Sabtu, 24 September 2011

= Akademika Bentara Diskusi "Local Knowledge"

Time
Sunday, September 25 · 3:00pm - 6:00pm
Location
Bentara Budaya Bali
Jalan Prof Ida Bagus Mantra No 88 A, By Pass Ketewel
Created By
Bentarabudaya Bali
More Info
Akademika Bentara Diskusi "Local Knowledge" Reposisi Bahasa Rupa Tradisi dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer

Minggu, 25 September 2011
Pukul 15.00 WITA
Pembicara : I Wayan Seriyoga Parta dan Seniman Peserta Pameran

Sebagai upaya pemaknaan atas Pameran Seni Rupa "Local Knowledge" yang telah digelar pada Sabtu, 24 September 2011, BBB mengadakan Akademika Bentara, sebentuk diskusi yang akan mengulas lebih jauh tentang karya-karya, proses kreatif, perkembangan kesenian dan wacana lain yang masih berkaitan dengannya.

Walaupun kreativitas para seniman yang berpameran ini dekat dengan semangat inovasi dan ekspresi individualitas seni rupa modern, namun ciptaan mereka yang beranjak dari bahasa rupa tradisi dan berkarya secara otodidak, lebih banyak dibaca sebagai hasil dari material culture (artefak kebudayaan) pada pembacaan antropologi dan etnografi.

Artinya karya-karya mereka tidak dianggap sebagai karya seni dalam persepsi seni rupa modern. Di sisi lain, dalam semangat avantgarde, seni rupa modern menginginkan seni rupa memiliki otonomi sendiri dengan terobosan-terobosan instrinsik dengan pencapain estetik yang otentik. Seni rupa modern di Barat berkembang tidak saja dalam semangat otonomi penciptaan, namun juga menjelma menjadi institution of modern art yang terdiri dari; museum, art critigue, art theories, art auction dan gallery, di mana di situlah nilai-nilai seni rupa dikonstruksi.

Institusi tersebut menetapkan standar tinggi untuk mengggolongkan mana karya-karya yang dapat dipandang sebagai karya seni rupa modern. Meski karya seni rupa telah memakai bahasa rupa “modern” seperti karya abstrak di luar (Eropa dan Amerika), namun ternyata tidak lantas disebut sebagai karya seni rupa modern. Terlebih lagi bagi karya-karya yang memperlihatkan keterkaitan dengan bahasa rupa etnik tertentu, tentu tidak akan pernah dianggap sebagai karya seni. Jika persepsi ini terus diwarisi dalam perkembangan seni rupa, maka karya-karya seniman yang hadir dalam pameran ini tidak akan bisa diakui sebagai karya seni rupa. Diskusi ini bertujuan mengkaji posisi seni rupa yang dekat dengan tradisi (Bali) terkait konstelasi wacana seni rupa kontemporer. Sebab, bukankah konon perkembangan seni rupa pasca modern atau kontemporer ini juga membawa demokratisasi yang mengakomodir berbagai perkembangan yang terjadi dalam seni rupa?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar