Minggu, 28 Februari 2010

= SOULSCAPE: The Tresure of Spiritual Art

Undangan

Pembukaan Pameran Seni Visual

SOULSCAPE: The Tresure of Spiritual Art

AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Netok Sawiji Rusnoto Susanto, Nunung WS,

Sulebar Soekarman, Utoyo Hadi, Yusron Mudhakir

Selasa, 23 Februari 2010

Pukul : 19.00 wib

Dibuka oleh dr. Oei Hong Djien

Taman Budaya Yogyakarta

Jalan Sriwedani No 1, Yogyakarta

agenda:


Konferensi Pers
Hari Selasa, 23 Februari 2010, pukul 16.00 WIB
di Taman Budaya Yogyakarta

Peluncuran Buku dan Bedah Buku
Hari Kamis, 25 Februari 2010, pukul 16.00 - 18.00 WIB
'SOULSCAPE : The Treasure of Spiritual Art'
Penulis: AA Nurjaman, Anton Larenz, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Sulebar M Soekarman

Artist Talk
Hari Kamis, 25 Februari 2010, pukul 18.30 - 21.00 WIB

Talkshow di Radio RRI Pro II 102.5 FM
Hari Sabtu, 27 Februari 2010, pukul 15.30 - 16.30 WIB
Live dan interaktif.

Pemutaran Film Abstrak
28 Februari s.d. 4 Maret 2010, pukul 16.00 - 18.00 WIB

Pameran selanjutnya di Tonyraka Art Gallery, Bali

3 Juni - 3 Juli 2010


NUNUK AMBARWATI
[ m ] +62 81 827 7073
[ e+ym ] qnansha@yahoo. com
[ fs ] www.friendster. com/qnansha
[ blog ] http://q-nansha. blogspot. com

SOULSCAPE

MELACAK RUANG SPIRITUAL SEBAGAI MANIFESTASI PROSES KREATIF

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Soulscape merupakan sebentuk artikulasi visual mengenai kegelisahan transendental bagaimana memaparkanpermasalahan mendasar kemanusiaan tentang rasa kemanusiaan dan kesadaran spiritualitasnya. Soulscape menjadi tantangan, pencerahan dan penyerahan diri total dari tujuh perupa beda generasi dan latar pendidikan yang saling berinteraksi melakukan transmisi budaya serta penggalian kreativitas. Istilah Soulscape ini dicetuskan oleh Yusron Mudhakir sebagai tanggapan spontan usulan Dedy Sufriadi untuk membuah pameran seni abstrak yang dipersiapkan oleh masing-masing peserta untuk minimal memuat sebuah karya sepanjang sekitar 10 meter yang kemudian digodok dalam kurun setahun dan hendak di pamerkan roadshow [TBY, Yogyakarta pada 23 Februari-04 Maret 2010, Tony Raka Art Gallery pada 3 Juni-3 Juli 2010, dan Galeri Nasional pada Agustus/dalam konfirmasi].

Roadshow pameran tersebbut disempurnakan dengan paket launching buku. SOULSCAPE: the Treasure of Spiritual Art merupakan tajuk cukup sexy dan bernuansa intelektual karena pada 25 Februari digelar bedah buku serta artist talk. Buku ini merupakan salah sebuah upaya pengkerucutan pemikiran dari seri perjalanan Pameran Seni Lukis Abstrak yang telah digulirkan sejak tahun 2005 yang lalu dan terus terlaksana berkelanjutan. Buku ini diterbitkan sebagai seri Buku Abstrak Indonesia yang kedua dan sekaligus dapat dijadikan acuan Pameran Seni Abstrak SOULSCAPE: The Treasure of Spiritual Art oleh perupa AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M. Soekarman, Utoyo Hadi dan Yusron Mudhakir. Seri Buku Abstrak Indonesia yang pertama berjudul: Seni Abstrak Indonesia: renungan, perjalanan dan manifestasi spiritual diterbitkan bersamaan dengan diselenggarakan Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak Indonesia #8 di Ruang Pameran Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 20 Agustus – 5 September 2008.

Buku SOULSCAPE – the Treasure of Spiritual Art ini disusun dalam suatu kemasan pemikiran holistik bagaimana pemahaman dan keyakinan tujuh perupa mengenai proses penciptaan dan dasar filosofisnya yang mengkristal dalam kemelekatan spiritualitasnya. Buku tersebut disusun empat orang penulis, dua orang dari perupa yang terlibat yaitu Sulebar M. Soekarman dan Netok Sawiji_Rusnoto Susanto yang menguraikan tentang keyakinan, semangat, perjalanan spiritual, pemikiran serta kajian teks visual dan dua orang dari ‘luar’ yaitu AA Nurjaman dan Anton Larenz [seorang curator dan antropolog dari Jerman] memaparkan latar belakang kesejarahan seni abstrak Indonesia serta tinjauan seni keduanya mengulas karya seni dan pemikiran dibalik proses penciptaan para perupa. Sebagai manifestasi dari perjalanan spiritual mereka, dalam satu bab tersendiri dirangkumkan hasil bedah karya yang dilakukan beberapa kali dengan disajikan kumpulan tulisan pemikiran para perupa yang dilengkapi dengan dokumentasi foto-foto lukisan, sketsa ataupun proses kerja terutama untuk penciptaan karya 10 m itu.

SOULSCAPE: the Treasure of Spiritual Art

Pengembaraan perenungan dan pemikiran seorang perupa dalam beberapa sisi tinjauan teks mengenai soulscapetampaknya seperti sebuah proyek ambisius. Betapa tidak, subject matter yang menjadi bingkai proses kreatif sekaligus dasar-dasar pemikirannya adalah jiwa. Sejatinya tujuh seniman inipun berpotensi meledakkan kebuntuan-kebuntuan dengan lebih ambisius lagi untuk menjadikannya sebagai gerilya jiwa. Jiwa yang intersubjektif, jiwa yang tak terperi dan jiwa yang tak mudah untuk mengeksplorasi tanda-tanda ketika kita tak bersungguh-sungguh meletakan kesadaran mengamatinya, merasakannya, dan menjumputnya sebagai kesadaran spiritual yang dianyamnya sebagai scape.

Ketika kita menitik beratkan pada aspek proses edukasi melalui bingkai soulscape yang begitu potensial sebagai upaya penggalian dimensi atau ruang spiritualitas untuk melakukan pendalaman nilai estetika dan pemaknaan-pemaknaan secara inheren. Saling anyam dalam proses pematangan itu sendiri. Masing-masing perupa mengusungsubject matter, penggalian ruang spiritual dan memanifestasikan olah kreatifnya yang begitu personal. Pandangan-pandangan indivudualnya mengenai proses penciptaan dengan landasan filosofis yang saling melengkapi satu sama lain menjadikannya kekayaan emosional, intelektual dan spiritual. Begitupun perspektif spiritualitasnya yang saling menopang dan mempertajam proses penciptaan seninya. Berbeda pula perspektif dan cara mengatasi problem teknik artistik dan pencapaian estetikanya. Kita dapat melakukan konfirmasi-konfirma si teks secara detail pada setiap poin-poin pemikiran sekaligus melakukan konfirmasi pada kapasitas olah visualnya.

Sebuah interpretasi ruang maya dari interelasi dunia dalam (psikis) dan dunia luar (responsibilitas fisik) yang menjembatani proses perenungan atas aktivitas-aktivitas imajiner pada ruang virtual, kemudian menjadikanya media untuk mentransform perenungan maupun pemikiran kreatif ke dalam bahasa visual. Upaya reinterpretasi kesejatian seorang seniman bukan sekadar menjumput inti namun lebih kepada pemaknaan aktivitas ruhani sebagai referensi kecerdasannya untuk mengolah sekaligus merumuskan pesan terdalam dari soulscape. Mengenai bagaimana seorang seniman dengan kesadaran dan sensibilitas tertentu mampu menangkap gejala-gejala psikis –pengembaraan spiritualitas- dan menterjemahkan secara personal untuk menghubungkan berbagai aspek baik secara humanistik maupun keIllahian pada satu titik temu yang dikait dengan keluasan horizon virtual dalam bentangan landscape sebagai interpretasi inter-subyektif yang paling personal.

Seacara keseluruhan mereka menuturkan dalam paparan visual mengenai esensi-esensi jiwa dalam kesadaran spiritual. Kesadaran spiritualitasnya melakukan temuan-temuan individual dari serangkaian proses pemahaman dan kesadaran tertetu dalam menelusuri ruang dalam ‘soul’ sebagai bentuk kristalisasi atas referensi hidup yang mendasarinya.

Upaya pembacaan kembali interelasi teks visual maupun konseptual muncul berdampingan dengan aspek kontekstual dimana teks tersebut terlahir. Teks lahir karena tuntutan aspek kreatif dimana kebaruan menjadi mengedepan maupun muncul sebagai sebuah tanggapan kritis terhadap fenomena tertentu yang membangunnya. Pencermatan terhadap teks-teks yang berserak pada serangkaian proses kreatif seorang perupa seringkali dilakukan secara berjarak oleh seorang penulis yang sama sekali tak pernah terlibat secara totalitas emosional pada proses tersebut. Tampaknya menarik ketika proses pembacaan dan pendokumentasian dilakukan oleh penulis yang memilikihubungan/relationship begitu dekat atau malah perupa tersebut yang menuliskan pemikiran dan proses kreatifnya hingga proses pembacaannya dengan pola bersilang, artinya diantara perupa saling melakukan pembacaan secara bergantian dalam proses bedah karya sebagai konfirmasi. Dalam hal ini penulis hendak menginventarisasi data sebagai upaya merumuskan kembali ruang spiritual, pemikiran dan pendalaman estetika yang berserak. Penelusuran ruang spiritual lazim digali melalui pendekatan spiritualitas sebagai nilai yang disematkan dalam gugus pencitraan atas gagasan-gagasan kreatifnya, disamping tentu konsepsi dan pernyataan sikapnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar