Selasa, 30 Agustus 2011

= MOHON DUKUNGAN DAN PARTISIPASI

Time
Tuesday, August 30 at 12:00am - August 31 at 12:00am

Location
di HALAMAN FACEBOOK : http://www.facebook.com/album.php?aid=106633&id=1197141376

Created By

More Info
Saya mengundang Bapak- Bapak, Ibu- Ibu, dan Sodara-Sodara untuk menyimak pameran karya-karya lukisan saya “PLURAL PAINTING”.

Tempat di halaman FACEBOOK:
silakan klik http://www.facebook.com/album.php?aid=106633&id=1197141376
sedangkan karya dalam resolusi lebih baik dan jumlah karya lebih lengkap di :
1. http://wahyustudio.blogspot.com/2009/07/blog-post_2487.html
2. http://wahyustudio.blogspot.com/2009/07/blog-post_2350.html
3. http://wahyustudio.blogspot.com/2009/07/blog-post_02.html

SARASEHAN BUDAYA :
“MENYOROT KEHIDUPAN SENI LOKAL INDONESIA”
sebagai rangkaian acara pameran

tempat : di HALAMAN FACEBOOK
silakan klik di http://www.facebook.com/photo.php?pid=2056814&l=da3e0223eb&id=1197141376

___________________________________________________________

KONSEP KARYA :
Berkesenian adalah salah satu bagian dari perjalanan spiritual. Untuk memahami jalan spiritulitas ini,barangkali akan lebih mudah jika lebih dulu kita memahami sedikit filsafat Karl Jaspers. Dengan filsafat metafisikanya, Jaspers berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Siapa saya ?”, “Darimana saya ?”, “Apa tujuan manusia ?”, “Apakah Tuhan ada ?”, ataukah “Apakah Tuhan hanya suatu ide dari manusia ?”.


Bukan tempatnya di sini untuk mengupas filsafat metafisika ini secara panjang lebar. Namun, sesuai dengan kepentingan tulisan ini, perlu dikemukakan bahwa filsafat Karl Jaspers berkisar pada tiga kata, yakni “transendensi”, “eksistensi”, dan “chiffer”. Transendensi adalah nama untuk keilahian yang tersembunyi. Eksistensi adalah manusia yang berhadapan dengan transendensi. Chiffer adalah simbol-simbol yang berisi “pesan – pesan Tuhan” yang harus dibaca oleh manusia.

Chiffer adalah tanda-tanda rahasia yang ditulis oleh Tuhan yang masih diliputi misteri. Makna chiffer harus dicari sendiri oleh eksistensi. Bagi Jaspers, wahyu Ilahi tidak hanya terbatas pada periode tertentu saja dalam sejarah. Baginya, segala sesuatu adalah “wahyu”, karena segala sesuatu berbicara tentang Tuhan.. Chiffer-chiffer terdapat di dalam alam, sejarah, kesusastraan, seni, kitab suci, teologi, mitos, filsafat, dan lain-lain.


Keilahian berbicara melalui chiffer-chiffer dalam alam, sejarah, dan manusia sendiri. Tidak semua manusia bisa mendengan bahasa ini. Hanya mereka yang “terbuka” untuk ini yang yang bisa mendengarkan. “Terbuka” di sini, menurut hemat saya, adalah terbukanya aspek intuisi.

Intuisi, secara umum, adalah suatu pencerahan dari Ilahi yang diberikan kepada setiap manusia selaku khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Pencerahan dari Ilahi ini berbeda-beda pada setiap manusia, sesuai dengan sifat manusia yang khas dan unik. Untuk itu ia harus memiliki intuisi yang kuat, agar mampu memahami pencerahan-pencerahan yang dikaruniakan kepadanya, dengan cara menjernihkan hati dari pengaruh hawa nafsu. Untuk menjernihkan hati ini jalan yang terbaik adalah dengan mempelajari ajaran Tuhan yang tertulis dalam kitab suci sebagai rujukan utama, setelah itu memahami dan menghayati kenyataan alam. Yang perlu difahami bahwa intuisi ini tidak jarang bertentangan dengan pikiran dan perasaan. Jika seseorang dalam bersikap dan berbuat lebih condong mengikuti “suara” pikiran atau perasaannya, apalagi jika keduanya telah disusupi oleh hawa nafsu, maka “suara” intuisi ini menjadi kabur . Jika hal ini terjadi, maka manusia tersebut akan lemah dalam mengemban tugas dari Ilahi yang telah diamanatkan kepadanya melalui intuisi.


Mendengarkan bahasa chiffer merupakan pengalaman mistis.. Ia betul-betul ada dan dialami oleh manusia, tetapi tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi manusia harus memanifestasikan atau menkomunikasikan pengalaman spiritualnya ini demi kepentingan orang lain. Untuk itu diciptakan bahasa ke dua sebagai media perantara bahasa pertama. Yang dimaksud bahasa pertama tersebut adalah chiffer-chiffer itu. Namun, bahasa ke dua ini pun juga tidak bisa dipahami oleh kebanyakan orang, karena masih berbentuk chiffer-chiffer, yakni chiffer-chifer yang diciptakan oleh manusia. Untuk itu, diciptakan lagi bahasa ke tiga, yakni bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang.


Seorang seniman semestinya bisa membuka diri bagi pengalaman spiritual seperti itu. Dan kemudian menterjemahkan ke dalam bahasa ke dua, yaitu bahasa estetika. Sedangkan para apresiator atau kritikus seni menterjemahkan lagi ke dalam bahasa ke tiga supaya bisa dimengerti oleh dirinya dan masyarakat kebanyakan.


Pada saat berkarya,selain harus menjernihkan hati, saya tidak membatasi diri pada aliran, style, wilayah etnis, atau yang lain. Saya harus mampu menembus batas tembok-tembok tersebut. Justru temuan-temuan para pelopor, produk-produk budaya berbagai macam etnis dan periode jaman merupakan referensi yang sangat berharga. Semua itu akan mempermudah simbolisasi dari chiffer-chiffer yang ditangkap oleh intuisi. Karena untuk menterjemahkan bahasa chiffer kedalam bahasa ke dua, dibutuhkan keluasan dan kebebasan.


Untuk melukis dengan landasan intuisi ini, saya tidak perlu menyiibukkan diri untuk mencari-cari kekhasan agar menghasilkan karya yang berbeda dengan karya pelukis lain. Saya cukup mengikuti getaran intuisinya. Lantas bagaimana dengan persoalan jati diri dan kreatifitas ? Menurut hemat saya, kedua aspek itu akan muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dicari-cari. Karena sebenarnya kedua hal tersebut hadir bukan kareana rekayasa. Jati diri dibentuk oleh naluri pribadi. Setelah seorang pelukis dengan intens mengikuti intuisinya, secara otomatis jati diri akan tampak pada setiap karyanya. Sedangkan kreatifitas juga akan mengikuti, karena dari intuisi akan selalu muncul gagasan-gagasan yang bersifat aktual, kontekstual, dan orisinal.



PLURAL PAINTING


Dengan uraian di atas, saya mencoba untuk mengusung diskursus plural painting dalam beraktifitas seni. Melukis bagi saya adalah sebuah proses meditasi. Ia merupakan proses pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menterjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang saya gunakan berpijak pada gagasan PLURAL PAINTING. Artinya, untuk untuk menampilkan idiom-idiom agar relative bias mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi saya, maka saya mempergunakan idiom-idiom yang bersifat :

Multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu saya jelaskan terlebih dahulu istilah naluri alam, naluri pribadi ,gerak hidup dan intuisi. Naluri alam adalah suatu sistem yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengatur alam semesta beserta kehidupannya. Naluri alam ini terbagi menjadi dua macam, yakni naluri makro dan naluri mikro. Naluri makro mengatur sistem interaksi antar elemen-elemen alam semesta. Sedangkan naluri mikro mengatur sistem dalam diri tiap-tiap elemen alam. Dengan begitu, elemen-elemen alam tadi bisa dikenali dan disebut jenisnya. Misalnya, elemen yang bernama matahari, bulan , planet, gunung, laut, manusia, pohon, hewan, dan lain-lain. Masing-masing elemen tersebut masih memiliki nama yang lebih spesifik. Misalnya planet bumi, pohon beringin, hewan kuda, dan lain-lain.


Masing-masing elemen itu juga memiliki perbedaan karakter yang khas dan unik. Perbedaan karakter ini disebabkan masing-masing elemen tersebut memiliki naluri pribadi.

Dari naluri mikro dan naluri pribadi inilah maka sewajarnya bila sapi melahirkan anak sapi. Dan masing-masing anak sapi dari induk yang sama memiliki karakter yang berbeda-beda.

Naluri alam memiliki dua sifat , yaitu ada yang konstan (statis) dan dinamis. Sifat konstan berfungsi untuk menjaga keteraturan, keseimbangan, dan harmoni. Contoh sifat konstan dari naluri alam :

• Setiap elemen alam yang ‘ada’ pasti diawali ‘tidak ada’,

• Setiap elemen alam tidak ada yang bersifat tunggal,

• Setiap elemen alam tidak bisa lepas dari fitrahnya, dan sebagainya.

Seandainya ada salah satu elemen alam yang menyalahi nalurinya pasti akan mengakibatkan rusaknya sistem kehidupan. Oleh sebab itu, meski manusia dikaruniai akal dan pikiran sehingga bisa berkehendak, tapi kehendak itu hanyalah semu semata. Betapapun besarnya sebuah kehendak yang dimiliki oleh seorang manusia, ia tidak akan bisa bebas terwujud, tapi akan tunduk pada gelombang naluri alam.

Pasangan dari sifat naluri alam yang statis adalah dinamis; yaitu adanya perubahan dan perkembangan yang dimiliki oleh setiap elemen alam. Perubahan dan perkembangan ini bisa kita saksikan pada perubahan bentuk dan keadaan. Salah satu contohnya adalah peradaban dan kebudayaan manusia , yang selalu berubah dan berkembang dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi. Perubahan dari elemen alam ini disebabkan oleh gerak hidup dari naluri alam.

Gerak hidup adalah sesuatu yang misteri, yang tidak bisa dipahami dan diketahui dengan pasti. Ia hanya bisa dirasakan dorongan dalam hati. Hanya orang-orang yang dikaruniai Tuhan saja yang mampu menafsirkan. Dan “rasa” dari gerak hidup itu hanya bisa tertangkap bila perasaan dan pikiran terendapkan, baik melalui proses meditasi atau pada saat perasaan dan pikiran terheningkan sejenak.


Dalam berkarya seni, saya berusaha untuk membuka diri terhadap dorongan-dorongan yang muncul dari dalam hati. Menurut saya, pelukis siapapun, sebelum berkarya pasti diawali keinginan untuk mengungkapkan “sesuatu” yang muncul dari dalam hatinya. Tapi “sesuatu” ini tidak mudah untuk dimengerti. Bahkan kadang-kadang karena sesuatu sebab,“sesuatu” itu ditafsirkan tidak sesuai dengan yang ada dalam hatinya, bahkan bisa jauh sama sekali. “Sesuatu” itu yang saya sebut intuisi. Dan intuisi inilah merupakan refleksi dari gerak hidup naluri alam.

Memang bagi saya pribadi tidak mudah untuk menterjemahkan intuisi yang muncul secara tepat dan benar. Oleh sebab itu, dalam menvisualisasikan intuisi hanya sebatas menghadirkan impresinya saja. Sehingga masih perlu ditafsirkan lagi.


Dalam proses menvisualisasikan impresi dari intuisi, agar bisa mendekati tepat dan benar,saya berusaha untuk memperkaya referensi dengan cara mengenal sebanyak mungkin berbagai ragam bentuk dari berbagai etnik di setiap tempat dan segala jaman. Di samping itu, juga berusaha untuk sebanyak mungkin mengenal dan mempelajari berbagai macam gaya dan teknik pengungkapan. Entah itu melalui eksperimen dan eksplorasi yang saya kembangkan sendiri atau dengan cara melihat dan mempelajari gaya dan teknik yang pernah dihadirkan oleh seniman-seniman lain. Dengan semakin banyak referensi akan semakin mempermudah bagi naluri pribadi saya untuk memberikan tuntunan dalam penyusunan elemen-elemen suatu karya.


Bentuk, gaya, dan teknik pengungkapan merupakan elemen-elemen untuk membangun ruangan yang memberi impresi yang berasal dari intuisi. Oleh karena suatu karya adalah impresi, maka tidak perlu bagi saya untuk mempelajari dan memahami secara detail dan spesifik berbagai ragam bentuk etnis, atau gaya dan teknik dari seniman lain. Yang saya pinjam hanyalah nuansa dan spiritnya saja. Maksudnya, bahasa visual yang saya hadirkan tidak terikat pada makna, kaidah-kaidah baku atau idiom yang telah disepakati oleh suatu komunitas. Bahkan, yang lebih sering saya lakukan adalah mengadakan perubahan dan menciptakan bentuk-bentuk baru.


Dengan demikian, masing-masing saya karya tidak dibatasi oleh wilayah etnis, style, dan teknik tertentu. Ia bersifat multi-etnis, multi style, dan multi teknik. Menembus batas. Hal ini saya lakukan guna mendekati ketepatan dan kebenaran dalam membangun ruangan impresi untuk menterjemahkan intuisi-intuisi yang yang muncul. Untuk mempermudah penyusunan elemen-elemen tersebut, karya-karya saya kadang-kadang terbagi dalam panel-panel. Namun demikian, tidak semua wujud karya saya terbagi menjadi beberapa bidang atau panel yang cenderung meniadakan center of interest. Tidak sedikit juga yang berbentuk konvensional, yaitu berbentuk satu panel atau terdapat penonjolan obyek tertentu. Hal ini bisa terbentuk dengan sendirinya, bisa juga karena disengaja. Pada proses yang disengaja ini, disebabkan oleh dorongan intuisi yang sangat kuat dalam diri saya untuk menampilkan obyek atau adegan tertentu. Proses-proses kreatif seperti itu sesuai dengan konsep berkesenian saya yang tidak saya batasi pada kerangka yang sempit, tapi bebas dan terbuka terhadap intuisi yang muncul.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, dalam berkarya seni saya ibaratkan seperti membangun ruangan, maka masing-masing bidang memiliki peranan yang sama. Tidak ada bidang utama, juga tidak ada bidang penunjang. Demikian halnya dalam penyusunan elemen-elemen karya, elemen-elemen tersebut memiliki kedudukan yang sama atau tidak ada dominasi elemen tertentu atas elemen-elemen yang lain. Dominasi itu entah karena perbedaan warna yang mencolok, pengaburan pada elemen yang tidak diutamakan, atau karena yang lain. Menurut hemat saya, penonjolan elemen tertentu pada suatu komposisi sama halnya dengan mengeksploitasi dan membatasi pengamat dalam mengembangkan imajinasinya sendiri. Dengan melakukan peniadaan center of interest serta memperlakukan sama pada masing-masing elemen, merupakan suatu penghargaan terhadap pluralitas pengamat. Karena setiap orang pasti memiliki selera, latar belakang sosial-budaya, dan karakter yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam proses apresiasi, pengamat bisa berangkat dari mana saja. Bisa dari obyek, style, atau teknik yang paling menarik perhatiannya. Entry point ini bila membuat pesona bagi pengamat akan menstimuli perhatiannya untuk mengembara ke semua penjuru bidang karya. Dengan terciptanya proses komunikasi yang intens antara karya dan pengamat , di mana masing-masing pengamat pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda, maka karya tersebut akan memberi peluang terjadinya multi-tafsir atau multi-interpretasi. Proses apresiasi ini pada akhirnya diharapkan akan memberi pengalaman estetis dan bermuara pada kesenangan, kedamaian, atau bahkan pencerahan batin.

Secara ideal, memang dalam proses apresiasi, apresiator harusnya membuang jauh-jauh pengalaman-pengalaman pribadi dan mengabaikan seleranya. Karya yang ada harus disikapi sebagai sesuatu yang independen, sebagaimana adanya, tidak perlu dikait-kaitkan dengan sesuatu di luar karya tersebut. Tetapi, bisakah setiap orang mampu bersikap seperti itu ? Dan dimana penghargaan manusia sebagai eksistensi ? Bagi saya, ukuran keberhasilan proses apresiasi terhadap suatu karya adalah seberapa jauh, seberapa lama, dan seberapa banyak pengamat yang bisa merasa akrab dengan karya tersebut.


Demikian pandangan seni yang sementara saya fahami. Dan tidak menutup kemungkinan akan berkembang seiring dengan perjalanan waktu dan gerak hidup dari naluri pribadi saya.

Terima kasih atas kunjungannya.

Salam damai dan sejahtera,
Wahyu Nugroho

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar