Senin, 18 Oktober 2010

= Ngobrol IVAA | ARTIST MERCHANDISING: Re-branding Seni Rupa

Time
Tuesday, October 19 · 4:00pm - 6:00pm

LocationIndonesian Visual Art Archive
Jl. Patehan Tengah no.37
Yogyakarta, Indonesia

Created By

More Info
Ngobrol IVAA
ARTIST MERCHANDISING: Re-branding Seni Rupa

Selasa, 19 Oktober 2010
16.00 WIB
di
Kantor-Perpustakaan IVAA
Jalan Patehan Tengah 37 Yogyakarta

Pembicara:
YUSTINA NENI (Kedai Kebun Forum)
AHMAD NOOR ARIEF (Aseli Dagadu Djokdja)
EKO NUGROHO (FFR+DGTMB)

Moderator:
FERDIANSYAH THAJIB

Sejak beberapa tahun terakhir fenomena Artist Merchandising dalam dunia seni rupa – setidaknya di Kota Yogyakarta – menjadi marak. Pengertian Artist Merchandising di sini merupakan produk yang dibuat oleh orang yang dikenal sebelumnya sebagai seniman (bukan orang yang sejak awal dikenal sebagai produsen), yang kemudian dipasarkan dalam format pameran seni rupa ataupun penjualan langsung (membangun toko atau tempat berjualan, termasuk di etalase art space/ruang pamer). Produk yang sudah lumrah berada dalam kategori Artist Merchandising, misalnya: toys art, emblem, fashion (t-shirt, tas, jaket, topi,…), postcard, pembatas buku, sticker, dll.
Di dalam skala kota, fenomena kehadiran Artist Merchandising ini sangat menarik. Fenomena Artist Merchandising menunjukkan keterkaitan perkembangan keterbukaan sebuah kota dengan percepatan moda transportasi, wacana citra sebuah kota, perkembangan media sekaligus menunjukkan bagaimana respon seniman bersinggungan dengan pasar yang global. Yogyakarta menjadi praktik Artist Merchandising yang menarik. Dan Yogyakarta telah menjadi kota tujuan bagi banyak orang di berbagai belahan dunia.
Artist Merchandising tidak lagi hanya sebuah produk, tetapi ia menjadi potret dari mata rantai ekonomi kota yang adaptif terhadap perubahan. Ia menjadi jendela untuk melihat perubahan dan perkembangan kota pada konteks makro, dan dunia seni rupa pada konteks mikro. Ia juga memunculkan banyak pertanyaan seperti: Benarkah seni rupa kembali ke bentuknya yang paling dasar di jaman super canggih ini, yaitu kembali kepada kerja kerajinan (craftmanship), justru ketika seni rupa semakin menjadi bidang yang lepas dari konteks sosial-politik masyarakat global? Isu atau wacana apa saja yang dihadirkan dari fenomena ini selain soal ekonomi? Bagaimana perkembangannya di Yogyakarta? Adakah akar-akar sosial budaya di Kota Yogyakarta yang menjadi tanah persemaian Artists Merchandising? Adakah pola historis yang bisa dipetakan untuk melihat kecenderungan ke depan? Bagaimana prediksi perkembangan Artist Merchandising di masa mendatang?
Kami mengundang anda: seniman dan pekerja kreatif, mahasiswa, ekonom, pelaku wirausaha, pemilik galeri, pekerja sosial, komunitas-komunitas anak muda, dan lain sebagainya,… untuk datang dalam acara Ngobrol IVAA “Artist Merchandising: Re-branding Seni Rupa”. Untuk itu IVAA mengundang 3 pembicara untuk berbagi cerita dengan peserta. Pembicara pertama, Yustina Neni dari Kedai Kebun Forum. Ia akan bercerita/sharing mengenai pandangannya terhadap Artist Merchandising dan bagaimana ia menginisiasi praktik Artist Merchandising selama ini. Pembicara kedua, Eko Nugroho, seorang seniman yang membuka ruang usaha Artist Merchandising yang bernama FFR dan DGTMB. Pembicara ketiga, Ahmad Noor Arief, Presiden Direktur PT. Aseli Dagadu Djokdja, yang akan menceritakan konteks pengalamannya ketika tahun 90-an ia membuka usaha DAGADU bersama teman-temannya.
Dalam acara tersebut akan diputar slideshow database online IVAA mengenai tema Artist Merchandising. Tak lupa, kopi teh dan camilan yang asyik sebagai teman ngobrol…
Yuk, silakan datang!
Kontak:
Yoshi Fajar Kresno Murti
0812 15 78398 (mobile)
0274-375247 (Kantor IVAA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar