Sabtu, 09 Oktober 2010

= Pameran Seni Rupa "Aja Dumeh"


Pameran Seni Rupa "Aja Dumeh"

Waktu
09 Oktober jam 19:30 - 16 Oktober jam 21:00
Tempat Taman Budaya Yogyakarta
Jl. Sriwedari No. 1, Gondomanan
Depok, Indonesia
Dibuat oleh:
Kuss Indarto
Info Selengkapnya
Kami mengundang Anda
untuk hadir pada pembukaan
pameran seni rupa "Aja Dumeh"

Sabtu, 9 Oktober 2010
...pukul 19.30 WIB
di Taman Budaya Yogyakarta
Jl. Sriwedani No. 1, Gondomanan,
Yogyakarta

Pameran menampilkan karya-karya lukis dari Marsekal Muda (Marsma) Sudjadijono, H. Totok Sudarto, dan didampingi oleh karya Ki Djoko Pekik

Pameran akan dibuka oleh Asisten Logistik KSAU Marsekal Muda B.P. Priyono


MC:
Deasy Natalee & Yaksa Olga Agus

Hiburan:
- Organ Tunggal "Waton Mawut" asu-han Hadi Soesanto
- Wayang kulit dengan dalang Ki Timbul yang bukan Hadiprayitno

>>

MARSEKAL Muda (Marsda) Sudjadijono, Kol. (purn.) H. Totok Sudarto, dan Ki Djoko Pekik hadir pada pameran ini dalam kapasitas masing-masing, dan tak bisa serta-merta “disatukan” satu sama lain. Artinya, ada sejarah, titik berangkat, dan orientasi yang berbeda satu sama lain dalam memandang dan masuk di dunia seni (rupa).

Dua nama pertama memiliki latar belakang pendidikan militer (angkatan udara), meniti karier militer hingga di level perwira tinggi. Sudjadijono yang hendak memasuki masa pensiun beberapa pekan mendatang, kini menyandang pangkat perwira tinggi dengan bintang dua di pundaknya, dan menjadi salah satu orang penting di Mabes TNI. Sedang Totok Sudarto meminta pensiun dini ketika karier militer merangsek terus hingga berpangkat kolonel untuk kemudian berganti haluan menjadi pejabat politik, yakni wakil bupati, di lingkungan birokrasi kabupaten Bantul. Sementara nama pamungkas, Ki Djoko Pekik—yang pernah mengenyam pengalaman kelam karena militer—menempati level tinggi dalam reputasi kesenimanannya yang telah dibangun sekurang-kurangnya dalam setengah abad. Pendakuan publik atas pencapaian dan prestasinya dalam jagad seni rupa telah melewati jalur akademik dan jalur pengakuan secara sosial.

Lalu, bagaimana Ki Djoko Pekik bisa mendampingi pameran dua perwira dan mantan perwira TNI AU ini? Bukankah seniman Lekra ini mengalami salah satu masa kelam dalam hidupnya ketika berhadapan dengan militer, khususnya angkatan darat?

Inilah salah satu titik penting dari hadirnya pameran ini. Dan inilah buah indah dari sikap legawa, sikap lega lila, kelapangdadaan seorang Djoko Pekik yang mampu mengatasi noktah hitam masa lalunya dengan bergabung pada pameran ini. Juga sebaliknya, bagi Totok Sudarto dan Sudjadijono, mereka tak hendak mewarisi kesumat institusionalnya di masa lalu. Melainkan justru memberi tauladan yang bijak dan dewasa untuk duduk bersanding dalam kebersamaan. Sebagai ritus sosial, inilah contoh konkret—meski kecil—untuk diingatkan kepada publik bahwa bangsa ini bisa didewasakan dengan praktik hidup bersama dalam level psikologis setara. Tak ada mantan wakil bupati, tak ada jenderal, tak ada seniman cemerlang yang mesti mempertontonkan kepongahannya masing-masing dalam satu forum. Tapi mencoba mengurai persoalan dalam spirit kebersamaan akan memberi warna lebih dalam sebuah pameran.

Maka, kalau Sudjadijono, Totok Sudarto, dan Ki Djoko Pekik bertemu dalam satu ruang dan forum kali ini, tentu ada banyak nilai ekstra-estetika yang menyembul darinya. Publik tentu bisa membaca lebih cermat dan cerdas atas pameran ini. Lalu di dataran filosofis, kalau kemudian perhelatan ini diikat dalam tajuk “Aja Dumeh”, spirit filsafat Jawa itu terasa kuat dan bisa dibaca lebih dalam secara bersama. “Aja Dumeh” (jangan mentang-mentang) menjadi kontekstual untuk menelusuri situasi sosial mutakhir. Dari perspektif Sudjadijono yang jendral berbintang dua aktif, kita bisa memberi tafsir bahwa “kita jangan mentang-mentang berkuasa lalu tidak mau turun ke bawah dan duduk bersama”. Dari sisi Ki Djoko Pekik, publik bisa mengandaikan tafsir bahwa “kita jangan mentang-mentang dengan kebintangan sebagai seniman yang kemudian serta-merta menciptakan jarak terhadap ruang sosial dan penghuninya yang selama ini turut mendukung proses kebintangannya”. Dan dari sisi Totok Sudarto, publik diandaikan bisa belajar untuk “jangan mentang-mentang (pernah) memiliki pengaruh, kekuasaan, dan pangelaman, maka tidak mau belajar banyak pada sesamanya”.Lihat Selengkapnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar