Rabu, 26 Mei 2010

= Pameran Tunggal “Totem Dan Reliabilitas” Greg Sindana, Kritik Greg Terhadap Segenap Rekonstruksi Realitas

Info dari :

Invani Lela Herliana


Butuh keseriusan untuk memaknai karya-karya artistik seorang Greg Sindana yang memang mempunyai pemikiran tentang seni yang idealis dan dalam. Coba tengok karya-karya seni Greg Sindana yang dipamerkan dalam pameran tunggalnya yang bertema “Totem dan Reliabilitas” yang menempel di dinding di Ruang Budaya Griya Lentera pada 21-27 Mei ini.

Greg Sindana memamerkan banyak sekali bentuk gambar mata dibuat dari kertas-kertas tak terpakai dan spidol atau boardmarket. Bentuk-bentuk mata itu banyak yang dibuat sendirian dan cukup besar ukurannya. Greg juga menampilkan gambar mata dalam bentuk kecil yang berada di dalam bidang-bidang tertentu dengan diberi bingkai (alas gambar) kertas pula. Inilah yang disebut Greg sebagai “teks”.

Di sisi dinding ruang pamer yang lain, di tengah gambar bentuk-bentuk mata itu ditulisi kata “totem” dengan huruf besar semua. Gambar bentuk mata itu diantaranya berwarna merah menyala dan besar. Beberapa diantaranya berwarna hitam dan begitu kecil bentuknya.

Pada sisi dinding ruang pameran yang lain, Greg menggambar huruf I (i besar) dan tulisan Jawa berbunyi "ingsun" dengan beberapa gambar mata berukuran besar di dekatnya. Di dekat tulisan itu pula digambar bentuk-bentuk mata berukuran kecil yang berada di dalam bentuk-bentuk bidang.

Agak susah untuk menamai bentuk-bentuk bidang-bidang yang menjadi tempat gambar bentuk-bentuk mata itu berada. Tapi Greg mempunyai pemaknaan sendiri dengan kehadiran bentuk-bentuk mata dalam karyanya ini.

Tentang gambar huruf i besar yang bersanding dengan tulisan Jawa berbunyi "ingsun" ini, Greg sedang menerangkan tentang keberadaan dari abjad, bahasa dan tulisan yang sudah merekonstruksi realitas yang tidak disadari orang.

“ Tulisan I itu dalam bahasa Inggris artinya aku. Tapi dalam tulisan Jawa menjadi banyak sekali tulisan yang harus muncul dan bunyinya pun sudah berbeda ketika I dalam bahasa Inggris berarti aku tapi dalam bahasa Jawa disebut ingsun,” terang Greg.

Pada pemahaman yang lebih besar, Greg menambahkan, konsep tentang demokrasi lalu humanisme tiba-tiba pada jaman sekarang menjadi sesuatu yang benar. Lalu siapa pihak yang menjadikan sesuatu itu benar? Greg Sindana memunculkan gambar mata itu sebagai “diri” yang melakukan konstruksi atas realitas ini.

Bentuk-bentuk mata itu adalah pengetahuan yang menumpuk, yang melahirkan asumsi-asumsi, ketakutan-ketakutan yang seakan nyata bahkan menutupi kejujuran yang nurani sifatnya dari generasi ke generasi.

Tumpukan-tumpukan inilah yang kemudian menjadi totem yang berarti pesan yang sudah “jadi” didalam pikiran sehingga pikiran menjadi penuh dengan totem berhala yang menghimpit. Ibarat mata air yang sederhana kemudian menjadi keruh.

Rekonstruksi realitas ini hasil dari membaca terus menerus, kemudian didialogkan hingga berubah menjadi pengetahuan, nilai, kekangan bagi manusia yang menciptakan rekonstruksi realitas itu hingga kemudian berubah menjadi mata yang mengawasi sang pencipta rekonstruksi realitas itu.

Totem atau pesan dari rekonstruksi realitas ini kemudian, pada pandangan Greg, menjadi sesuatu yang reliabilitas atau, mempunyai kemampuan untuk bisa dipercaya sehingga seolah-olah hal-hal baru yang berada di luar logika yang sudah baku tidak bisa lagi dipercaya.

Dalam pemaknaan yang lebih gampang, Greg Sindana menuliskannya dalam tulisan pameran sederhananya, bahwa pameran tunggal “Totem Dan Reliabilitas ini (kalaulah itu bisa disebut sebagai pameran) ingin mengajak kembali pada diri sendiri sekaligus kita semua untuk melihat kesemena-menaan penamaan, pengotakan yang terjadi pada rekonstruksi realitas atas realitas-realitas hidup yang ada.

“Pameran ini, katakanlah demikian, mengajak kembali pada diri sendiri mengajak kita melihat kesemena-menaan penamaan dan pengotakan realitas,” ujar Greg.

Dapat pula dipetik pemahaman, bahwa karya-karya yang dipamerkan Greg pada pameran tunggalnya kali ini adalah upaya Greg merealisasikan pemahaman berkesenian yang ia pegang. Bagi Greg, seni adalah mengolah energi, tunduk-patuh (manembah), politis dan memberontak. “Seni saat ini begitu terpisah dengan kehidupan. Seni bagi saya sebutlah seperti pada saat saya mandi,” ujar Greg.
(The Real Jogja/joe)

dapat diunduh lebih lengkap di
http://jogjanews.com/2010/05/22/pameran-tunggal-totem-dan-reliabilitas-greg-sindana-kritik-greg-terhadap-segenap-rekonstruksi-realitas/
Seorang pengunjung memperhatikan beberapa karya Greg Sindana berupa tulisan dan gambar bentuk mata yang dimaknai Greg sebagai sebuah bentuk dari rekonstruksi realitas yang tak disadari manusia.
Greg memamerkan karya bentuk-bentuk mata dengan menggambarnya pada dinding Ruang Budaya Griya Lentera.
Gambar-gambar berbentuk mata yang sendirian dan ada juga yang berada di dalam bidang ini adalah "teks" tentang pengetahuan yang bertumpuk-tumpuk yang merekonstruksi realitas yang pada banyak hal dipercayai begitu saja oleh orang-orang.
Gambar bentuk mata ini adalah "Totem" atau pesan dari rekonstruksi realitas yang bisa ditangkap dan dipercayai orang-orang.
Dari "Totem" atau pesan ini kemudian membentuk "reliabilitas" atau sesuatu yang sangat bisa dipercaya sehingga menghilangkan hal-hal baru diluar logika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar