Jumat, 15 Oktober 2010

= Instalasi 'Gajah dan Menapaki Jejak' Hedi Heriyanto


Instalasi 'Gajah dan Menapaki Jejak' Hedi Heriyanto


Time
Thursday, September 23 at 8:00pm - October 20 at 10:00pm

LocationTeater Salihara
Jl. Salihara no.16 Pasar Minggu, Pejaten Barat (dekat UNAS)
Jakarta, Indonesia

Created By

More Info
Kamis-Rabu, 23 September -20 Oktober 2010 08:00 - 22:00 WIB
Instalasi - Festival Salihara 2010
Gajah dan Menapaki Jejak
Teater Salihara

Gajah dan Menapaki Jejak Dua pematung ini menggunakan dua material yang berbeda. Joko Dwi Avianto menggunakan bambu, yang identik dengan alam yang tumbuh seakan-akan tanpa campur-tangan teknologi, sementara Hedi Hariyanto menggunakan kaleng bekas minuman ringan, yang merupakan hasil dari dunia industri (peleburan kaleng dan minuman ringan). Keduanya sama-sama menanggapi satu perubahan yang terjadi di sekitar kita. Alam yang terus dirangsek oleh industri dan, sebaliknya, industri yang terus-menerus mencoba memanjakan hidup kita.

Joko yang keluaran Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, ini membangun gajah dari bambu yang dirancang sehingga berkelindan sedemikian rupa. Tapi gajah dalam instalasi Joko adalah gajah yang mengalami pemiuhan sedemikian rupa. Ia menyerupai bayi jangkrik raksasa dengan belalai yang melengkung-kaku. Tubuhnya diekspose sehingga tampaklah jalinan bambu hijau yang rumit sekaligus tertib. Pada bagian badan, terutama. Sementara kakinya tampak lurus-kaku, jauh dari kesan kaki gajah yang selama ini kita kenal. Pada akhirnya, yang lurus memang akan menyanggah yang ruwet dan berkelindan, dan keduanya sama-sama membangun tampakan luar yang menyihir mata.

Bambu adalah material yang telah dipilih pematung kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 1976, ini dalam sejumlah instalasi sebelumnya, di samping bambu, rotan, tali, dan kawat. Pada happening art “Apa Ini, Apa Itu” di Klungkung, Bali, 29—31 Desember 2009, Joko juga menggunakan bambu yang menghubungkan dua pohon kelapa di studio I Wayan Sujana Suklu. Bambu-bambu itu dirangkai sedemikian rupa membentuk keranjang yang membebat dua pohon kelapa yang berdekatan. Instalasi itu bukan hanya menyuratkan kekuatan tetapi juga keramahan terhadap alam.

Sementara Hedi Hariyanto, jebolah Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menampilkan instalasi seni judul “Menapaki Jejak”. Ia membuat terowongan berukuran 153 cm x 180 cm seluruhnya dibangun dari kaleng-kaleng minuman ringan. Terowongan itu ada dua. Yang pertama sepanjang 308 cm dan yang kedua 410 cm. Di dalamnya ada semacam tangga di mana pengunjung bisa menapaki terowongan kaleng itu dan menikmati kekuatan rupa dari aneka kaleng yang disusun rapi—mengingatkan kita pada “100 Cans” Andy Warhol. Pesannya cukup jelas. Dalam dunia kapitalisme mutakhir, kita sebenarnya meneruskan atau mengikuti apa yang telah ditempuh orang lain, terusama dalam soal mengonsumsi makanan dan minuman. Semua itu terjadi karena rayuan iklan, tentu saja.

Hedi Hariyanto yang lahir di Malang, 18 November 1962, selama ini dikenal sebagai pematung yang sangat peka terhadap persoalan sosial-budaya yang terjadi di Indonesia. Sejumlah instalasinya, sebutlah Where is My Mom merupakan kritiknya terhadap kebiasaan para bunda yang lebih suka memberikan susu bikinan pabrik ketimbang ASI-nya sendiri. Ia telah mencatatkan sejumlah prestasi penting dalam kariernya sebagai pematung. Misalnya, pada 1990 ia digelari “Pematung Terbaik” oleh kampusnya ISI Yogyakarta. Pada 2005 ia memenangi kompetisi monumen “Kudus Kota Kretek” di Kudus, Jawa Tengah.

==========================================

Thu-Wed, 23 September -20 October 2010 8:00am - 8:00pm
Site-Specific Instalations
Festival Salihara 2010
Elepahant & Tracing The Trails
Salihara Theater

Gajah dan Menapaki JejakThese two sculptors use two different materials for their works. Joko Dwi Avianto utilizes bamboo, reminiscent of our natural world, growing as though uninfluenced by technology; while Hedi Hariyanto works with soda cans, a product of our industrial world (the combination of aluminum cans and soda pop). Both artists address the states of change at work around us. The natural world is being pushed aside by the advances of industry; while on the other hand, the industrial world continues to provide for our creature comforts.

Joko, who graduated from the Arts and Design Faculty at Institut Teknologi Bandung (ITB, Bandung Technology Institute), built an elephant out of bamboo, designed to twist and turn in such a way. The elephant in Joko’s installation is a distorted elephant, to a point that it even resembles a giant grasshopper nymph with a rigidly-curved trunk. Its body is exposed, displaying a complicated-yet-systematic intertwining green bamboo. This is especially true when one looks at its torso. Meanwhile, its legs seem rigidly straight, far from the sense of an elephant that we’re used to. In the end, the straight will sustain the complicated. Together they create an outer facade that bewitches the eyes.

Bamboo is a material that has been chosen by this artist—born in Cimahi, West Java, in 1976—in a number of his previous installations, in addition to rattan, ropes, and wires. During a happening art show “Apa Ini, Apa Itu”[What is this, what is that] in Klungkung, Bali, 29-31 December 2009, Joko used bamboo to connect two coconut trees standing in I Wayan Sujana Suklu’s backyard. Pieces of bamboo were arranged in such a way to create a basket surrounding the two trees standing close to each other. This installation did not merely advertise strength, but also to show an amicable relationship towards nature.

On the other hand, Hedi Hariyanto, a graduate from Institut Seni Indonesia (ISI, Indonesian Art Institute), Yogyakarta presents an art installation titled “Menapaki Jejak” (Tracing the Trails). He created a 153x180cm tunnel entirely out of soda cans. There are two such tunnels. The first one is 308cm long, the other is 410cm long. Within them is a sort of stair where visitors can trace their way through the tunnels, enjoying the magnitude of form created by the neatly organized cans—reminding us of Andy Warhol’s “100 cans”. The message is quite clear. In our modern capitalist world, we are continuing or following what others have done, especially when it comes to food and drink. All of which are caused by advertisements, of course.

Hedi Heriyanto was born in Malang, 18 November 1962, and has been known as a sculptor who is very conscious of socio-cultural issues in Indonesia evident in a number of his installations, such as Where is My Mom which critiques the tendency of those mothers who preferred to nurse their child with factory-made milk rather than her own. He has achieved several important accolades as a sculptor. In 1990 he received ‘Best Sculptor’ award from his campus at ISI Yogyakarta. In 2005, he won a monument competition “Kudus Kota Kretek” in Kudus, Central Java.

=========================================

Informasi Acara & Tiket Pertunjukan

Informasi acara & reservasi tiket (kecuali pameran)
021-789-1202, 0817-077-1913
0857-193-111-50, 0812-8184-5500, 021-9974-5934
melan@salihara.org, dita@salihara.org
Informasi pameran & Galeri Salihara
021-9619-2632, ipiet@salihara.org

Pemesanan dapat dilakukan melalui telepon, SMS, dan/atau online di www.salihara.org
Pembayaran dapat dilakukan secara langsung di loket Salihara, atau transfer/setor ke BCA No. 450-30-17108 a.n. Yay. Utan Kayu.
Pembayaran melalui transfer dianggap sah setelah bukti transfer difaks ke 021-781-8849. Bukti transfer asli wajib ditunjukkan saat mengambil tiket.
Pemesanan tiket yang tidak dilunasi dalam 3 hari akan dianggap batal.
Pemesanan tiket pertunjukan ditutup pada hari H-2 pukul 17:00 WIB. Setelah itu, loket Salihara hanya melayani pembelian secara langsung.
Pelajar/Mahasiswa yang ingin mendapatkan tiket harga khusus wajib membawa kartu pelajar/mahasiswa.
Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan.
Pers yang ingin meliput wajib memberi konfirmasi maksimal hari H-1 pukul 17:00 WIB, karena jumlah tiket pers sangat terbatas.

Waktu Operasional
Waktu operasional untuk seluruh komunikasi dan Loket Salihara
Senin-Jumat, 09:00-17:00 WIB
Sabtu, 16:00-19:00 WIB
Minggu dan hari libur nasional tutup, kecuali ada acara
Bila ada acara, waktu operasional diperpanjang hingga pukul 21:00 WIB
Waktu operasional khusus pameran
Senin-Sabtu, 11:00-20:00 WIB
Minggu dan hari libur nasional tutup


Write something...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar