HereWeG02
30 Maret 2010 22:00 LIQUID CLUB YK 30.000 IDR
- SAMIAN & HORG (CANADA)
- DUBYOUTH
- JAHANAM
- ROTRA
- DPMB
- KILL THE DJ
- HOLZA BANDITS
KORAN JOGJA menyehatkan jiwa raga, sahabat siapa saja. Hamemayu Hayuning Bawana, mempercantik indahnya dunia, memelihara kelestarian bumi. Terdepan dalam mengajak masyarakat Indonesia untuk POSITIVE THINKING. Menolak segala Bullying dalam segala aspek.SAMBUT DENGAN GEMBIRA JAMAN ELING DAN WASPADA. JOGJA SEMANGAT. Website = http://www.koranjogja.info dan http://www.koran-jogja.com. E-mail: koranjogja@gmail.com.
Selasa, 23 Maret 2010
= Pameran Seni Grafis "Kerumitan Kesederhanaan" karya MAX KISMAN
Pameran Seni Grafis "Kerumitan Kesederhanaan" karya MAX KISMAN
| Start Time: | Tuesday, March 23, 2010 at 6:30pm |
| End Time: | Saturday, April 3, 2010 at 5:00pm |
| Location: | Galeri CCCL Surabaya |
| Street: | Darmokali 10 |
| City/Town: | Surabaya, Indonesia |
CCCL Surabaya - Erasmus Huis Jakarta - YPKIB Surabaya
Expo arts graphiques / Pameran Seni Grafis
“La complexité de la simplicité”, Max Kisman / « Kerumitan Kesederhanaan »
karya Max Kisman
23 mars – 2 avril 2010
Le CCCL de Surabaya vous fait découvrir un artiste européen en mettant à l’honneur un graphiste néerlandais.
Max Kisman (né aux Pays-Bas en 1953) a ouvert la voie de la technologie numérique au milieu des années quatre-vingts dans le domaine de la typographie et du graphisme pour des magazines, des affiches et des designs de timbres postes. En 1986, il co-fonde TYP/TYPOGRAFISCH Papier, un magazine sur la typographie et l'art. Il vit à Barcelone de 1989 à 1992 où il numérise de nombreuses polices de caractère pour FontShop International à Berlin. De 1992 à 1996 il est designer graphique pour la chaine de télévision VPRO aux Pays-Bas. En 1997, la Télévision Câblée à San Francisco l'embauche comme directeur artistique. Il vit maintenant au Pays Bas.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
CCCL Surabaya ingin memperkenalkan seorang seniman Eropa kepada Anda dan memberikan kesempatan tersebut kepada seorang desainer grafis berkebangsaan Belanda.
Pada pertengahan tahun 1980-an, Max Kisman (lahir di Belanda pada 1953) mempelopori teknologi digital di bidang tipografi dan seni grafis untuk majalah, poster serta perangko.
Tahun 1986, dia menjadi salah satu pendiri TYP/Typografisch Papier, sebuah majalah yang mengupas tentang tipografi dan seni. Pada tahun 1989-1992 dia menetap di Barcelona, kota tempat ia mendigitalisasi berbagai jenis huruf untuk Fontshop International di Berlin. Tahun 1992-1996, dia bekerja sebagai desainer grafis untuk stasiun tv VPRO di Belanda. Pada tahun 1997, Telévision Câblée di San Francisco mempekerjakannya sebagai Direktur Artistik. Sekarang ia menetap di Belanda.
/////////////////////////////////////////
Vernissage / Pembukaan pameran:
le mardi / Selasa, 23 mars/Maret 2010
18:30
Galeri CCCL, Darmokali 10 Surabaya
Terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
//////////////////////////////////////////
Senin, 22 Maret 2010
= ON AIR on KLIK ANTV
| Type: |
| Start Time: | Monday, March 29, 2010 at 12:00pm |
| End Time: | Wednesday, March 31, 2010 at 1:00pm |
| Location: | ANTV |
= EVORAH - TUJUH BINTANG.
EVORAH
EVORAH (Evil of Rabbit Head)
Setan Berkepala Kelinci!.
Membaca judul ini, setidaknya membuat kita mengeryitkan dahi atau bergumam dalam hati, “opo tho maksude?” apa maksudnya? Dari judul itu, seolah terbaca dua makhluk yang saling bertolak belakang di”kawin”kan pada satu situasi. Setan dan Kelinci, tentu mempunyai perbedaan yang sangat jauh bertentangan, dari sifat, fisik sampai alam hidupnya, jelas bertolak 180 derajat. Namun, sebenarnya bukan pada bagian itu fokus kita, tapi bagaimana penciptaan karya-karya mengagumkan dari seorang Kyre yang terbungkus dalam pameran tunggal bertitle “EVORAH (Evil of Rabbit Head)” dapat tersaji manis dihadapan kita, itulah yang menjadi sentral perhatian.
Kyre?
Siapa Kyre? Ialah Oky Rey Montha Bukit, seorang perupa muda yang menekuni ilmu Desain Komunikasi Visual di ISI Yogyakarta, juga penggiat komunitas seni Tempatkencink Visual Art Comunity Yogyakarta yang gemar membaca dan membuat komik. Selain namanya yang unik, kegiatan, minat studi dan hobi pemuda ini nampak biasa saja. Namun jangan dulu salah menerka, kesemua hal yang biasa dari dirinya itu menyimpan berbagai hal luar biasa. Hal-hal yang muncul dari dalam diri, melalui pengaruh luar, lingkungan, keluarga, atau pengalamannya. Semua hal itulah yang kemudian menjalari tiap nadi, syaraf ataupun pikiran dan hati orang muda ini sebagai “Racun”. Ya, racun yang baik, racun positive yang membawanya pada akumulasi ide brilliant.
Kembali pada EVORAH, mengapa kemudian Kyre menamai pameran tunggalnya ini dengan sebutan demikian? Tak banyak yang tahu masa kelam Kyre belasan tahun dibelakang, masa dimana ia merasakan tekanan-tekanan, tekanan yang mengakumulasi terus-menerus dimasa lalunya itu berpuncak pada “perlakuan kasar” orang-orang terdekatnya. Mungkin disitulah tolak awalnya, perlakuan kasar itulah yang meracuni karya-karya Kyre. Dalam karya-karyanya, Kyre ingin melontarkan umpatan, ledekan, gumam, bahkan gurauannya pada masa silamnya yang kelam. Tapi kenapa bentuk demonstrasi hati bernada protes ditampilkan dengan warna-warna pastel yang cerah, lembut dan penuh hingar bingar? pengemasan ekspresi seperti itu sebagai rangkaian proses detaksikasi (proses membuat racun menjadi netral) dan tereduksi menjadi tawar, tak berbahaya. Sehingga seorang Kyre bebas membuat penegasan realisasi dirinya dalam karya, bahwa saat kemarahan “Setan” disajikannya diatas kanvas, dia ingin tetap menjadi kelinci yang menggemaskan, makhluk jenaka yang mampu menghibur siapa saja. Sungguh percikan ide yang luar biasa! Mari kita sama-sama selami kedalaman fikiran dan hati orang muda ini melalui deretan karya-karya istimewanya. Dan silakan bermain dengan fantasi Anda masing-masing.
| Start Time: | Thursday, April 1, 2010 at 7:30pm |
| End Time: | Tuesday, April 13, 2010 at 8:00pm |
| Location: | Tujuh Bintang Art Space |
| Street: | Jl Sukonandi 7 |
| City/Town: | Yogyakarta, Indonesia |
EVORAH (Evil of Rabbit Head)
Setan Berkepala Kelinci!.
Membaca judul ini, setidaknya membuat kita mengeryitkan dahi atau bergumam dalam hati, “opo tho maksude?” apa maksudnya? Dari judul itu, seolah terbaca dua makhluk yang saling bertolak belakang di”kawin”kan pada satu situasi. Setan dan Kelinci, tentu mempunyai perbedaan yang sangat jauh bertentangan, dari sifat, fisik sampai alam hidupnya, jelas bertolak 180 derajat. Namun, sebenarnya bukan pada bagian itu fokus kita, tapi bagaimana penciptaan karya-karya mengagumkan dari seorang Kyre yang terbungkus dalam pameran tunggal bertitle “EVORAH (Evil of Rabbit Head)” dapat tersaji manis dihadapan kita, itulah yang menjadi sentral perhatian.
Kyre?
Siapa Kyre? Ialah Oky Rey Montha Bukit, seorang perupa muda yang menekuni ilmu Desain Komunikasi Visual di ISI Yogyakarta, juga penggiat komunitas seni Tempatkencink Visual Art Comunity Yogyakarta yang gemar membaca dan membuat komik. Selain namanya yang unik, kegiatan, minat studi dan hobi pemuda ini nampak biasa saja. Namun jangan dulu salah menerka, kesemua hal yang biasa dari dirinya itu menyimpan berbagai hal luar biasa. Hal-hal yang muncul dari dalam diri, melalui pengaruh luar, lingkungan, keluarga, atau pengalamannya. Semua hal itulah yang kemudian menjalari tiap nadi, syaraf ataupun pikiran dan hati orang muda ini sebagai “Racun”. Ya, racun yang baik, racun positive yang membawanya pada akumulasi ide brilliant.
Kembali pada EVORAH, mengapa kemudian Kyre menamai pameran tunggalnya ini dengan sebutan demikian? Tak banyak yang tahu masa kelam Kyre belasan tahun dibelakang, masa dimana ia merasakan tekanan-tekanan, tekanan yang mengakumulasi terus-menerus dimasa lalunya itu berpuncak pada “perlakuan kasar” orang-orang terdekatnya. Mungkin disitulah tolak awalnya, perlakuan kasar itulah yang meracuni karya-karya Kyre. Dalam karya-karyanya, Kyre ingin melontarkan umpatan, ledekan, gumam, bahkan gurauannya pada masa silamnya yang kelam. Tapi kenapa bentuk demonstrasi hati bernada protes ditampilkan dengan warna-warna pastel yang cerah, lembut dan penuh hingar bingar? pengemasan ekspresi seperti itu sebagai rangkaian proses detaksikasi (proses membuat racun menjadi netral) dan tereduksi menjadi tawar, tak berbahaya. Sehingga seorang Kyre bebas membuat penegasan realisasi dirinya dalam karya, bahwa saat kemarahan “Setan” disajikannya diatas kanvas, dia ingin tetap menjadi kelinci yang menggemaskan, makhluk jenaka yang mampu menghibur siapa saja. Sungguh percikan ide yang luar biasa! Mari kita sama-sama selami kedalaman fikiran dan hati orang muda ini melalui deretan karya-karya istimewanya. Dan silakan bermain dengan fantasi Anda masing-masing.
= PAMERAN LUKISAN "GANDHENG RENTENG" Komunitas Perupa Pasuruan
MEMBANGKITKAN KEPEKAAN SOSIAL MELALUI SENI
Jose Ortega Y Gasset[1883-1955] filosuf asal Spanyol mengatakan, “Dunia adalah dunia dalam keakrabannya dengan sang aku. Dunia adalah dunia yang memperoleh makna dalam kesejarahan manusia”. Dari pendapat tersebut, ada beberapa makna yang bisa diambil. Pertama, dunia bagi seseorang adalah ‘seluas’ persepsi yang bersangkutan terhadap dunianya. Sehingga, ‘luasnya’ dunia ini berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Bagi seorang ahli elektro, dunia elektronik adalah dunianya. Kedua, ‘warna persepsi’ seseorang terhadap dunianya itu sangat dipengaruhi ‘apa’ yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsinya itu. Ketiga, artinya, makna dunia bagi seseorang bergantung pada ‘apa’ yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsinya tersebut.
Pertanyaanya adalah apa yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsi manusia jaman sekarang ?
Barangkali sulit dipungkiri bahwa melalui ‘ideologi globalisasi’, negara-negara maju telah berhasil mencekokkan paham hedonisme kepada sebagian besar umat manusia, termasuk manusia-manusia Indonesia. Paham hedonisme ini terutama sangat digandrungi kaum muda.
Hedonisme adalah merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dengan begitu, mereka yang ‘terjerembab’ dalam paham ini akan menjadikan pandangan hidupnya semata-mata untuk menghindari penderitaan dan mencari kebahagian yang dicapai melalui pemuasan keinginan materi.
Dengan hedonisme, negara-negara barat menginternalisasikan sebuah paham bahwa segala macam penderitaan adalah bertentangan dengan keinginan setiap manusia. Oleh karena itu, harus dihindari. Sedangkan, kenikmatan materi merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia. Sehingga, setiap manusia harus terus-menerus mencari sumber-sumber kenikmatan materi seraya menjauhi segala macam penderitaan.
Dari paham hedonisme ini, muncul beberapa dampak yang justru dapat menghancurkan dimensi kemanusiaan. Pertama, kehendak menolak setiap penderitaan memunculkan keengganan bekerja keras. Kerja keras diidentikkan dengan penderitaan. Kedua, keyakinan bahwa sumber kebahagiaan satu-satunya adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan materi telah mendorong manusia menjadi mahluk rakus, yang aktivitas hidupnya digunakan untuk mengumpulkan benda-benda materi sebanyak-banyaknya. Ketiga, keinginan untuk menghindari penderitaan, termasuk bekerja keras, dan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebanyak-banyaknya, mendorong manusia cenderung mengambil jalan pintas dalam memperoleh benda-benda materi. Selain itu, kecenderungan tersebut juga menjadikan manusia-manusia yang telah teracuni faham tersebut akan menjadi seorang egois. Tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dalam pandangan hedonisme, kepedulian terhadap sesama yang wujudnya adalah berbagi atas yang dimiliki untuk orang lain justru bertolak-belakang dengan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebesar-besarnya. Maka bukanlah pemandangan aneh jika kita melihat ada pesta tahun baru meriah yang menghabiskan dana puluhan milyard pada saat ada sebagian saudara sebangsa tengah menderita luar biasa akibat bencana alam. Bahkan, kita juga telah terbiasa melihat sekelompok manusia tega menghabisi manusia lain demi kekuasaan ( untuk menguasai sumber-sumber ekonomi ), meski tak jarang dengan menggunakan dalil-dalil keagamaan.
Maka, diperlukan sebuah terobosan untuk mengeluarkan manusia dari “kesumpegan” ini. Salah satu alternatifnya adalah dengan membangkitkan gairah berkesenian. Dalam era seni kontemporer, yang berkembang dewasa ini, kreator seni dibiasakan untuk selalu peka dalam merespons setiap gejala sosial yang terjadi saat ini, misalnya merespons tentang kemiskinan, degradasi moral di masyarakat, perilaku buruk dari suatu pemerintahan, atau yang lain. Dari hasil respons tersebut kemudian diangkat dalam tema karya seni untuk disajikan dalam kepada masyarakat luas.
Karya seni dalam era kontemporer ini, juga mengajak para apresiator untuk ikut terlibat, diajak merenungkan dan memahami tentang kondisi-kondisi sosial yang ada di lingkungan sekitar atau yang sedang aktual, melalui tema yang diusung oleh sang kreator . Apresiator tidak lagi sekedar disuguhi pada masalah media seni, artistik visual semata dan konsep-konsep seni yang menggantung di awang-awang, tapi diajak untuk memahami dan menghayati konteks, bahkan interteks dari suatu karya seni. Pendek kata, seni di era kontemporer adalah sebagai reaksi atas hegemoni penyeragaman, dengan budaya barat sebagai pusatnya, yang menafikan dan merendahkan budaya-budaya lokal, terutama yang berkembang di bangsa-bangsa Timur.
Di sisi lain, persoalan krisis moral belakangan ini makin mengemuka. Berbagai kalangan – pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat, ilmuwan hingga budayawan – mencoba menyajikan format penyelesaian. Namun, alih-alih ditemukan jalan keluarnya, justru krisis tersebut kian hari kian menjadi-jadi. Mengapa ?
Krisis moral ini tidak saja melanda manusia dewasa, tetapi telah merambah ke dunia remaja. Sebagai misal, beberapa kali kita jumpai perbuatan-perbuatan asusila, penyalahgunaan narkoba, miras, atau kekerasan di kalangan pelajar dan generasi muda. Sebagai warga “Kota Santri” tentu masyarakat Pasuruan dibuat “nelangsa”. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ?
Tak ayal, berbagai pendapat pun muncul ke permukaan. Ada yang memaki-maki, menyalahkan orangtua, menyalahkan pendidikan, ajakan untuk kembali mendalami ajaran agama. Apa hasilnya ? Persoalan moralitas terus berlanjut. Para tokoh hanya mengemukakan pendapat-pendapat di atas, setelah itu kembali pada rutinitas harian mereka; ke kantor, berdakwah, berdagang …dan dilanjutkan ngrumpi dengan teman sejawatnya. Nyaris tak ada upaya-upaya yang lebih konkrit untuk mengawal penguatan nilai-nilai moralitas di tengah warga “Kota Santri” ini.
Kami, KOMUNITAS PERUPA PASURUAN, merasakan keprihatinan yang sangat mendalam atas fenomena di atas. Kami mencoba memberi “alternatif lain” dalam memberi jawab atas permasalahan moralitas di atas.
Pada hemat kami, pangkal kegagalan dalam mengatasi masalah moralitas itu karena kekurang-jelian dalam memaknai persoalan moralitas. Selama ini moralitas sekadar dipahami sebagai persoalan baik-buruk semata. Akibatnya, penyelesaian masalah tersebut hanyalah berupa pemberian “pengetahuan tentang hukum-hukum baik-buruk” saja.
Kami melihat, masalah moralitas bukanlah sekadar persoalan baik-buruk. Lebih dari itu, masalah moralitas adalah perkara penafikan “dunia dalam” yang berisi superego dan spiritualisme. Akibat “kecintaan yang berlebihan” terhadap dunia materi, yang kerapkali dibarengi dengan pengidentifikasian terhadapnya, manusia menjadi teralienasi terhadap “dunia dalam” nya sendiri. Padahal, di dalam dunia ini bersumber nilai-nilai moralitas yang dapat meningkatkan martabat kemanusiaan seseorang. Penafikan pada sumber-sumber ini menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusian.
Berkesenian merupakan sarana untuk menyelami “dunia dalam” tersebut. Lewat berkesenian, pencipta seni “diwajibkan” untuk menghayati dunia batinnya, penghayatannya, spiritualitasnya, religiousitasnya serta tanggung-jawabnya sebagai manusia. Maka, dengan berkesenian, secara langsung atau tidak langsung, akan terjadi proses pendidikan moral pada pelakunya.
Namun sayang, berkesenian dewasa ini mengalami distorsi makna. Berkesenian sering hanya dipahami sebagai persoalan ketrampilan teknis. Banyak karya baru lahir tanpa memantulkan kedalaman penghayatan penciptanya atau sikap empati terhadap kondisi sosial lingkungannya. Karya seni dimaknai sekadar mempertotonkan kepiawaian penguasaan ketrampilan teknis penciptanya semata. Dalam berkesenian seperti ini, kekuatan berkesenian sebagai proses pendidikan moralitas tidak pernah terjadi.
Komunitas ini lahir untuk menegaskan kembali makna berkesenian. Tujuannya jelas, yakni berkeinginan menebarkan “virus-virus” berkesenian sebagai pilar penyangga martabat kemanusiaan insan-insan yang terlibat dalam aktivitas tersebut. Namun harus disadari bahwa niat itu akan menjadi sebuah utopia jika tidak diikuti oleh agenda-agenda yang jelas dan berkelanjutan. Agenda-agenda yang kami canangkan juga akan menguap sia-sia apabila masyarakat dan pemerintah enggan untuk berperan aktif sebagai wujud kepeduliannya.
Komunitas Perupa Pasuruan, yang saat ini tidak hanya beranggotakan para perupa dari Pasuruan Kota da Kabupaten saja, tapi juga membuka diri pada perupa dari luar kota, tahun ini mengadakan even: Pameran Lukisan ”GANDHENG RENTENG”, yang diikuti oleh 39 orang perupa. Tahun 2009, even yang kami gelar bertajuk “GERAK SERENTAK”, diikuti oleh 25 orang perupa. Even tahun ini merupakan upaya kami untuk tidak lagi menjadikan kesenian sebagai suatu makhluk misterius, yang bertengger di menara gading, tapi suatu aktifitas yang cukup bersahaja, familiar, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harapan kami, semoga aktifitas yang kami gelar ini mendapat respons yang positif, sehingga keberadaan organisasi ini bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat yang ada di sekitar.
Ketua Komunitas Perupa Pasuruan
Wahyu Nugroho
Contact person : +6285646611158
| Start Time: | Saturday, April 3, 2010 at 8:00am |
| End Time: | Friday, April 9, 2010 at 9:00pm |
| Location: | Di Gedung Serba Guna Yon Zipur 10 Jl. Balai Kota Pasuruan |
Jose Ortega Y Gasset[1883-1955] filosuf asal Spanyol mengatakan, “Dunia adalah dunia dalam keakrabannya dengan sang aku. Dunia adalah dunia yang memperoleh makna dalam kesejarahan manusia”. Dari pendapat tersebut, ada beberapa makna yang bisa diambil. Pertama, dunia bagi seseorang adalah ‘seluas’ persepsi yang bersangkutan terhadap dunianya. Sehingga, ‘luasnya’ dunia ini berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Bagi seorang ahli elektro, dunia elektronik adalah dunianya. Kedua, ‘warna persepsi’ seseorang terhadap dunianya itu sangat dipengaruhi ‘apa’ yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsinya itu. Ketiga, artinya, makna dunia bagi seseorang bergantung pada ‘apa’ yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsinya tersebut.
Pertanyaanya adalah apa yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsi manusia jaman sekarang ?
Barangkali sulit dipungkiri bahwa melalui ‘ideologi globalisasi’, negara-negara maju telah berhasil mencekokkan paham hedonisme kepada sebagian besar umat manusia, termasuk manusia-manusia Indonesia. Paham hedonisme ini terutama sangat digandrungi kaum muda.
Hedonisme adalah merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dengan begitu, mereka yang ‘terjerembab’ dalam paham ini akan menjadikan pandangan hidupnya semata-mata untuk menghindari penderitaan dan mencari kebahagian yang dicapai melalui pemuasan keinginan materi.
Dengan hedonisme, negara-negara barat menginternalisasikan sebuah paham bahwa segala macam penderitaan adalah bertentangan dengan keinginan setiap manusia. Oleh karena itu, harus dihindari. Sedangkan, kenikmatan materi merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia. Sehingga, setiap manusia harus terus-menerus mencari sumber-sumber kenikmatan materi seraya menjauhi segala macam penderitaan.
Dari paham hedonisme ini, muncul beberapa dampak yang justru dapat menghancurkan dimensi kemanusiaan. Pertama, kehendak menolak setiap penderitaan memunculkan keengganan bekerja keras. Kerja keras diidentikkan dengan penderitaan. Kedua, keyakinan bahwa sumber kebahagiaan satu-satunya adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan materi telah mendorong manusia menjadi mahluk rakus, yang aktivitas hidupnya digunakan untuk mengumpulkan benda-benda materi sebanyak-banyaknya. Ketiga, keinginan untuk menghindari penderitaan, termasuk bekerja keras, dan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebanyak-banyaknya, mendorong manusia cenderung mengambil jalan pintas dalam memperoleh benda-benda materi. Selain itu, kecenderungan tersebut juga menjadikan manusia-manusia yang telah teracuni faham tersebut akan menjadi seorang egois. Tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dalam pandangan hedonisme, kepedulian terhadap sesama yang wujudnya adalah berbagi atas yang dimiliki untuk orang lain justru bertolak-belakang dengan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebesar-besarnya. Maka bukanlah pemandangan aneh jika kita melihat ada pesta tahun baru meriah yang menghabiskan dana puluhan milyard pada saat ada sebagian saudara sebangsa tengah menderita luar biasa akibat bencana alam. Bahkan, kita juga telah terbiasa melihat sekelompok manusia tega menghabisi manusia lain demi kekuasaan ( untuk menguasai sumber-sumber ekonomi ), meski tak jarang dengan menggunakan dalil-dalil keagamaan.
Maka, diperlukan sebuah terobosan untuk mengeluarkan manusia dari “kesumpegan” ini. Salah satu alternatifnya adalah dengan membangkitkan gairah berkesenian. Dalam era seni kontemporer, yang berkembang dewasa ini, kreator seni dibiasakan untuk selalu peka dalam merespons setiap gejala sosial yang terjadi saat ini, misalnya merespons tentang kemiskinan, degradasi moral di masyarakat, perilaku buruk dari suatu pemerintahan, atau yang lain. Dari hasil respons tersebut kemudian diangkat dalam tema karya seni untuk disajikan dalam kepada masyarakat luas.
Karya seni dalam era kontemporer ini, juga mengajak para apresiator untuk ikut terlibat, diajak merenungkan dan memahami tentang kondisi-kondisi sosial yang ada di lingkungan sekitar atau yang sedang aktual, melalui tema yang diusung oleh sang kreator . Apresiator tidak lagi sekedar disuguhi pada masalah media seni, artistik visual semata dan konsep-konsep seni yang menggantung di awang-awang, tapi diajak untuk memahami dan menghayati konteks, bahkan interteks dari suatu karya seni. Pendek kata, seni di era kontemporer adalah sebagai reaksi atas hegemoni penyeragaman, dengan budaya barat sebagai pusatnya, yang menafikan dan merendahkan budaya-budaya lokal, terutama yang berkembang di bangsa-bangsa Timur.
Di sisi lain, persoalan krisis moral belakangan ini makin mengemuka. Berbagai kalangan – pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat, ilmuwan hingga budayawan – mencoba menyajikan format penyelesaian. Namun, alih-alih ditemukan jalan keluarnya, justru krisis tersebut kian hari kian menjadi-jadi. Mengapa ?
Krisis moral ini tidak saja melanda manusia dewasa, tetapi telah merambah ke dunia remaja. Sebagai misal, beberapa kali kita jumpai perbuatan-perbuatan asusila, penyalahgunaan narkoba, miras, atau kekerasan di kalangan pelajar dan generasi muda. Sebagai warga “Kota Santri” tentu masyarakat Pasuruan dibuat “nelangsa”. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ?
Tak ayal, berbagai pendapat pun muncul ke permukaan. Ada yang memaki-maki, menyalahkan orangtua, menyalahkan pendidikan, ajakan untuk kembali mendalami ajaran agama. Apa hasilnya ? Persoalan moralitas terus berlanjut. Para tokoh hanya mengemukakan pendapat-pendapat di atas, setelah itu kembali pada rutinitas harian mereka; ke kantor, berdakwah, berdagang …dan dilanjutkan ngrumpi dengan teman sejawatnya. Nyaris tak ada upaya-upaya yang lebih konkrit untuk mengawal penguatan nilai-nilai moralitas di tengah warga “Kota Santri” ini.
Kami, KOMUNITAS PERUPA PASURUAN, merasakan keprihatinan yang sangat mendalam atas fenomena di atas. Kami mencoba memberi “alternatif lain” dalam memberi jawab atas permasalahan moralitas di atas.
Pada hemat kami, pangkal kegagalan dalam mengatasi masalah moralitas itu karena kekurang-jelian dalam memaknai persoalan moralitas. Selama ini moralitas sekadar dipahami sebagai persoalan baik-buruk semata. Akibatnya, penyelesaian masalah tersebut hanyalah berupa pemberian “pengetahuan tentang hukum-hukum baik-buruk” saja.
Kami melihat, masalah moralitas bukanlah sekadar persoalan baik-buruk. Lebih dari itu, masalah moralitas adalah perkara penafikan “dunia dalam” yang berisi superego dan spiritualisme. Akibat “kecintaan yang berlebihan” terhadap dunia materi, yang kerapkali dibarengi dengan pengidentifikasian terhadapnya, manusia menjadi teralienasi terhadap “dunia dalam” nya sendiri. Padahal, di dalam dunia ini bersumber nilai-nilai moralitas yang dapat meningkatkan martabat kemanusiaan seseorang. Penafikan pada sumber-sumber ini menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusian.
Berkesenian merupakan sarana untuk menyelami “dunia dalam” tersebut. Lewat berkesenian, pencipta seni “diwajibkan” untuk menghayati dunia batinnya, penghayatannya, spiritualitasnya, religiousitasnya serta tanggung-jawabnya sebagai manusia. Maka, dengan berkesenian, secara langsung atau tidak langsung, akan terjadi proses pendidikan moral pada pelakunya.
Namun sayang, berkesenian dewasa ini mengalami distorsi makna. Berkesenian sering hanya dipahami sebagai persoalan ketrampilan teknis. Banyak karya baru lahir tanpa memantulkan kedalaman penghayatan penciptanya atau sikap empati terhadap kondisi sosial lingkungannya. Karya seni dimaknai sekadar mempertotonkan kepiawaian penguasaan ketrampilan teknis penciptanya semata. Dalam berkesenian seperti ini, kekuatan berkesenian sebagai proses pendidikan moralitas tidak pernah terjadi.
Komunitas ini lahir untuk menegaskan kembali makna berkesenian. Tujuannya jelas, yakni berkeinginan menebarkan “virus-virus” berkesenian sebagai pilar penyangga martabat kemanusiaan insan-insan yang terlibat dalam aktivitas tersebut. Namun harus disadari bahwa niat itu akan menjadi sebuah utopia jika tidak diikuti oleh agenda-agenda yang jelas dan berkelanjutan. Agenda-agenda yang kami canangkan juga akan menguap sia-sia apabila masyarakat dan pemerintah enggan untuk berperan aktif sebagai wujud kepeduliannya.
Komunitas Perupa Pasuruan, yang saat ini tidak hanya beranggotakan para perupa dari Pasuruan Kota da Kabupaten saja, tapi juga membuka diri pada perupa dari luar kota, tahun ini mengadakan even: Pameran Lukisan ”GANDHENG RENTENG”, yang diikuti oleh 39 orang perupa. Tahun 2009, even yang kami gelar bertajuk “GERAK SERENTAK”, diikuti oleh 25 orang perupa. Even tahun ini merupakan upaya kami untuk tidak lagi menjadikan kesenian sebagai suatu makhluk misterius, yang bertengger di menara gading, tapi suatu aktifitas yang cukup bersahaja, familiar, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harapan kami, semoga aktifitas yang kami gelar ini mendapat respons yang positif, sehingga keberadaan organisasi ini bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat yang ada di sekitar.
Ketua Komunitas Perupa Pasuruan
Wahyu Nugroho
Contact person : +6285646611158
= CINEMATICA pemutaran Film dan Diskusi
CINEMATICA pemutaran Film dan Diskusi
| Date: | Friday, March 26, 2010 |
| Time: | 7:00pm - 10:00pm |
| Location: | Gedung pertunjukan Taman Budaya, Palu - Sulawesi Tengah |
Tema : Kenapa harus demokrasi ?
Pembicara : Andreas Lagimpu
Pengantar diskusi :
Demokrasi punya banyak definisi dan cara setipa komunitas menerapkan konsep demokrasi juga berbeda-beda, itu sebabnya mungkin outputnya pun menjadi berbeda-beda. Lalu bagaimana demokrasi diimplementasikan di Indonesia? dan bagaimana Cina yang notabene negara komunis melakukan pembelajaran demokrasi ke generasi muda mereka?
Film yang akan diputar :
STUDENT MOVEMENT
tino saroengallo, Indonesia, 2002, 42 menit
sinopsis :
cuplikan tentang perjuangan mahasiswa indonesia dalam memperjuangkan demokrasi melalui gerakan reformasi 1998.
PLEASE VOTE FOR ME
weijun chen, china, 2007, 58 menit
sinopsis:
di sebuah sekolah dasar di Wuhan, cina, paham demokrasi diajarkan melalui pemilihan ketua kelas. 3 kandidat ketua kelas yang masing-masing berusia 8 tahun harus melewati serangkaian debat, yang akhirnya membawa mereka memahami strategi kampanye politik dan menerima kekalahan dengan hati besar.
...GRATIS!...
= ||ELECTRIFIED||
||ELECTRIFIED||
It is an event that combines entertainment and enthusiasm of electronic music, which is performed by one of Indonesia’s electronic music legend, ELECTROFUX. Jogjakarta, as known has various underground electronic music festivals such as Parkinsound, Electrocity, and so on, would be pleased to welcome him back on the deck, to have an amazing experience with the genius boy behind the machines. Electro/tech house and his performance will electrify us all over the night.
26/03/10 Liquid Cafe Semarang
27/03/10 Liquid Next Generation Jogja
with
ELECTROFUX [Bali]
midiJUNKIE [Jogja]
Hengky Strawberry [Jogja]
MC Erno
10PM ONWARDS
IDR 20K
Boys and Girls.. You All Should Be There..
See You On The Dance Floor..
Limited Giveaways from:
BRAIN MNFCTR
SLACKERS
STARCROSS
also supported by Teenagers
powered by SoundBoutique
It is an event that combines entertainment and enthusiasm of electronic music, which is performed by one of Indonesia’s electronic music legend, ELECTROFUX. Jogjakarta, as known has various underground electronic music festivals such as Parkinsound, Electrocity, and so on, would be pleased to welcome him back on the deck, to have an amazing experience with the genius boy behind the machines. Electro/tech house and his performance will electrify us all over the night.
26/03/10 Liquid Cafe Semarang
27/03/10 Liquid Next Generation Jogja
with
ELECTROFUX [Bali]
midiJUNKIE [Jogja]
Hengky Strawberry [Jogja]
MC Erno
10PM ONWARDS
IDR 20K
Boys and Girls.. You All Should Be There..
See You On The Dance Floor..
Limited Giveaways from:
BRAIN MNFCTR
SLACKERS
STARCROSS
also supported by Teenagers
powered by SoundBoutique
Langganan:
Postingan (Atom)