Sabtu, 20 Maret 2010

= ACTION'01

Jenis:
Waktu Mulai:
22 Maret 2010 jam 19:00
Waktu Selesai:
27 Maret 2010 jam 22:00
Tempat:
Taman Budaya Yogyakarta

Keterangan

Kelompok Angkatan, tak cuma makan hati Bung!




Oleh Mikke Susanto



Beberapa bulan yang lalu serombongan mantan mahasiswa datang ke rumah saya. Mereka dengan komitmen yang kuat dan idealisme yang tinggi ingin melakukan kerjasama antar teman seangkatan. Mereka ini adalah para perupa muda yang sedang gigih ingin menerobos belantara seni rupa yang hingar-bingar. Mereka ingin berpameran bersama dan ingin memberi kesan bahwa persahabatan selama menjadi mahasiswa tak lekang oleh suasana di luar kampus.
Tentu saja untuk tujuan tersebut mereka amat membutuhkan sebentuk motivasi. Kedatangan mereka ke rumah, selain menginformasikan kesan dan keinginan-keinginannya, tak lepas pula dari tujuan memotivasi diri. Mereka ingin melakukan uji ide dengan diskusi bersama. Akhirnya dalam diskusi tersebut termaktub persoalan yang kerap dihadapi oleh sebagian besar sebuah “kelompok”, yaitu perkara kepedulian terhadap proses kerja membuat/ merancang/ mengelola pameran.
Banyak diantara mereka yang sesungguhnya tak benar-benar berniat bekerja sebagai panitia. Maklum, mereka juga mantan mahasiswa yang lebih ingin berkarya, daripada sebagai organisator acara. Di luar masalah itu masih ada alasan bahwa mereka belajar di kampus diniatkan menjadi seniman, bukan dilahirkan sebagai pekerja/pelaksana teknis, seperti untuk menjadi kurator, event organizer atau art dealer.
Kehidupan kampus memang kerap memberi sesuatu yang berharga. Bukan perkara mendapatkan ilmu yang segudang, namun juga kehidupan sosial dan berkomunitas yang tak pernah sepi dari masalah. Seperti ilmu yang segudang tetapi hanya disalurkan sedikit oleh dosen-dosennya, berkomunitas juga memiliki sejuta pelajaran, namun jika diraih hanya dengan menunggu, kita hanya paham secuil saja mengenai hidup dan berkomunitas atau berkelompok.
Seperti halnya ilmu, berkelompok juga ibarat perpaduan perisai dan pedang. Dua mata membaur: sang lemah dan sang lebih menjadi satu. Kelemahannya adalah muncul batas antara penggagas-pelaksana-peserta. Kelebihannya adalah muncul kebersatuan hak yang saling mengisi. Berkelompok tentu bukan sekadar aksi kumpul-kumpul. Karena sebuah wujud yang paling hakiki dari masalah “berkelompok” ini adalah menghasilkan perangai.
Menggagas sebuah pameran lewat aktivitas berkelompok telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi setiap perupa. Konon, aktivitas berkelompok menjadi sebuah jalan yang paling jitu untuk melepangkan berbagai syarat dan tujuan. Bergerak dan menggerakkan pikiran dengan beban yang ditanggung oleh sebuah kebersamaan. Tanpa harus canggung untuk tampil sendirian. Mental seakan-akan terjalin antarsatu pribadi dengan pribadi lain dalam menghadapi khalayak.
***
Aktivitas kelompok dalam cerita dan sejarah seni rupa konon sangat beragam. Mulai dari aktivitas kelompok yang “dikelompokkan” dan yang “mengelompokkan” dirinya sendiri. Mereka yang “dikelompokan” tentu adalah sebuah aktivitas tanpa pikiran yang luruh dari perupanya sendiri. “Kelompok” mereka digerakkan oleh syak wasangka para penikmat, pengamat dan kritikus seni rupa dalam hal ini. Para seniman di dalamnya hanyalah sebuah objek sekaligus subjek untuk sebuah pola permainan, penanda, dan munculnya cerita-cerita.
Mereka, kelompok yang “dikelompokkan” mau tak mau akan dengan pasrah menerima syak wasangka tersebut (terutama untuk pencatatan sejarah). Mereka hidup--sekalipun tidak untuk dikelompokkan--akan tetap saja menjadi bayang-bayang munculnya aksi pengelompokan tersebut, misalnya atas periode waktu maupun kondisi, tempat, metode pemikiran maupun gaya visual yang berkembang.
Pikiran-pikiran perupa seolah menjadi tolok ukur keberagaman untuk memunculkan sebuah kelompok. Kadang-kadang sekalipun hidup di rentang zaman yang berbeda, bisa jadi perupa satu memiliki pikiran yang sama dengan perupa lain dan menjadi satu jalinan sebagai sebuah “kelompok”. Aksi-aksi pengelompokan semacam bisa jadi memang dapat dipakai untuk berbagai keperluan dari yang sangat khas seperti untuk pencatatan sejarah, sebuah kritik hingga hanya untuk sekadar mengolok-olok alias untuk keperluan asal ngomong atau gosip.
Salah satu contoh menarik muncul dalam sejarah seni rupa Jerman. Pemerintahan Hitler dengan semena-mena mengambil nama kelompok berdasarkan estetika yang berlawanan, yaitu munculnya Degenerate art (dari bahasa Jerman Entartete Kunst yang berarti “Seni Bobrok”). Kelompok ini merupakan sekumpulan seniman dan bentuk seni yang dikutuk oleh rezim Nazi, dimana nama ini diambil dari pameran keliling Partai Nazi 1937 yang memamerkan seni modern yang “sakit” dan “dekaden” (sebuah bentuk yang cocok dengan teori rasial Nazi). Karena pada dasarnya seni dengan konsep Realisme lebih diterima dan menjadi semangat dalam memperjuangankan konsep politik pemerintahan Jerman saat itu. Lainnya adalah sampah.
Sedang di Indonesia muncul kelompok pelukis Mooi-Indië. Nama ini diinisiasi oleh sejumlah pengamat pada karya-karya yang bernafas dan bertemakan keindahan Indonesia dari mazhab “Indisce Schilders” atau pelukis-pelukis Belanda dari tahun 1920-1938. Kelompok ini sendiri oleh tokoh seni lukis Indonesia, Sudjojono, dianggap sebagai bentuk sindiran pada pelukis borjuis. Mereka terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok pelukis Indonesia yang relatif kecil (seperti Abdullah Sr., Wakidi dan Mas Pirngadi) dan kelompok pelukis-pelukis berbangsa Eropa di Indonesia (seperti Ernest Dezentje, Locatelli, Rudolf Bonnet, Walter Spies, Le Mayeur, Gerard Pieter Adolfs, Jan Frank, Strasscher, dan lain-lain). Motif utama yang ditampilkan berkisar antara pemandangan alam, still-life, binatang dan potret manusia. Mereka melukiskan ketenteraman, ketenangan, bersih dan enak dipandang. Nama Basoeki Abdullah, anak dari Abdullah Sr., dianggap sebagai puncak keemasan masa Hindia Molek atau Mooi-Indië ini.
Namun aksi seniman untuk membuat sebuah kelompok juga gencar. Keinginan seperti ini tentu sangat mudah terjadi dan juga amat sering mengemuka. Aksi “mengelompokkan” diri semacam ini memiliki satu persamaan yaitu bila berhasil mencanangkan satu bentuk konsep pemikiran (baik secara konsep pemikiran maupun visual) maka dapat diperkirakan kelompok semacam ini akan menjadi sebuah tanda zaman. Mereka adalah tanda untuk melihat satu kecenderungan, bahkan dinilai akan melahirkan paham (aliran) atau konsep pemikiran baru yang nantinya menjadi penghasil dinamika dunia.
Dalam sejarah, pergumulan “mengelompokkan” diri bagi seniman telah dilakukan sejak beberapa tahun sebelum abad ke-20 dan dibuat untuk berbagai tujuan: mulai dari pendobrakan hingga angkat pikiran agar lebih berbeda. Seperti yang tampak pada kelompok die Brücke, kelompok penganut Ekspresionisme pertama yang lahir tahun 1905 di Dresden Jerman. Kelompok ini memiliki beberapa prinsip yaitu menggunakan warna-warna mencolok dan bentuk-bentuk yang mulai didistorsikan. Mereka sama-sama menimba pengaruh dari pelukis besar Paul Gauguin dan Van Gogh, namun orang-orang Jerman tersebut lebih menunjukkan kecenderungan ke pendalaman kejiwaan dan sementara itu juga menggali unsur-unsur lokal dan emosionalisme ala Gotik. Nafas primitif juga mewarnai karya-karya die Brücke yang diperolehnya dari kesenian Negro Afrika dan patung-patung Oseania. Organisasi ini pecah pada 1907 dan benar-benar hilang pada 1913 karena sebetulnya tidak didasari oleh persamaan ideologi melainkan karena hal-hal praktis saja.
Sedang dalam sejarah seni rupa Indonesia telah muncul pelbagai kelompok yang lahir karena aksi “mengelompok” diri seperti Persagi, SIM, Pelukis Rakjat, Gabungan Pelukis Indonesia (GPI), Pelukis Indonesia Muda (PIM), atau yang tergabung dalam aksi kelompok seniman pada jalur sosio-politik seperti Lekra, Lesbumi, LKN, dan lain-lain. Sampai pada tahun 60-an dengan munculnya sanggar-sanggar (Sanggarbambu dan Sanggar Bumi Tarung) dan akhirnya sampai pada Kelompok Seni Rupa Baru Indonesia yang berbasis pada aksi mendobrak kemapanan seni rupa kala itu dengan melahirkan pameran Gerakan Seni Rupa Baru yang penuh polemik.
***
Apa yang diberikan oleh para mantan mahasiswa ISI Yogyakarta angkatan 2001 yang sedang berpameran ini mungkin tak bertujuan muluk seperti yang tertera di atas. Dalam beberapa penelitian, wacana mengenai kelompok seni rupa memang tidak sekadar apa dan bagaimana kelompok tersebut eksis, tetapi juga mengenai banyak hal. Pameran kelompok angkatan semacam ini juga merupakan tipe tersendiri ketika membahas perihal kelompok seni rupa. Pameran model ini di kampus ISI Yogyakarta juga sudah sering diselenggarakan sejak tahun 70-an. Terlihat sekali bahwa pameran kelompok semacam ini bergerak hanya pada tataran ingin merekrut kembali rasa pertemanan, meraih suasana “masa pembelajaran” di kampus, ingin merasakan kembali bertemu dan berkumpul. Sehingga tajuk atau wacana berkelompok dalam hal ini telah menjadi perdebatan yang sering berakhir tanpa hasil yang memberikan nuansa berbeda antar satu angkatan dengan angkatan yang lain.
Meskipun demikian bukan berarti pameran angkatan ini tidak berguna. Kelompok atau pameran angkatan ternyata juga dapat dipakai untuk mengukur kemampuan individu yang ada di dalamnya. Lebih tepatnya mengukur dan memperbandingkan kemampuan antar individu untuk memperlihatkan prestasi “rata-rata kelas”. Siapa yang dianggap “rangking pertama” atau yang maju sebagai pioner? Siapa yang menjadi “biang keributan” atau memberi berita yang mencengangkan di kemudian hari? Atau siapa yang kemudian beralih menjadi profesi baru atau berhasil di lain bidang di luar kerja sebagai seniman?
Sembari menemukan jawaban itu semua, rupanya kita juga bisa menakar tingkat keberhasilan pameran sebuah kelompok. Ukuran apakah yang dapat dipakai untuk menakar kelompok ini berhasil? Meskipun dalam hal konseptual, pameran semacam ini tidak akan menghasilkan konsepsi yang kuat sebagai tolok ukur keberhasilan. Kelompok atau pameran angkatan semacam ini biasanya hanya mampu menghasilkan tampilnya individu secara frontal, tanpa mempedulikan individu lainnya.
Kelompok atau pameran angkatan 2001 ini misalnya setidaknya lebih diwarnai hadirnya beberapa individu yang mulai mengemuka dalam pentas seni rupa Indonesia seperti Made Wiguna Valasara, Ahmad Sobirin, Aidi Yupri, Mulyo Gunarso, Wayan Upadana, Yayat Lesmana, Choirudin, Lia Mareza, Cipto Purnomo sampai Giring Prihatyasono dan Doni Paul. Pada dasarnya mereka “disatukan” oleh konsep karya yang sama sekali berjauhan. Mereka membawa misi dan visi yang berbeda ke dalam sebuah ruang yang sama. Jadi catatan penting dari sebuah pameran angkatan semacam ini adalah terciptanya sebuah ruang yang secara fisik mewadahi, namun secara konseptual sesungguhnya mereka bertarung satu sama lain. Berbeda dengan konsep dan esensi berkelompok dalam arti yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu, pekerjaan menggagas pameran semacam ini bakal memakan hati pada pengelolanya. Keluhan para panitia pada saat berkunjung ke rumah dan mendiskusikannya menjadi curahan hati yang tiada habisnya. Sungguh ini bukan upaya untuk merongrong kebersatuan kalian yang sedang berpameran. Tetapi kalian adalah orang yang sedang terjebak dalam sebuah kolosium yang akan ditonton oleh publik dan diuji oleh keadaan. Sama-sama telanjang, tetapi memiliki kelamin yang berbeda dan beberapa diantaranya harus mati didalamnya. +++

Penulis adalah staf pengajar Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar