Kamis, 21 Oktober 2010

= Djajus Pete

Saya sebagai pengarang sastra Jawa, awalnya sama seperti para pengarang pada umumnya, yakni : menekuni sastra realis yang menceritakan dunia kenyataan seperti yang tampak. Dalam perjalanan mengarang setelah 15 tahun menulis realis, imajinasi saya yang melesat-lesat terasa gerah di sastra realis yang sempit, karena hidup ini tidak hanya berisi seperti yang tampak .Hidup penuh kelebat misteri di dalam batin yang sulit dijelaskan adanya. Kenyataan batin yang tak tampak ini tidak akan mungkin tergarap di sastra realis. Jadilah kemudian saya juga menjelajah sastra simbolis, melukiskan melalui lambang-lambang, yang di balik lambang, menyiratkan makna.
Juga kujelajahi sastra surealis yang rumit lebih ke dalam, penemuan artistik yang terhubung ke alam pikiran bawah sadar. Di sastra simbolis, surealis , imajinasi saya lebih leluasa bergerak , menembus ke mana pun, tanpa batas. Mungkin suatu saat, saya tertarik menulis cerita tentang mimpi ketemu arwah Nabi, entah Nabi siapa, berbincang serius tentang dunia. Sastra realis jelas tidak akan sanggup menulis cerita seperti itu, akan dibantah orang-orang realis, bahwa itu sangat tidak mungkin, karena arwah tidak tampak, apalagi arwah Nabi, bohong belaka. Pengangum sastra surealis yang bisa menerima, yang tidak mempersoalkan tentang pertemuan dengan arwah, atau yang aneh-aneh lainnya, kecuali makna apa, bobot nilai apa yang diangkat pengarang. Nilai moral, filsafat atau relegi yang menjadi kandungan isi cerita. Menarikkah pengarang menceritakannya dengan kreatif dari kepekaaan imajinasinya?
Pandai bercerita dan imajinasi, dua unsur penting dalam cabang seni. Kekuatan imaji adalah juga kekuatan menggali ide-ide orisinal. Ide-ide murni yang bukan dari meniru karena tiruan bukanlah seni. Sastra sebagai seni, menuntut orosinalitas dan sastra yang baik, sanggup menyelami kedalaman batin manusia yang rumit dan pelik. Sastra, realis, simbolis maupun surealis, menggarap kehidupan yang sama, yaitu dunia cerita manusia yang tak pernah selesai menghadapi beragam persoalan sepanjang hidupnya. Bahkan juga setelah mati, masih menghadapi persoalan di dunia lain. Imanjinasi pengarang kreatif, melesat pula ke sana.*

(Bojonegoro, 21 Oktober 2010).-

Salam
Djajus Pete

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar