Selasa, 07 Juni 2011

= Pameran Lukisan Suitbertus Sarwoko & Widoyo “Suara Daun, Suara Hati”

Time
Friday, June 3 at 7:30pm - June 12 at 6:00pm

Location
Bentara Budaya Yogyakarta
Jl. Suroto No. 2 Kotabaru
Djogjakarta, Indonesia

Created By

More Info
Pameran Lukisan Suitbertus Sarwoko & Widoyo

“Suara Daun, Suara Hati”

di Bentara Budaya Yogyakarta
Jl. Suroto No. 2 Kota Baru Yogyakarta
Pembukaan Pameran : 3 Juni 2011 Pkl. 19.30 wib
Pameran untuk umum : 4 - 12 Juni 2011 Pkl. 10.00 - 18.00 wib

S. Sarwoko dan Widoyo dua karib dari lembah Menoreh alumni ISI Yogyakarta yang mencoba mengeksplorasi gelap terang ini dalam karya-karya mereka.
Sarwoko secara riil menerapkan teknik gelap terang ini dalam karya-karyanya yang cenderung bergaya surealis, sedangkan Widoyo menggarap kegelapan dalam kehidupan ini yang disimbolkannya dalam bentuk celeng atau babi hutan.
Memandang karya Sarwoko kita diajak mengembara dalam dunia maya yang dipenuhi dengan daun-daun jati yaitu sejatine godhong yang dia pelajari bertahun-tahun lamanya, dalam pengamatannya daun jati ini mempunyai karakter yang bermacam-macam, mulai dari tunas daun sampai menjadi daun kering yang mempunyai nilai artistik yang tinggi, dilihat dari bentuk dan teksturenya. Di tangan Sarwoko daun jati kering yang dianggap sampah oleh sebagian masyarakat menjadi sebuah karya yang imajiner, dia menyusun dan memadukan obyek-obyek lain dalam pusaran daun jati ini menjadi sebuah kesatuan bentuk imajiner seperti perahu pinisi, dinosaurus, burung purba dan lain sebagainya.
Dengan pewarnaan yang bright dan segar Sarwoko mengeksplorasi daun-daun jati ini dalam berbagai bentuk, karena menurutnya tidak ada daun jati kering yang sama persis bentuknya, daun jati kering selalu mempunyai bentuk yang berbeda karena proses penyusutan, maka terbentuklah varian daun jati tersebut. Dengan prinsip gelap terang dia memadukan obyek dengan background karyanya sehingga terjadi kontras yang diinginkannya. Karya-karya Sarwoko ini kelihatan dikerjakan dengan serius dan cukup jlimet dengan telaten dia melukis warna dan bentuk –bentuk obyeknya mendekati warna dan bentuk aslinya.
Sedangkan Widoyo dengan gaya simbolisnya mencoba mengajak kita untuk melihat kenyataan bahwa di sekitar kita telah terjadi kebusukan moral pada sebagain elite bangsa ini: korupsi, nepotisme, separatisme, teroris dan kebobrokan moral yang melanda bangsa ini, dia hanya bisa mengumpat “celeng” . Untuk mengekspresikan perasaannya tersebut dia lalu membuat simbol celeng atau babi hutan pada karya-karyanya.
Celeng dia eksplorasi secara intens selama beberapa waktu lamanya. Digambarkan celeng yang telah beranak pinak menyebar di seluruh dunia menjarah di berbagai wilayah termasuk di Indonesia .Kemudian para celeng tersebut selalu mengincar dan merayu orang-orang jujur yang digambarkan sedang bermeditasi agar supaya meditasinya batal, lalu ikut menjadi celeng. juga , atau celeng-celeng busuk yang digantung setelah dieksekusi .
Gelap terang yang diterapkan oleh Widoyo dalam teknik melukisnya seakan menjadi klop dengan tema karyanya yaitu tentang kegelapan yang identik dengan kejahatan dan terang yang identik dengan kebaikan. Widoyo banyak menggunakan warna merah pada latar belakang karyanya sebagai simbol kemarahannya, sekaligus menggambarkan keserakahan sang celeng.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar