Selasa, 16 Agustus 2011

= Ngabubucin: Parade Film Perang Tanah Air

ime
Monday, August 15 at 3:00pm - August 21 at 3:00pm

Location
Jl Patehan Wetan No 3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta

ForIndonesia Buku

More Info
Pengantar "Ngabubucin": Parade Film Perang Tanah Air

Sulit pungkiri, karena kelindan beberapa peristiwa penting dalam sejarah republik, Bulan Agustus lekat dengan semangat untuk merefleksikan kembali nasionalisme. Beragam refleksi tersebut hadir dalam tataran simbolik mulai dari pengecatan gapura kampung, hingga perdebatan wacana di kolom opini surat kabar prestisius. Produk-produk kebudayaan populer, tak luput pula dari gagasan reflektif soal nasionalisme.

Film sebagai sebuah artefak kebudayaan populer, kerap kali dimanfaatkan untuk memantulkan semangat reflektif serupa. Keberadaan genre perang/perjuangan dalam sejarah sinema tanah air merupakan salah satu contoh nyatanya.

Apabila kita sepakat dengan hipotesis Misbach Yusa Biran ditambah keputusan politis konferensi kerja Dewan Film Indonesia pada 11 Oktober 1962, film yang patut disebut sebagai tonggak film nasional adalah “Darah dan Doa” (1950) karya Usmar Ismail, sebuah film yang tentunya dapat masuk ke dalam kategorisasi “perang”/”perjuangan”. Merujuk pendapat Misbach, film Usmar itu adalah yang pertama kalinya menawarkan pergulatan ide tentang bagaimana republik yang baru lahir akan dibawa, dan karenanya otentik untuk menyandang status sebagai pionir film “nasional”[1].

Dalam lintasan sejarahnya, film perang oleh berbagai sineas hadir mengusung gagasan nasionalisme kritis atau seringkali jatuh menjadi heroisme semu yang mudah jatuh ke dalam propaganda fasisme, dan bahkan sekadar film hiburan an sich. Intinya, film perang cukup kaya akan agenda baik tekstual maupun kontekstual, walaupun penamaan genre-nya sangat boleh menyempitkan cara kita membaca film-film tersebut: melulu sekadar film dengan gagasan soal heroisme dalam peperangan.

Dalam bingkai kehati-hatian tersebut, Cine Book Club Yogyakarta, bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Buku berusaha mengajak segenap penonton film untuk memanfaatkan masa seminggu momen di Bulan Agustus kali ini untuk merefleksikan ulang perjalanan film-film perang yang pernah berseliweran di jagat sinema Indonesia. Atas dasar kebetulan pula, karena Bulan Agustus tahun ini bertepatan dengan Bulan Ramadhan, maka tim Cine Book Club lantas menyematkan nama pada kegiatan pemutaran ini: “NgabubuCin” (Ngabuburit dengan Cinema).

Penamaan itu sederhana saja muasalnya. Malam Ramadhan pastilah banyak digunakan untuk beribadah bagi kawan-kawan muslim. Sementara, saat sore hari, masyarakat Indonesia sangat akrab dengan aktivitas menghabiskan waktu menunggu buka puasa. Maka kami menawarkan dua aktivitas dalam satu waktu. Niatan pertama mungkin agak adiluhung, mengajak pemirsa yang berminat meninjau ihwal apa saja yang terekam dalam sejarah film “perang” dan “perjuangan” kita selama ini. Sementara agenda kedua barangkali lebih profan tampaknya.

Acara ini akan menyediakan wahana bagi kawan-kawan sekalian menghabiskan waktu menanti buka puasa, dengan menonton sinema. Oportunis? Mungkin.

Namun, selebihnya, Kami dari cine book club berharap selama seminggu ,pemutaran tematik ini semoga dapat memberi banyak hal bagi kawan-kawan semua. Untuk itu, berikut daftar film-film yang akan kita putar di Studio 2 Cine Book Club, Patehan Wetan no. 3, Keraton, Yogyakarta setiap pukul 15.00 WIB (khusus pemutaran tanggal 18 dilaksanakan mulai pukul 13.00 WIB):

1. [15 Agustus 2011] “November 1828” (127 menit, diputar pukul 15.00)
Film karya Teguh Karya produksi 1979 ini diputar pertama kali sebagai perwakilan film perjuangan dengan lokus utama perang kedaerahan. Inilah masa saat kesadaran kolektif sebagai bangsa belum tumbuh. Perjuangan melawan penjajah berlangsung di daerah masing-masing. Mengambil fragmen Perang Diponegoro, Teguh Karya berhasil menghadirkan latar abad 19 secara jitu berikut konflik aktor-aktor yang terlibat dalam peperangan lokal tersebut. Berangkat dari sudut pandang Kapitein De Borst (Slamet Rahardjo), indo yang sangat ingin jadi Belanda murni, penonton dibawa dalam kisah tentang perjuangan maha liat dari masing-masing pihak, kolonial Belanda maupun rakyat Yogya beserta kelompok perlawanan yang dipimpin Sentot Prawirodirdjo.

2. [16 Agustus 2011] “Tjoet Nja’ Dhien” (127 Menit, diputar pukul 15.00)
Kerap disebut-sebut sebagai salah satu puncak gemilang capaian sinema Indonesia, film garapan Slamet Rahardjo Djarot tahun 1986 ini memang bergelimang penghargaan. Terutama di ajang Festival Film Indonesia 1987. Melejitkan aktris Christine Hakim yang berperan sebagai Tjoet Nya’ Dhien, film ini dapat dibaca sebagai film mengenai kekuatan perempuan, kerumitan menjaga identitas, atau paparan kompleks sebuah upaya menjaga kemanusiaan di tengah medan pertempuran. Sebuah film yang memang patut ditonton ulang dan dibicarakan oleh setiap generasi. Mewakili pula film perang dengan latar perjuangan daerah.

3. [17 Agustus 2011] “Darah dan Doa” (127 Menit, diputar pukul 15.00)
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, film ini bahkan telah ditahbiskan secara politis sebagai film pertama dengan gagasan nasionalis, dan karenanya disebut sebagai film nasional pertama. Bercerita mengenai rombongan pasukan Siliwangi yang hijrah pimpinan Kapten Sudarto (Del Juzar). Fokusnya pada Kapten Sudarto yang dilukiskan bukan bagai "pahlawan", tapi lebih sebagai manusia. Meski sudah beristri di tempat tinggalnya, selama di Yogya dan dalam perjalanan ia terlibat cinta dengan dua gadis. Romantika nan pelik di tengah kecamuk nasib republik yang masih goyah tahun 1950. Mewakili film dengan latar peperangan yang sudah menabalkan status perang kemerdekaan.

4. [18 Agustus 2011] “Enam Djam di Jogja” (116 Menit, diputar pukul 15.00)
Sekali lagi dari Usmar Ismail, diproduksi tahun 1951. Senarai kisah mengenai gerilya rakyat selepas Yogyakarta diduduki Belanda (Desember 1948). Dilukiskan di dalam film ini kerja sama antara rakyat, tentara dan pemerintah. Sudut pandang unik film ini muncul dari penggambaran multi-sudut pandang, tentang respon masing-masing pihak terhadap upaya perlawanan balik dari gerilyawan Republik tersebut. Ada sudut pandang dari rakyat baik yang pro maupun kontra terhadap pejuang, tentara pengecut, pihak Belanda sendiri. Film dengan kisah global dan menjadi cetak biru film perang yang tak hanya memberi ruang bagi pejuang fisik, tapi juga rakyat, yang hampir-hampir tanpa nama.

5. [19 Agustus 2011] “Janur Kuning” (127 Menit, diputar pukul 13.00)
Seringkali dicap sebagai film “plat merah”. Sulit dielak, faktanya memang karya Alam Surawidjaja ini memberi porsi karakterisasi terbesar pada kepemimpinan Soeharto (diperankan oleh Kaharudin Sjah) di saat pelaksanaan Serangan umum 1 Maret untuk merebut sementara Yogyakarta dari cengkraman Belanda. Pada masanya, tahun 1979, film ini menjadi film termahal Indonesia dari segi biaya pembuatan. Film ini juga berhasil menjadi ikon representatif film perang Indonesia, terlepas dari muatan politis di belakangnya.

6. [20 Agustus 2011] “Pasukan Berani Mati” (127 Menit, diputar pukul 15.00)
Sutradara Imam Tantowi tak tanggung-tanggung, berhasil membuat sebuah film perang yang tak hanya menampilkan pesan-pesan mengenai heroisme namun juga hiburan. Benar sekali, hiburan. Untuk itu, film ini malah patut diapresiasi kembali. Adakah cerita mengenai balas dendam sekelompok tentara gerilya yang pemimpinnya terbunuh oleh Belanda secara nekat itu menghibur? Kita nantikan komentarnya lebih lanjut pasca-pemutaran.

7. [21 Agustus 2011] “Merah Putih” (109 Menit, diputar pukul 15.00)
Genre perang sempat mati suri lama walau film Indonesia sempat memiliki momentum bangkit pasca-reformasi. Film perang akhirnya kembali diproduksi tahun 2009. Kritik menghujani film bikinan Yadi Sugandi tentang enam orang pemuda dengan dari latar belakang yang berbeda-beda sedang mengikuti pelatihan militer sekitar tahun 1947 tersebut. Namun, menarik untuk dibicarakan bersama kemudian, bagaimana sineas kekinian merefleksikan gagasan nasionalisme berbungkus perang kemerdekaan, untuk konsumsi penonton. Maka silahkan luangkan waktu sejenak melihat kembali film ini bersama-sama.

*Catatan ini sekaligus diniatkan sebagai undangan kegiatan Cine Book Club Yogya. Silahkan disebar ke kawan-kawan yang lain. Salam!

Catatan kaki:
[1] Bantahan terhadap pendapat Misbach telah muncul melalui hasil penelitian Charlotte Setijadi-Dunn (La Trobe University) dan Thomas Barker (National University of Singapore) dalam artikel “Membayangkan ‘Indonesia’: Produser Etnis Tionghoa dan Sinema pra-Kemerdekaan” Asian Cinema Journal, Vol. 21, No. 2, Fall/Winter 2010 (Temple University, USA). Menurut mereka, argumen Misbach perlu diperiksa kembali secara kritis karena dengan sengaja meminggirkan peranan sineas Tionghoa dalam kurun waktu senjakala Hindia Belanda dan permulaan pendudukan Jepang. Sineas-sineas Tionghoa tersebut, meski menciptakan film komersial dan melulu menjual eksotisme unsur-unsur kebudayaan lokal, menurut Baker dan Dunn telah berjasa menelurkan gagasan soal representasi Indonesia pra-kemerdekaan, terutama pada khalayak Hindia Belanda maupun dunia pada umumnya.

Ardyan M Erlangga, penjaga studio Cine Book Club

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar