Minggu, 11 April 2010

= Sewindu Kenangan Manis



Siaran Perss
“Sewindu Kenangan Manis’
-- Gelar Karya Tari Prof. Dr. RM. Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat


Penyelenggara Contemporary Dance School ‘Wisnoe Wardhana’ dan didukung oleh Taman Budaya Yogyakarta. Pentas bakal diselenggarakan pada 18 April 2010, pukul 19.30 WIB-Selesai, bertempat di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.


Acara ini menampilkan 11 karya tari Prof DR Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat. Karya tari yang sebagian besar diciptakan pada tahun 1960-an akan dientaskan di gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan ini untuk mengenang karya-karya beliau.

Prof DR Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrati terlahir sebagai putra GBPH Suryadiningrat dan juga sebagai cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Romo Wisnoe, sapaan akrab sehari-hari dari Prof Dr RM Ki Wisnoe Wardhana, merupakan seorang keturunan darah biru yang dilahirkan di lingkungan kraton Yogyakarta. Latar belakang sebagai putra bangsawan kraton, secara otomatis menjadikan tokoh ini sangat dihormati oleh masyarakat, khususnya di wilayah Yogyakarta. Apalagi beliau dikenal sebagai sosok yang sangat ramah, perhatian terhadap nasib wong cilik. Bahkan oleh mereka, beliau sering dijadikan simbol pengayom yang selalu menjadi panutan rakyat.

Kiprah Romo Wisnoe dalam jagad kesenian di Yogyakarta sangatlah besar. Selama hampir seluruh hidupnya, bahkan sampai akhir hanyatnya, beliau masih getol mengabdikan dirinya dalam dunia yang juga digeluti oleh ayahnya ini. Sejak muda, ia memang telah dididik oleh orangtuanya untuk menjadi seorang budayawan. Selain itu, ia juga dipersiapkan untuk meneruskan jejak ayahnya dalam mengelola sebuah sanggar kesenian Puser Widya Nusantara Jawa, yang berbasis masyarakat desa di Yogyakarta. Oleh sebab inilah, ia seakan dikucilkan oleh keraton Yogyakarta. Meskipun demikian, pengucilan tersebut tidak memupus tekad dan semangat beliau untuk terus duduk dan berjuang bersama dengan rakyat kecil.

Sebagai seorang budayawan besar di Yogyakarta, kehidupan beliau yang cukup sederhana merupakan salah satu keunikan tersendiri dari sosok ini. Sejarah mencatat, beliau tidak terlalu memprioritaskan kehidupan layaknya kehidupan para bangsawan keraton. Sebagaimana kita ketahui, kehidupan para bangsawan, tentunya sangat erat dengan kehidupan yang glamor dan memah. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan kehidupan beliau yang sederhana. Saking sederhananya, beliau tidak menjadikan sanggar yang dikelolanya sebagai sebuah alat ataupun pabrik penghasil uang. Konon katanya, dengan biaya Rp.9000, 00, seseorang yang ingin belajar kesenian di sanggar tersebut dapat belajar selama satu bulan serta mendapatkan makan. Tak ayal, masyarakat Yogyakarta yang gemar dengan kesenian tak merasa berat mengeluarkan biaya itu sehingga mereka berbondong-bondong untuk kursus di sanggar.

Sungguhpun demikian, sebagai seorang budayawan yang patut kita apresiasi lebih dari sosok beliau adalah cita-citanya agar budaya dan kesenian Jawa dapat berkembang lebih maju. Untuk mewujudkan cita-cita inilah beliau sempat menjadikan paguyubannya sebagai sebuah partai politik, yakni partai budaya bangsa nusantara.

Maka, tak salah apabila banyak orang Yogyakarta yang merasa kehilangan seorang sosok pengayom masyarakat ketika Romo Wisnoe meninggal dunia pada usia 72 tahun pada tahun 2002 lalu. Memang, menjelang wafatnya, aktivitas kesenian Romo Wisnoe tidak terlihat berkurang sedikitpun. Ia tetap terlihat sibuk dengan berbagai aktifitas kesenian di Yogyakarta. Akhirnya, sekelumit kisah sejarah kehidupan Romo Wisnoe ini, setidaknya dapat menjadi cermin diri bagi para pemimpin bangsa Indonesia mendatang. Menjadi seorang pemimpin rakyat hendaknya dapat mengayomi kehidupan orang kecil sebagaimana Romo Wisnoe yang selama hidupnya telah menjadi pengayom masyarakat.

Sie Media Publikasi
Eko Nuryono
087839935195


MATERI TARI YANG DIPENTASKAN

1. Tari Bedhoyo ‘Suksma Adi Linuwih’
Karya tari ini merupakan karya terakhir Prof Dr RM Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat, tahun 2000. Tarian ini menggambarkan para bidadari yang melambangkan proses terjadinya alam semesta serta dunia seisinya.

Penari : Ray Wisnoe W. Suryodiningrat, Dr RA Sekar Djatiningrum Sp.Kk, Dra Ray MG Sugiyarti M.Hum, Dra RA Anggrita Sallestyani, M. Denok Dewi Wulandari Pamungkas Sari S.Pd, Ratih Dewayani S.Sn, Arjuni Prasetyorini.

2. Tari ‘Adik Bermain’
Tarian ini diciptakan tahun 1958 dan hanya diriringi dengan bonang tunggal. Isi taria ini menggambarkan anak dimasa lalu yang tengah bermain.

Penari : Evita Markandisari

3. Sendratari ‘Orang Kuat’
Tarian yang diciptakan tahun 1962 ini menggambarkan satire dramatis yang penuh lambang-lambang Jaka Tingkir yang sakti dan rupawan. Dia seorang panglima pasukan kerajaan Demak kala itu. Datanglah Daduk Awuk untuk melamar menjadi tamtama dan akhirnya tewas tertusuk sadak (gulungan sirih) dalam ujian sang Tingkir. Tarian ini kamufalase skandal, tokoh berbadan kuat sebenarnya adalah wanita calon permaisuri raja yang ternoda oleh Jaka Tingkir. Atas kesalahan itu pula, Jaka Tingkir dipberhentikan dari jabatannya.

Penari : RM Wiskara Jati Prasetya (Dadung Awuk), Eko Dwiyanto (Jaka Tingkir), Marsyiah, Empi Aryanti, Yunita Utami (Putri-putri).

4. Tari Balet ‘Riang’
Tari ini diciptakan tahun 1959. Gambaran dalam tari ini tentang suasan keriangan masa remaja yang penuh gairah dan rasa optimisme.

Penari : Dra RA Anggrita Sallestyani, RA B Paramita Naristina Widyastuti, Arjuni Prasetyorini, Joko Sudibyo

5. Tari ‘Yogaprana’
Gambaran tentang lahir-hidup-mati manusia yang coba digambarkan dalam tarian yang diciptakan tahun 1953 ini.

Penari : Dr RA Sekar Djatiningrum Sp.Kk,

6. Sendratari ‘Cinde Laras’
Dalam garapan ini menggambarkan Cinde Lara yang menitipkan telur ayam pada ular untuk dierami. Setelah akhirnya menetas, ayam jago itu dibawakanya ke kerajaan untuk ikut aduan. Ayam jago Cinde Laras akhirnya mampu mengalahkan ayam jago Raden Putro. Karena kalah, Raden Putro merasa penasaran dengan ayam jago Cinde Laras, apalagi ketika berkokok suaranya begitu unik. Dan ketika Raden Putro mencoba mengikuti Cinde Laras hingga rumahnya, ia terkejut begitu tahu ternyata tahu siapa ibunya Cinde Laras. Ibu Cinde Laras ternyata bernama Timun Emas, dan ia adalah istri Raden Putro sendiri. Betapa bahagianya akhirnya Cinde Laras bisa mempersatukan kedua orang tuanya. Tarian ini diciptakan tahun 1960.

Penari : Evita Markandisari (Cinde Laras), Ratis Dewayani (Raden Putro), RA B Paramita Naristina Widyastuti (Timun Emas), Ari Nugroho (Ayam Jago Cinde Laras), Andi Marwanto (Ayam Jago Raden Putro), Yuliana (Ular).

7. Tari ‘Nada Irama’
Tarian ini diciptakan tahun 1963, dengan iringan gamelan. Isi tarian ini merupakan interpretasi musikal secara bebas nada dan irama warna-warna suara instrumen, efeknya pada perasaan terepantul dalam sikap tubuh yang harmonis.

Penari : Ray Wisnoe W. Suryodiningrat

8. Tari ‘Mayuret Fon’
Tarian ini menggambarkan keelokan seekor burung merak. Tari ini diciptakan tahun 1964.

Penari : Dra Ray MG Sugiyarti M.Hum

9. Tari Srandul ‘Menak Kanjun’
Iringan yang digunakan mengiringgi tari yang diciptakan tahun 1964 ini rebana, tamborin dan vokal. Tari ini mengisahkan Wong Agung Menak Jayengrana yang dipenjara oleh Prabu Kanjun ditolong oleh dua putri salah satu adik Prabu Kanjun sendiri. Kedua Putri tersebut bermimpi bertemu Jayengrana dan berusaha mencarinya. Mengetahui Jayengrana dipenjara, kedua putri tersebut memberi pertolongan, tetapi berakhir setuju bekerjasama, keduanyta dipersunting Jayengrana. Prabu Kanjun yang semula marah-marah, akhirnya dilerai Umarmaya, karena tak urung akan menjadi iparnya.

Penari : RM Kharisma Saktya Dewangga (Prabu Kanjun), RM Wiskara Pramatatya (Jayengrana), Bakriyanto (Umarmaya), M. Denok Dewi Wulandari Pamungkas Sari Spd (Dyah Sirtui Pelaeli), Yunita Utami (Dyah Sudarawerti)

10. Tari ‘Manusia dan Kursi’
Tarian yang dicviptakan tahun 1964 ini dihadirkan tanpa menggunakan iringan. Tari ini merupakan sebuah pantomim yang menggambarkan hubungan manusia dan kursi. Kursi bukan hanya tempat duduk, tapi bisa bermacam ‘konotasinya’, antara lain sebagai simbol kekuasaan. Ada kursi empuk, ada kursi yang penuh kutu busuk, ada kursi goyang yang bikin angler yang duduk, tapi kalau kedudukan digoyang jadi stress. Ada manusia yang ditunggangi kursi (kedudukan), sehingga tidak bisa menjadi dirinya sendiri alian tidak punya jati diri. Dahulu orang buang hajad (BAB) jongkok, tapi kemajuan jaman, tidak lagi jongkok tapi kaya duduk dikursi. Hubungan manusia dan kursi memang sangat erat mungkin hampir separuh hidupnya dihabiskan bersama kursi, entah itu dikursi mobil, kursi pesawat, bahkan kursi pesakitan, dll.

Penari : Jujuk Prabowo

11. Tari Topeng ‘Sih Pie – Dewandini’
Tarian ini diciptakan tahun 1950 dan pernah pula dipentaskan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1990. Tarian ini menggambarkan pasukan Tartar yang dipimpin Jenderal Sih Pie berlayar dan mendarat di Jawa bertemu dengan prajurit Majapahit yang dipimpin Dewandini. Maka terjadilah peperangan dan akhirtnya dihentikan oleh Raden Wijaya, yang kemuadian menjadi raja Majapahit dan bergelar Brawijaya.

Penari : RM Wiskara Jati Prasetya (Sih-Pie), RM Pandu Subagyo (Dewandini). Prajurit Majapahit : RM Tejo Darmokusumo,Sp.MMA, Drs HC. Mulyoharjo, Sri Rangga, Suradiyana, Sukristianto, Daud Prananto Widagdo, Daniel Pranyoto Wibowo, Joko Sudibyo. Prajurit Tar-tar : RM Kharisma Saktya Dewangga, RM Wiskara Pramatatya, Eko Dwiyanto, Bakriyanto, Parjiyo, Sriyanto, Slametarno, Marsiyah, Empi, Sartini, Endang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar