Selasa, 24 Mei 2011

= "Siklus dan Sirkus KLOWOR" Solo Exhibition by Klowor Waldiyono

Waktu
23 Mei jam 19:30 - 31 Mei jam 22:30

Tempat
Taman budaya yogyakarta
Jl.Sri Wedani, No 1.

Dibuat oleh:

Info Selengkapnya
"Siklus dan Sirkus KLOWOR"
solo exhibition by Klowor Waldiyono


Senin, 23 mei 2011
jam 19.30 Wib

TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA ( TBY)

Jl. Sri Wedani No 1 Yogyakarta


Pameran akan di buka oleh;

Drs . Subroto SM,


Kurator ;
Kuss Indarto ,SSn

Penulis Esai ;

Kuss Indarto
Suwarno Wisetrotomo


di dukung acara ;

Gejog Lesung " Niti Budaya"
dari Nitiprayan Yogyakarta.


dan

Jasmine Akustik Band.


Pameran berlangsung hingga 31 Mei 2011

RSVP : Kuss Indarto ( 08122835525)
Klowor (08122715550)



…Lukisan-lukisan Klowor terasa riuh, warna-warni, dan gembira. Mencermati lebih dalam karya-karyanya, saya merasakan dan menangkap jejak-jejak ingatannya terhadap kompleksitas kehidupan ini. Karya-karya itu merupakan artefak tentang serpihan-serpihan riwayat kehidupan. Satu hal yang pasti, kesemuanya menghadirkan kegembiraan dan sikap optimis. Bahwa hidup dan kehidupan ini warna-warni, dan percuma jika dilihatnya sebagai kemuraman. Yang remeh temeh pun tetap punya arti, sama pentingnya dengan persoalan-persoalan besar yang seringkali menyedot perhatian dan merepresi kita.

Klowor mengisahkan semuanya, sekali lagi, tanpa beban yang menimpa tengkuk dan punggungnya. Ia menggubah kisah dengan cara mengkreasi bentuk-bentuk melalui persilangan garis-garis, bidang, dan warna-warna. Garis-garis berbasis sketsa menghadirkan bentuk-bentuk atau sosok, tumpang tindih, datar (flat), sapuan-sapuan yang menyebar, dan sangat ornamentik. Ia menggubah satu sosok yang diulang-ulang, yakni kucing, dalam tampilan yang variatif. Sosok ini pula yang kemudian melekat menjadi tambahan identitas: Klowor Kucing. Tetapi predikat ini tidak menjebak dan tidak pula memerangkap dirinya. Karena ia menempatkan ‘sang kucing’ dalam berbagai peran; kadang peran utama, kadang figuran.

(Suwarno Wisetrotomo, kritikus seni rupa, dosen pascasarjana ISI Yogyakarta)

…Dan inilah, setelah limabelas setengah tahun berlalu, “deklarasi estetik” kembali dilakukan oleh Klowor Waldiyono lewat pameran tunggalnya sekarang, “Siklus dan Sirkus Klowor”. Di dalamnya, berbagai risiko pun siap dipertaruhkan.

Kalau dikatakan bahwa ritus pameran ini semacam siklus kiranya tidaklah berlebihan. Ada putaran waktu dan kesempatan bagus yang datang berpihak kepada anak keenam dari pasangan almarhum Gatot Tjokrowihardjo dan almarhumah Painten ini. Dalam situasi pasar seni rupa yang lesu pada rentang waktu dua tahun terakhir, menghelat sebuah pameran tunggal dengan mengeksposisikan banyak karya lukis berukuran besar tentu sebuah kemewahan tersendiri. Tidak sedikit seniman yang mengundurkan atau membatalkan sama sekali pameran yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari hanya karena situasi pasar yang tidak lagi kondusif. Beda dengan situasi saat booming seni rupa pada kisaran sekitar 2007 hingga 2009 lalu. Kini, Klowor justru mendapat kesempatan bagus untuk menjalani siklus ini. Yayasan Seni Budaya, Jakarta, dalam dua tahun terakhir memberi peluang dan dukungan hingga seniman ini berpameran tunggal.

Andai siklus dipahami sebagai “putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur”, maka perhelatan pameran ini, pada satu titik soal, menemukan kebenarannya. Klowor mengulang ritus pameran tunggalnya setelah terjadi belasan tahun lalu, tetapi berusaha untuk berjarak dengan pencapaian estetik yang telah dilakukannya dulu.

(Kuss Indarto, kurator pameran, editor in chief www.indonesiaartnews.or.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar