Jumat, 14 Mei 2010

= PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA 2010 MANIFESTO : "Percakapan Masa"


PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA 2010 MANIFESTO : "Percakapan Masa"


Type:
Music/Arts - Exhibit
Start Time:
Tuesday, May 18, 2010 at 7:30pm
End Time:
Monday, May 31, 2010 at 7:00pm
Location:
Galeri Nasional Indonesia
Street:
Jalan Medan Merdeka Timur 14
City/Town:
Jakarta, Indonesia

Undangan:

PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA 2010 MANIFESTO : "Percakapan Masa"

Kurator : Rizki A. Zaelani

Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 menampilkan karya-karya (lukisan, patung, seni grafis,
gambar, object, video art, fotografi, dan karya instalasi) yang dikerjakan oleh lebih dari 120 orang
peserta yang berasal dari 13 Provinsi di Indonesia serta karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional
Indonesia.

Acara Pembukaan :

Selasa : 18 Mei 2010
Waktu : 19.30 - selesai
Tempat : Galeri Nasional Indonesia,
Jln. Medan Merdeka Timur No. 14
Jakarta 10110

Pameran akan diresmikan oleh :
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Bapak Ir. Jero Wacik, SE

Peresmian pameran akan disertai dengan acara peluncuran buku
"Pameran Besar Seni Rupa Indonesia : MANIFESTO 2008"

Pameran terbuka untuk umum, 19 - 31 Mei 2010
Setiap hari pukul : 10.00 - 18.00 wib
informasi lengkap silahkan kunjungi : www.manifesto.web.id atau
telephon Rizki Ayu Ramadhana 021-34833954

______________________________________________________

PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA : MANIFESTO 2010

‘PERCAKAPAN MASA’



“Benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti
kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku
membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu?”

― RadharPanca Dahana, “Mozaik Indonesia Mencari Tradisi” (2007)

“Percakapan Masa” adalah rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan ‘102 tahun peringatan lahirnya semangat Kebangkitan Nasional Indonesia. Satu abad lebih tahun 1908 terlampaui, kini kita menghadapi perubahan dramatis era globalisasi dunia. Kemajuan budaya pada saat ini tak hanya mengubah cara kita mengenang perjalanan sang waktu tapi juga memperbaharui sikap kita ketika menimbang keberadaan ruang eksistensi kita. Teoritisi budaya kontemporer David Harvey menjelaskan fenomena globalisasi dunia saat ini sebagai kondisi ‘pemampatan ruang-waktu’ (time – space compression). Gejala ‘pemampatan ruang-waktu’ ini menawarkan pada kita berbagai cara perumusan ‘baru’ mengenai makna ruang ke-ada-an kita, eksistensi diri, termasuk soal makna ‘kebebasan‘ dan ‘kemandirian’ di tengah berbagai tantangan perubahan, kondisi perbedaan, dan ketidak-pastian akibat gejala ‘implosi’ (implosion), atau meleburnya berbagai sekat keyakinan, definisi, maupun persepsi yang telah terbangun secara ‘tradisional’.

Globalisasi dunia melalui kemajuan teknologi interaksi dan komunikasi tak hanya menciptakan bentuk pengalaman baru mengenai ruang keberadaan (dari pengalaman fisikal menjadi virtual); juga membentuk persepsi dan pemahaman baru mengenai perumusan pengalaman waktu yang tak hanya berlangsung kian cepat, tetapi juga seolah berlaku secara acak dan ulang-alik. Cara tafsir konvensional memahami rentang perjalanan waktu ibarat suatu garis lurus yang bergerak dari satu masa (disebut: masa lalu) ke masa sekarang hingga kemudian sampai ke masa depan. Proyeksi yang bersemangat demi menjelang harapan dan kemajuan masa mendatang itulah yang sering menciptakan kondisi masa kini yang berwatak tegang, bersaing, dan saling meniadakan sehingga masa silam, kemudian, dianggap kondisi yang telah lalu, mati, bahkan jadi beban yang harus disingkirkan. Namun pada arah sebaliknya, juga tak jarang, masa lalu dianggap sebagai tata nilai yang bersifat merumuskan dan jadi model penilaian yang menjanjikan keselamatan di masa kini bahkan dianggap rumusan mutlak demi menjawab segala tantangan masa mendatang. Mengingat gentingnya soal perubahan persepsi kita mengenai pengalaman waktu, maka ihwal ‘tradisi’ di era globalisasi justru menjadi risalah penting untuk terus-menerus ditimbang.

Catatan dalam pengalaman kita mengingatkan: ihwal temuan nilai ‘ke-baru-an’ pernah dibayangkan sebagai hasil perlawanan dan pemberontakan pada nilai-nilai masa lalu yang dianggap jadi bagian tradisi. Kini, perubahan persepsi mengenai pengalaman waktu mutakhir menyadarkan kita sadar, bahwa: soal terpenting di situ bukan demi merumuskan nilai mutlak ‘yang baru’ dibandingkan dengan ‘yang lama’; lebih dari pada ‘bagaimana keduanya bermaka dalam kaitannya’? karena cara ‘melawan’ atau ‘memberontak’ pada tradisi bukanlah satu-satunya cara bagi kita untuk alasan memahami kaitan bermakna antara masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Kritikus dan sejarawan seni Sanento Yuliman membayangkan ihwal nilai kebaruan itu sebagai situasi yang ‘berhutang’ pada situasi di masa lalu demi perkara proyeksi gambaran masa depan. Katanya: “(s)eandainya kita harus hidup dalam lingkungan yang segala-galanya baru dan asing, kita (ibaratnya kaum transmigran) akan menghadapi resiko kekacauan orientasi dan kehilangan gambaran diri. Dan apakah “diri” kita, kalau bukan sebuah gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya?”(1.

Ihwal soal masa lalu sering dianggap sebagai rujukan penting bagi orientasi kesadaran kira, toh juga kemudian tidak serta merta jadi segala pengertian yang seluruhnya ‘terang’, terjelaskan di dalamnya. Ihwal ‘tradisi’ misalnya, tak sepenuhnya selalu terjamin nilainya hanya karena berasal dari masa lalu. Pemerhati budaya Radhar Panca Dahana pernah mengajukan pertanyaan reflektif ihwal ‘tradisi’ ini, yang telah biasa dianggap sebagai bahan dan sumber rujukan penting bagi jalan perubahan dan kemerdekaan sikap yang sejati. Katanya: “benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu?”(2.

Pameran ini, “Percakapan Masa”, hendak menunjukkan berbagai representasi visual dari hasil pengalaman dialog para seniman saat kini dengan karya-karya yang telah dikerjakan seniman lain di masa sebelumnya ―karya yang saya maksud adalah karya-karya penting koleksi Galeri Nasional Indonesia. Dalam cara dan kecenderungan artistik masing-masing para seniman di masa kini tak hanya menghadapi karya-karya ‘masa lalu’ tersebut penampakan sebagai ragam bentuk dan kecenderungan artistik saja tetapi juga berbagai manifestasi intensi persoalan yang pernah dibayangkan para seniman sebelumnya. Secara teoritis pengalaman dialog semacam ini hendak menghadapi titik-titik artikulatif penting mengenai berbagai hal pada suatu masa, di masa lalu, di mana pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan. Ini tentu bukan soal menggambarkan kembali masa lalu, selain justru menemukan kesadaran ‘baru’ tentang maknanya yang penting terhadap pembentukan berbagai arah perubahan di masa mendatang. Saya mengundang para seniman untuk berinteraksi sambil menyisipkan atau bahkan menawarkan sikap-sikap dan persoalan-persoalan ‘baru’ dalam proses dialog mereka dengan karya-karya yang dikerjakan para seniman pendahulu mereka. Para seniman kini yang lebih terbiasa dengan perubahan serta pengalaman kecepatan waktu di saat ini diajak kembali bekerja sambil mengenang sikap Rabindranath Tagore, pemikir budaya yang pernah menyimpulkan, bahwa “waktu adalah sebuah kekayaan dari perubahan, tetapi jam waktu dalam parodinya menjadikan waktu hanya ibarat peralihan masa saja dan tanpa memiliki dimensi kekayaan nilainya”. Karya-karya yang dikerjakan oleh para seniman ini dengan demikian bisa sebagai manifestasi kesadaran reflektif, yang mencoba meraih kembali keyakinan secara penuh bahwa makna penting suatu masa berlaku bukan melulu sebagai penjumlahan bilangan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, bahkan dekade.

Pameran “Percakapan Masa” mengandung intensi untuk menemukan refleksi yang berharga yang mulai digali dari masa lalu. Bagi para seniman, nilai dan kesadaran penting itu muncul dan digugah dari berbagai tanda yang nampak pada karya yang telah dikerjakan para seniman sebelumnya; bagi kita yang menemukan kesadaran ‘baru’ di karya-karya para seniman itu, maka proses dialog kreatif yang tengah terjadi itu menjadi bekal inspirasi untuk menjelajahi pengalaman tentang perjalan waktu secara lebih bermakna. Percakapan semacam ini mencoba sejauh-jauhnya meraih makna dari ‘gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya”.

Berbagai indikator refleksi kesadaran-diri melalui ekpresi kesadaran [karya] seni ini hendak mengubungkan niat dari penyelenggaraan pameran dengan sikap ‘kesadaran nasional’. Dalam hal ini, proses serta aktivita ‘melihat’ (to see) bisa dianggap sebagai titik api bagi manifestasi ‘rasa sadar’ manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cara seseorang untuk mengenal dan mengetahui. John Berger, seorang teoritisi seni, mungkin benar menjalaskan pada kita, bahwa cara kita melihat materi atau berbagai benda dipengaruhi oleh segala yang kita tahu dan apa yang kita percayai mengenainya. Pada proses ini, sebenarnya, aktivitas dan kapasitas ‘melihat’ telah kita lakoni sebelum kita mengenal berbagai pengertian yang terbentuk dari konstruksi bahasa (kata-kata dan kalimat). Dengan demikan, apa yang kita maksud sebagai ‘sesuatu yang kita percayai’ pada prakteknya bukan hanya segala hasil yang kita pelajari secara bahasa: sebagai pengertian-pengertian, atau kesimpulan yang dilingkupi oleh kata-kata dan kalimat. Maka bagi Berger, aksi dan kapasitas kita dalam ‘melihat’ bukan melulu masalah reaksi manusia secara mekanis terhadap berbagai bentuk rangsang yang bersifat optikal. Dalam prakteknya, kita kemudian sebenarnya ‘melihat secara seksama’ (to look) yang secara teoritis bermakna sebagai ‘aksi untuk memilih’. Ihwal melihat secara seksama tentu bukan soal melihat suatu benda dengan satu titik pandangan secara tertentu, lebih dari praktek bagaimana kita justru melakukannya dengan cara menghubungkan benda tersebut dengan segala sesuatu yang kita pilih sebagai hal yang kita kenal, sesuatu yang kemudian secara kuat penghubungkan dengan diri kita sendiri. Berger menyakini, bahwa: “[dalam proses melihat secara seksama itu] visi kita secara menerus bisa aktif, bergerak, menerus menyangga bagaimana benda yang kita lihat tersebut tetap berada dalam lingkaran pemahamannya secara tersendiri, hingga membentuk apa yang dipresentasikannya kepada kita, sebagaimana juga kita mereflesikan diri kita sendiri”(3.

Rangkaian proses dialog, saya menyebutnya secara akrab sebagai ‘percakapan’, yang dilakukan oleh masing-masing seniman ini memang tak semuanya mudah untuk diikuti secara persis. Sebagian seniman melakukannya dengan memunculkan kembali tanda-tanda yang telah ada dalam karya-karya sebelumnya itu, sebagian lain ada yang hanya menjadikannya sebagai jalan masuk pada suatu persoalan (yang bahkan seakan mengajak karya dari masa lalu itu, berlaku bagi persoalan di masa kini), bahkan beberapa seniman berupaya menggali lebih dalam lagi instensi penciptaan para seniman di masa lalu menjadi ragam artikulasi artistik dan estetik di masa kini. Dalam hal ini, baik para seniman maupun para penikmat dan pengamat, saya rasa, setuju pada kesimpulan yang diajukan Berger, bahwa: “(s)egera, setelah kita bisa melihat, kita menjadi sadar bahwa kita juga bisa dilihat”(4. Saya yakin, berbagai tanda hingga tema-tema persoalan yang ada pada penciptaan karya-karya di masa lalu tak hanya berlaku sebagai sumber rangsangan yang melulu bersifat optikal saja, selain justru berlaku sebagai pesan, tuturan, atau rangkaia keyakinan yang direpresentasikan melampaui berbagai bentuk kesimpulan yang bisa diformulasikan oleh bahasa tuturan atau penulisan.

Pameran ‘Percakapan Masa’ mengundang percakapan pengalaman dan penafsiran para seniman di masa kini melalui beberapa pokok risalah penting, menyangkut soal-soal yang saya golongkan sebagai: (i) KEJADIAN (Event); (ii) SITUASI (Circumstance);KEADAAN RINCI (State of the Detail); serta (iv) POTRET (Portaiture) yang tak bisa hanya kita anggap sebagai ragam tema penciptaan karya saja. Risalah-risalah pokok itu, dalam bayangan saya, bisa juga dianggap sebagai manifestasi berbagai intensi, perhatian, bahkan mood para seniman pada suatu masa mengenai berbagai persoalan hidup dan ekspresi sikap budaya. Risalah-risalah itu kemudian secara teknis jadi tema-tema percakapan yang disodorkan bagi para seniman kini, berlaku sebagai pokok pembahasan yang berasal dari titik-titik waktu di masa lampau yang bisa dilihat secara seksama demi pemahaman dan apresiasi pokok-pokok perubahan dan persamaannya di masa kini.

Bandung, Mei 2010

Rizki A. Zaelani / kurator


CATATAN:

1. Sanento Yuliman, “Yang Modern dan Yang Antik”, dalam Asikin Hasan, ed. DUA SENI RUPA: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman (Jakarta: Yayasan Kalam, 2001), hlm.34
2. Radhar Panca Dahana,
3. John Burger, Ways of Seeing (London: Penguin Book, 1972), hlm. 8-9.
4. Ibid. (hlm.9)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar