Senin, 05 April 2010

= Gelar Karya Tari Prof. Dr. RM. Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat [18 April, di Taman Budaya Yogyakarta]



Gelar Karya Tari Prof. Dr. RM. Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat [18 April, di Taman Budaya Yogyakarta]
Gelar Karya Tari Prof. Dr. RM. Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat “Sewindu Kenangan Manis’. Penyelenggara Contemporary Dance School ‘Wisnoe Wardhana’ dan didukung oleh Taman Budaya Yogyakarta

Pentas bakal diselenggarakan pada 18 April 2010, pukul 19.30 WIB-Selesai, bertempat di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta

Pimpinan Produksi Ir RM Condroyono M.SP, Sutradara Ray Wisnoe W. Suryodiningrat, Artistik Bimo Wiwohatmo-Kuncung Budiawan, Stage Manager Jujuk Prabowo, Dian Wahyu, Beni, Penata Iringan G Suprapto Hadi, Pelatih Tari Dra Ray MG Sugiyarti M.Hum, Drs HC. Mulyoharjo, Tata Cahaya Drs Hendro Martono M.Sn, Publikasi Eko Nuryono

MATERI TARI YANG DIPENTASKAN

1. Tari Bedhoyo ‘Suksma Adi Linuwih’
Karya tari ini merupakan karya terakhir Prof Dr RM Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat, tahun 2000. Tarian ini menggambarkan para bidadari yang melambangkan proses terjadinya alam semesta serta dunia seisinya.

Penari : Ray Wisnoe W. Suryodiningrat, Dr RA Sekar Djatiningrum Sp.Kk, Dra Ray MG Sugiyarti M.Hum, Dra RA Anggrita Sallestyani, M. Denok Dewi Wulandari Pamungkas Sari S.Pd, Ratih Dewayani S.Sn, Arjuni Prasetyorini.

2. Tari ‘Adik Bermain’
Tarian ini diciptakan tahun 1958 dan hanya diriringi dengan bonang tunggal. Isi taria ini menggambarkan anak dimasa lalu yang tengah bermain.

Penari : Evita Markandisari

3. Sendratari ‘Orang Kuat’
Tarian yang diciptakan tahun 1962 ini menggambarkan satire dramatis yang penuh lambang-lambang Jaka Tingkir yang sakti dan rupawan. Dia seorang panglima pasukan kerajaan Demak kala itu. Datanglah Daduk Awuk untuk melamar menjadi tamtama dan akhirnya tewas tertusuk sadak (gulungan sirih) dalam ujian sang Tingkir. Tarian ini kamufalase skandal, tokoh berbadan kuat sebenarnya adalah wanita calon permaisuri raja yang ternoda oleh Jaka Tingkir. Atas kesalahan itu pula, Jaka Tingkir dipberhentikan dari jabatannya.

Penari : RM Wiskara Jati Prasetya (Dadung Awuk), Eko Dwiyanto (Jaka Tingkir), Marsyiah, Empi Aryanti, Yunita Utami (Putri-putri).

4. Tari Balet ‘Riang’
Tari ini diciptakan tahun 1959. Gambaran dalam tari ini tentang suasan keriangan masa remaja yang penuh gairah dan rasa optimisme.

Penari : Dra RA Anggrita Sallestyani, RA B Paramita Naristina Widyastuti, Arjuni Prasetyorini, Joko Sudibyo

5. Tari ‘Yogaprana’
Gambaran tentang lahir-hidup-mati manusia yang coba digambarkan dalam tarian yang diciptakan tahun 1953 ini.

Penari : Dr RA Sekar Djatiningrum Sp.Kk,

6. Sendratari ‘Cinde Laras’
Dalam garapan ini menggambarkan Cinde Lara yang menitipkan telur ayam pada ular untuk dierami. Setelah akhirnya menetas, ayam jago itu dibawakanya ke kerajaan untuk ikut aduan. Ayam jago Cinde Laras akhirnya mampu mengalahkan ayam jago Raden Putro. Karena kalah, Raden Putro merasa penasaran dengan ayam jago Cinde Laras, apalagi ketika berkokok suaranya begitu unik. Dan ketika Raden Putro mencoba mengikuti Cinde Laras hingga rumahnya, ia terkejut begitu tahu ternyata tahu siapa ibunya Cinde Laras. Ibu Cinde Laras ternyata bernama Timun Emas, dan ia adalah istri Raden Putro sendiri. Betapa bahagianya akhirnya Cinde Laras bisa mempersatukan kedua orang tuanya. Tarian ini diciptakan tahun 1960.

Penari : Evita Markandisari (Cinde Laras), Ratis Dewayani (Raden Putro), RA B Paramita Naristina Widyastuti (Timun Emas), Ari Nugroho (Ayam Jago Cinde Laras), Andi Marwanto (Ayam Jago Raden Putro), Yuliana (Ular).

7. Tari ‘Nada Irama’
Tarian ini diciptakan tahun 1963, dengan iringan gamelan. Isi tarian ini merupakan interpretasi musikal secara bebas nada dan irama warna-warna suara instrumen, efeknya pada perasaan terepantul dalam sikap tubuh yang harmonis.

Penari : Ray Wisnoe W. Suryodiningrat

8. Tari ‘Mayuret Fon’
Tarian ini menggambarkan keelokan seekor burung merak. Tari ini diciptakan tahun 1964.

Penari : Dra Ray MG Sugiyarti M.Hum

9. Tari Srandul ‘Menak Kanjun’
Iringan yang digunakan mengiringgi tari yang diciptakan tahun 1964 ini rebana, tamborin dan vokal. Tari ini mengisahkan Wong Agung Menak Jayengrana yang dipenjara oleh Prabu Kanjun ditolong oleh dua putri salah satu adik Prabu Kanjun sendiri. Kedua Putri tersebut bermimpi bertemu Jayengrana dan berusaha mencarinya. Mengetahui Jayengrana dipenjara, kedua putri tersebut memberi pertolongan, tetapi berakhir setuju bekerjasama, keduanyta dipersunting Jayengrana. Prabu Kanjun yang semula marah-marah, akhirnya dilerai Umarmaya, karena tak urung akan menjadi iparnya.

Penari : RM Kharisma Saktya Dewangga (Prabu Kanjun), RM Wiskara Pramatatya (Jayengrana), Bakriyanto (Umarmaya), M. Denok Dewi Wulandari Pamungkas Sari Spd (Dyah Sirtui Pelaeli), Yunita Utami (Dyah Sudarawerti)

10. Tari ‘Manusia dan Kursi’
Tarian yang dicviptakan tahun 1964 ini dihadirkan tanpa menggunakan iringan. Tari ini merupakan sebuah pantomim yang menggambarkan hubungan manusia dan kursi. Kursi bukan hanya tempat duduk, tapi bisa bermacam ‘konotasinya’, antara lain sebagai simbol kekuasaan. Ada kursi empuk, ada kursi yang penuh kutu busuk, ada kursi goyang yang bikin angler yang duduk, tapi kalau kedudukan digoyang jadi stress. Ada manusia yang ditunggangi kursi (kedudukan), sehingga tidak bisa menjadi dirinya sendiri alian tidak punya jati diri. Dahulu orang buang hajad (BAB) jongkok, tapi kemajuan jaman, tidak lagi jongkok tapi kaya duduk dikursi. Hubungan manusia dan kursi memang sangat erat mungkin hampir separuh hidupnya dihabiskan bersama kursi, entah itu dikursi mobil, kursi pesawat, bahkan kursi pesakitan, dll.

Penari : Jujuk Prabowo

11. Tari Topeng ‘Sih Pie – Dewandini’
Tarian ini diciptakan tahun 1950 dan pernah pula dipentaskan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1990. Tarian ini menggambarkan pasukan Tartar yang dipimpin Jenderal Sih Pie berlayar dan mendarat di Jawa bertemu dengan prajurit Majapahit yang dipimpin Dewandini. Maka terjadilah peperangan dan akhirtnya dihentikan oleh Raden Wijaya, yang kemuadian menjadi raja Majapahit dan bergelar Brawijaya.

Penari : RM Wiskara Jati Prasetya (Sih-Pie), RM Pandu Subagyo (Dewandini). Prajurit Majapahit : RM Tejo Darmokusumo,Sp.MMA, Drs HC. Mulyoharjo, Sri Rangga, Suradiyana, Sukristianto, Daud Prananto Widagdo, Daniel Pranyoto Wibowo, Joko Sudibyo. Prajurit Tar-tar : RM Kharisma Saktya Dewangga, RM Wiskara Pramatatya, Eko Dwiyanto, Bakriyanto, Parjiyo, Sriyanto, Slametarno, Marsiyah, Empi, Sartini, Endang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar