Rabu, 29 Juni 2011

= PELANCONGAN TEATER TIGA PULAU

Time
Saturday, July 2 at 7:30pm - July 27 at 9:30pm

Location
JAWA BALI DAN LOMBOK, Tasikmalaya, Bandung, Surabaya, Denpasar, Singaraja, Lombok, Jogja

Created By

More Info
Jadwal Pertunjukan PELANCONGAN TEATER TIGA PULAU
"SUMUR TANPA DASAR" KARYA: Arifin C. Noer

1. GK. Tasikmalaya
Sabtu, 02 Juli 2011
2. GK. SUNAN AMBU STSI Bandung
Sabtu, 09 Juli 2011
3. GK. Cak Durasim Surabaya
Sabtu, 16 Juli 2011
4. Sasana Budaya Buleleng Bali
Selasa, 19 Juli 2011
5. Taman Budaya NTB
Jum'at 22 Juli 2011
6. Bentara Budaya Bali
Minggu, 24 Juli 2011
7. Teater Gajah Mada (UGM) Yogyakarta
Rabu, 27 Juli 2011

Tiket "Sumur tanpa Dasar" untuk pementasan di Bandung sudah bisa dipesan. Harga pre-sale 15 ribu. on the spot 20 ribu. Kontak: 081220441730 (Arif)
Tiket di Tasikmalaya Rp. 10 ribu. Kontak; 0856235116 (Edi)


Catatan Penyutradaraan
SUMUR TANPA DASAR; LAKON TENTANG PIKIRAN
Oleh: Irwan Jamal

1
Sumur Tanpa dasar ditulis pengarangnya pada tahun 1964, tahun yang sarat dengan persoalan dan ajang pertarungan politik di Indonesia. Pada masa ini orang-orang berada pada pertentangan dalam wilayah keyakinan, pemikiran dan ideologi. Naskah ini lahir, tumbuh dan dibesarkan pada jaman yang gemuruh, gegap gempita dengan semboyan, slogan dan yel-yel. Dengan menggunakan kacamata dan penuturan yang lain, penulis naskah ini menyerap dan meramu kejadian dan kondisi hingga dia sampai pada titik konsentrasi masalah yaitu Pikiran sebagai segala sumber permasalahan dan pertikaian.
Sumur Tanpa Dasar adalah lakon simbolik, teks tertulis lakon ini menunjukkan sifatnya yang surealistik. Sebagai sastra lakon, gaya bahasanya merupakan perpaduan medium bahasa kata yang puitik dan realistik. Tokoh-tokoh dalam lakon ini menampakkan keberagaman karakternya sehingga membuka kemungkinan beragam untuk mempresentasikannya baik dari sisi psikologis atau perwujudan fisiknya.
Gagasan Sumur Tanpa Dasar adalah tanggapan terhadap sikap rasionalisme dan materialisme yang berkembang pada masa lakon ini tercipta. Jenis plot Sumur Tanpa Dasar adalah simple plot atau single plot dengan tipe plot linear. Cerita berjalan lurus berurutan, artinya dalam Sumur Tanpa Dasar tidak ada sub plot yang menjadi belokan-belokan cerita. Meskipun pengarang naskah ini menyatakan dirinya bebas untuk menganut atau dengan sadar menjadikan struktur dramatik siapapun sebagai bungkus lakonnya, namun pada struktur dramatik Sumur Tanpa Dasar, ada kesamaan dengan apa yang disebut sebagai struktur dramatik Aristotelian. Tipe lakon dari naskah ini adalah Tragikomedi. Model penokohan yang tampil adalah kombinasi model penokohan round character, flat character dan theatrical character. Gagasan zaman yang tampak dalam lakon ini adalah gagasan dari gerakan kesenian paska perang dunia ke-1 yaitu ekspresionisme dan konvensi estetik yang juga berkembang kemudian dalam masa yang sama dan akhirnya saling mempengaruhi yaitu surealisme dan simbolisme . Dalam pengungkapan ide-idenya kedalam lakon, pengarang naskah tidak kehilangan nuansa lokalnya. Lokalitas yang khas dari gaya Arifin tetap terjaga dalam lakon ini.

2
Sumur Tanpa Dasar tak akan ada kalau Jumena tidak berpikir, tidak berprasangka, tidak melihat dunia ini dengan kacamata suram. Ini adalah lakon pikiran, naskah ini di dominasi oleh khayal Jumena, hasrat, ketakutan dan segala yang bergejolak dalam batinnya adalah awal dari sandiwara ini. Lakon ini adalah gambaran segala hal yang berkecamuk di dalam diri seorang Jumena. Kalau Jumena mati tidak akan ada sandiwara ini.
Bangunan lakon ini tumbuh dari persoalan-persoalan dan pikiran yang meloncat-loncat yang berasal dari kepala main character, Jumena Martawangsa, yang penuh kejutan, tekanan dan cekaman. Naskah ini adalah naskah yang massif. Dialog-dialognya menukik ke inti permasalahan. Tempo berlangsung dengan cepat, suasana padat dan penuh ketegangan, Pokok permasalahan lakon adalah Keberadaan dan Keimanan sebagai batang yang menumbuhkan ranting-ranting pikiran lalu menumbuhkan bunga-bunga persoalan, persoalan yang biasanya dikemukakan kaum eksistensialis, materialis, rasionalis, atheis, agnostic, mistis, dan sufi, tumbuh subur dalam lakon ini. Sumur Tanpa Dasar adalah sebuah lakon yang menampilkan konflik metafisis dan theologis dalam balutan problematika kejiwaan. Pada hakekatnya lakon ini adalah sebuah monolog panjang Jumena Martawangsa yang ‘beriman’ kepada pikiran.

3
Sebagaian besar kerja penyutradaraan saya kali ini adalah mendramatisasikan kehidupan batin Jumena Martawangsa sang main character. Segala yang terpikirkan main character menjadi adegan. Ini sesuai dengan kata-kata yang dia lontarkan di awal-awal adegan ini. “Kalau saya bunuh diri sandiwara ini tidak akan pernah ada” atau ”kalau saya tenang tak akan pernah ada sandiwara ini”. Sandiwara, lakon, teater ini adalah suasana ketidaktenangan Jumena menghadapi hidup di ambang ajalnya yang mendekat. Begitu buruk dan suram gambaran yang tercipta namun sekaligus komis.
Begitu dalam Sumur yang dimiliki Jumena hingga tak berdasar, hingga dia tidak pernah selesai dan tidak pernah sampai dalam memikirkan segala yang teralaminya. Namun Jumena tidak mau berhenti berpikir, dia tetap saja berpikir, pikirannya ini menimbulkan percikan khayal yang beragam, komis sekaligus tragis. Menarik sebenarnya pikiran Jumena ini, bagi kita bahkan bagi dirinya, sehingga dia berkata, bahwa pikiran yang meyiksa ini adalah kenikmatan. Seperti kesenangan Jumena menyiksa dirinya sendiri dengan pikiran yang buruk, itulah kenikmatan, seperti sado masokisnya Marquis de Sade. Hanya de Sade menyiksa tubuhnya sementara Jumena menyiksa yang bukan tubuhnya. Maka kemudian lahirlah peristiwa dengan pelaku-pelaku peristiwa yang berjalan dalam pikir-khayal Jumena. Dalam kepala Jumena, peristiwa ini datang beriringan bersama para tokohnya, berbaris seperti karnaval.

5
Dalam kerja penyutradaraan di Sumur Tanpa Dasar saya melakukan reinterpretasi tafsir terhadap gagasan artistik pengarang naskah. Lakon ini dikembangkan dan dikuatkan dengan gagasan artistik yang berfungsi menebalkan makna. Saya ingin menciptakan nilai pada setiap peristiwa pemanggungan dengan jalan menemukan hubungan antara teks dan gambaran peristiwa. Maka dirancanglah gaya ucap dari kata-kata dan kalimat dalam teks dan dipertautkan dengan pola tampilan dari adegan sehingga menjadi gambar peristiwa yang menjelma simbol dan atau makna. Cerita kemudian diperlihatkan melalui karakter, setting dan fakta-fakta lain yang bertujuan mencapai nilai simbolis.
Saya merancang pertunjukan ini bersama kawan-kawan pendukung dengan konvensi estetik ekpresionisme, surealisme dan simbolisme, sesuai dengan apa yang jadi gagasan zaman dan semangat penciptaan lakon ini. . Di dalam ekspresionisme kehidupan batin di dramatisasikan, dalam surealisme pengalaman metafisis dan mimpi dihadirkan bersamaan dengan kejadian sehari-hari, dalam simbolisme hubungan antara kata dan gambar/tampilan visual mencoba saling menemukan hubungan. Semua konvensi estetik ini secara fundamental merupakan penolakan terhadap prinsip-prinsip estetik realism yang dinilai terlalu statis.
Emphasis garapan dari pertunjukan ini berkenaan dengan eksplorasi mengenai kehidupan batin yang dihadirkan dan diwujudkan di atas panggung. Lakon ditampilkan di atas panggung dalam kombinasi dunia nyata dan tak nyata. Efek tata cahaya dibuat ekspresif dengan gerakan cepat, perpindahan gelap dan terang, perubahan warna, menghadirkan siluet dan membentuk gambar. Pergerakan aktor-aktor adalah imitasi watak. Pola blocking adalah picturesque dalam tata cahaya, warna kostum, karakter rias dan tekstur benda-benda di atas panggung. Music dalam pementasan ini adalah pelipatgandaan suasana dan intensitas peristiwa.
Dengan memilih kombinasi konvensi ini maka realitas akan digambarkan lewat konsep stilisasi. Hal-hal yang riil akan berubah, bermetamorfosis menjadi bentuk yang terlemparkan dari bentuknya semula. Bentuk ini dalam visualisasinya menampilkan skeneri yang anti realistik dan menolak konsep ilusi

6
Pendekatan penyutradaraan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis. Menemukan hasrat dan kecenderungan psikologis mereka, mencari tahu dunia dalam pemain, mengenali dunia dalam pemain, mengetahui titik optimal mereka yang mesti dimunculkan ke permukaan, dan memberi jalan pada aktor-aktor untuk melontarkan kemampuannya sampai titik terjauh agar bisa mencapai ekspresi yang paling optimal dalam memerankan tokohnya.
Pendekatan psikologis adalah membongkar sisi terdalam pemeran untuk diserahkan kepada peran dan menyusun diri menjadi karakter yang diinginkan peran. dengan ini maka diambil langkah-langkah untuk tidak mencetak materi atau tubuh pemeran di awal latihan. Yang pertama dilakukan adalah menunjukkan jalan peran lewat motivasi tindakan. Saya mempercayai ekspresi tubuh berasal dari ekspresi ‘bukan tubuh’. Jika motiv tindakan telah ditemukan maka tubuh bergerak mengikuti tujuan-tujuan tindakan peran atau laku peran.
Jika motiv tindakan ini sudah ditemukan, kemudian dicari motiv-motiv lain sehingga tercipta ragam motiv yang akan mengaktifkan dunia dalam pemain. Ragam motiv ini akan membuat pemain menjadi penuh dengan tujuan tindakan. Maka terciptalah karakter gerak, mimik, gestikulasi, vokal, yang semuanya diarahkan oleh tindakan-tindakan. Meski beragam, motiv besar (leit motiv) haruslah ditemukan kemudian agar menjadi tujuan yang menyatukan segala ragam tujuan tersebut sehingga arah tindakan menjadi jelas.
Tahap selanjutnya adalah bersama-sama membentuk materi dalam perwujudan gestikulasi. Konsep pembentukan tubuh adalah; tubuh sebagai imitasi karakter. Tubuh yang mengekspresikan dunia dalam peran.
Setelah tahapan-tahapan ini dilalui, saya membebaskan diri saya dan diri para pemain untuk bereksplorasi, berlatih untuk menemukan gayanya sendiri. Membebaskannya dari konsep-konsep.
Tahapan terakhir adalah bersama-sama membentuk tenaga pertunjukan. Dalam tahapan ini, saya dan para pemain menganalisa kembali konsep garap yang menjadi acuan bersama.
Kemudian dituliskan segala hal mengenai latihan dan proses ini dalam sebuah Konsep Garap. Konsep garap yang saya buat adalah tiga hal besar mengenai segala sesuatu tentang naskah, tafsir terhadap naskah dan tafsir pertunjukan. Konsep garap disusun dengan tujuan sebagai pedoman penggarapan, pemetaan gagasan, dan sebagai bentuk pertanggung jawaban.

Irwan Jamal
Bandung, 16 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar