sama selami kedalaman fikiran dan hati orang muda ini melalui deretan karya-karya istimewanya. Dan silakan bermain dengan fantasi Anda masing-masing.

= Making Video Klip " audisi "

Making Video Klip " audisi "

Date:
Saturday, April 3, 2010
Time:
6:00am - 7:00pm
Location:
parkir atas Ambarukmo Plasa
Street:
Jl Solo
City/Town:
Jogjakarta, Indonesia


Endank Soekamti making video klip " AUDISI " di parkir atas AMBARUKMO PLASA Sabtu, 03 - April - 2010 jam 7 pagi - selesai. Bawa atribut kamtis masing - masing daerah ( kaos, bendera, iket kepala, dll ) . Jangan lupa mandi dan dandan yang ganteng hehe.... jangan terlambat toss....

= Alun dan Pusaran: AT Sitompul Menghela Seni Grafis

Alun dan Pusaran: AT Sitompul Menghela Seni Grafis

Start Time:
Thursday, April 8, 2010 at 7:30pm
End Time:
Saturday, April 17, 2010 at 6:00pm
Location:
Bentara Budaya Jakarta


Dear All,

Bentara Budaya Jakarta, kali ini menyelenggarakan Pameran Seni Grafis

ALUN dan PUSARAN : AT Sitompul Menghela Seni Grafis

Peresmian : Kamis, 8 April 2010 pk. 19.30 wib
Pameran untuk umum : 9 – 17 April 2010 pk. 10.00 – 18.00 wib

Bentara Budaya Jakarta
Jl. Palmerah Selatan 17 Jakarta Pusat
021 5483008, 5490666 ext. 7910-7913

www.bentarabudaya.com

Seni cetak grafis, tapi optical art. Itu kesan yang paling mudah muncul dari karya-karya AT Sitompul. Pemandangan umum tentang seni cetak grafis di Indonesia didominasi oleh cukil kayu yang memberi jejak torehan dalam di papan yang khas, sementara kesan permainan optis sering dirangkai lewat konfigurasi bidang-bidang rata dan pewarnaan datar. Bisa dibayangkan tingkat kecermatan yang dibutuhkan untuk menyiapkan karya seni cetak ini. Maka sajian grafis yang optis menjadi sangat menarik untuk ditatap.
Ia bekerja dengan teknik cukilan, menggunakan spirit optical art yang sangat modern, dan dengan teknik visualisasi scrapboard. “Ini sangat memungkinkan terjadinya visualisasi baru di dalam hal berkesenian, terutama di dalam dunia seni cetak grafis,” tulisnya di dalam sebuah surat kepada Bentara. Di dalam hal itu, ia mengaku berhasil membuat visualisasi ilusi motif. Tambahnya, “Motif sangat kuat mempengaruhi saya.”
Pengejawantahan semangat motif itu bisa dikenali di sejumlah karyanya yang baru. Pada beberapa grafisnya ia bergelut dengan bentuk-bentuk simetrik, dan susunan garis dan bidang geometrik, yang sesungguhnya juga teramat jarang dikerjakan orang di dunia seni cetak grafis.
AT Sitompul yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta, adalah pemenang ke-3 kompetisi dan pameran “Trienal Seni Grafis III/2009” yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya. Pameran tunggalnya ini dirancang sebagai kelanjutan dari kegiatan tiga tahunan tersebut, untuk lebih meningkatkan semangat berkesenian di kalangan seniman dan semakin menumbuhkan apresiasi di masyarakat luas. Pameran akan digelar di ke-4 venue Bentara Budaya.

Salam,
Bentara Budaya Jakarta