Selasa, 03 Agustus 2010

= Let's Fly an Arrow Exhibitions


Let's Fly an Arrow Exhibitions

Time
Saturday at 7:30pm - August 21 at 8:00pm

LocationTujuh Bintang Art Space
Jl Sukonandi 7
Yogyakarta, Indonesia

Created By

More Info
Let’s Fly an Arrow
Spirit Mengubah Persepsi dan Provokasi Kreatif

Tujuh Bintang Art Space
7 - 21 Agustus 2010

Artists :
Afdhal | Agus Triono | Andi Laghost | Angga Aditya Atmadilaga | Bambang Supriyadi | Baskoro Latu | Budi Agung Kuswara | Dani ‘King’ Heriyanto | Deden FG | Dedy Maryadi | Dedy Sufriadi | Desrat Fianda | Dhomas Yudhistira | Dwi Rustanto | Arya Sucitra | I Made Adinata Mahendra | I Wayan Legianta | Imam Abdillah | Ivan Yulianto | Kadek Agus Mediana | Mulyo Gunarso | Nugroho Heri Cahyono | Pande Nyoman Alit Wijaya Suta | Purwanto | Suparyanto |
Untung Yuli Prastiawan | Widhi Kertiya Semadi | RB Setiawanta

Kurator
Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Pembukaan :
7 Agustus 2010 pukul 19:30 WIB

Dibuka Oleh :
Entang Wiharso

Performance :
Hadi Soesanto SE

Anak layaknya sebuah anak panah dan orang tua sebagai busurnya. Biarkan anak panah itu melesat dari busurnya bersama impian-impiannya karena sesungguhnya ia tahu persis alamat yang dikehendakinya. (Kahlil Gibran)
Bagai anak panah yang lepas dari busurnya, demikian Apollo dikisahkan sebagai dewa pertama ahli panah yang mengajar manusia seni pengobatan dan penyembuhan termasuk lewat musik. Ia dianggap membantu manusia mencapai potensi sepenuhnya dengan anugerah pencerahannya. (dalam Mitologi Yunani & Romawi)

Transformasi Spirit Kreatif atas Perceptual Images
Panah telah berabad-abad dijadikan ikon maupun simbol tertentu bagi sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, kemudian panah menjadi metafora untuk mengartikulasikan pesan dan pencitraan tertentu. Meminjam mitologi Yunani kita segera menemukan perihal ‘panah’ sebagai subjek kajian. Apollo ‘Dewa cahaya’ merupakan dewa yang memiliki banyak keahlian; ahli musik, pemanah, pengobatan, dan penyair (seniman). Ia merupakan anak Zeus dan Leto sekaligus saudara kembar Artemis. Ramalan Orakel Delphi menunjukkan bahwa Apollo adalah salah satu dewa terpenting di Olimpus. Apollo, Dewa perbuatan, musik dan penyembuhan yang memberikan kebijaksanaan sebagai perantara antara dewa dan manusia. Dengan kepandaian yang tinggi, bagai anak panah yang lepas dari busurnya, dikisahkan dia adalah dewa pertama yang mengajarkan manusia seni pengobatan dan penyembuhan termasuk lewat musik. Ia dianggap membantu manusia mencapai potensi sepenuhnya dengan anugerah pencerahannya. Selama perang Troya, dipercaya bahwa Apollo berpihak dan menolong prajurit Hector di medan perang.

Sedangkan Artemis, saudara kembar Apollo dikenal sebagai dewi hutan dan perbukitan, digambarkan ia selalu membawa busur dan anak panah. Rusa dan pohon siprus dikeramatkan baginya. Artemis (Dewi berburu) merupakan dewi suci bagi pemburu dan pelindung kaum muda yang tengah mengatur masa depannya. Saudara kembar Apollo ini piawai dalam memanah melebihi semua dewa di Gunung Olympia. Panah yang dilepaskannya memberikan impresi sebuah pelepasan keputusan-keputusan pentingnya, pesan ini dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasannya dalam mengambil keputusan-keputusan yangdapat dijadikan inspirasi kreatif bagi seorang perupa untuk memanifestasikan berbagai kegelisahan kreatifnya dengan menggelandang gagasan-gagasan gilanya.

Satu dari sekian banyak kisah dari mitologi Yunani tersebut membangun persepsi ‘panah’ sebagai metafora yang sesungguhnya memiliki kelekatan dengan spirit daya hidup dan optimisme. Kita semua diajak menata kembali pentingnya visi ke depan dengan tetap menjaga intensitas kreatif, karena kekuatan inilah yang dapat melesatkan impian-impian kita ke depan. Kita berharap para perupa tetap mengartikulasikan ikon-ikon visioner untuk menerabas kebuntuan-kebuntuan dan segera menemukan kekuatan-kekuatan potensial sebagai individu kreatif. Let’s Fly an Arrow mengisyaratkan kita pada teks Let’s Fly The Future Arrow atau Releasing The Arrow of The Future, itulah sepenggal kalimat motivasi yang nyaris tak pernah kita jumpai sebagai teks, namun biasa melesat-lesat dalam alam bawah sadar ketika kita berada di tepi keragu-raguan. Sejatinya kalimat semacam ini dapat diartikulasikan dengan presentasi yang berbeda-beda di setiap konteks budaya. Juga terjadi pada epos bharatayudha sering munculnya adegan-adegan yang berkaitan dengan panah yang memanifestasikan sejumlah nilai filosofis kehidupan.

Pencermatan terhadap fenomena apapun senantiasa bergantung pada seberapa mampu seseorang melakukan transformasi spirit dari nilai mitologi ke dalam semangat kreativitas kontemporer. Penggalian spiritual sesungguhnya memiliki aspek nilai tawar khusus bagi seseorang untuk pencapaian sebuah proses identifikasi yang menandai kerja kreatifnya. Sebagian besar peserta pameran saat ini memiliki kapasitas kreativitas dan intelektualitas yang memadai untuk melakukan transformasi gagasan intelektualnya atas respon fenomena estetik.

Selamat Mengapresiasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar